Di sebuah sudut kota Solo, Jawa Tengah, ketika senja mulai turun dan lampu-lampu jalan menyala satu per satu, Nunung duduk termenung di salah satu kursi kayu di kedai makannya. Meja-meja yang biasanya penuh dengan tawa para pelanggan, malam itu tampak lengang. Hanya ada satu dua tamu yang datang, memesan sepiring nasi, lalu pergi tanpa banyak bicara. Perempuan yang dikenal luas sebagai komedian itu menghela napas panjang, menatap ke luar jendela, dan mulai mengisahkan perjalanan bisnis kulinernya yang kini berjalan di tempat.
"Kalau soal usaha, saya nggak pernah diam. Tapi kadang hati ini rasanya capek juga," ujarnya dengan suara pelan, hampir seperti bisikan. Momen mengharukan itu terjadi bukan di atas panggung hiburan yang biasa ia jajaki, melainkan di sebuah ruang sederhana berukuran tak lebih dari empat kali lima meter, tempat ia berjuang menghidupi mimpi dan karyawannya.
Ketika Pengunjung Mendadak Menghilang
Nunung mengisahkan bahwa usahanya di bidang kuliner sudah ia rintis sejak beberapa tahun lalu. Ia mengaku memilih Solo sebagai tempat membuka cabang karena merasa kota itu punya ikatan batin yang kuat dengan dirinya. Namun belakangan, ia merasakan ada perubahan yang sulit dijelaskan. Pengunjung yang tadinya ramai, tiba-tiba saja sepi tanpa kabar. "Tiba-tiba kosong. Bukan karena masakannya habis, bukan karena tutup. Orang aja yang nggak datang," tuturnya sambil tersenyum pahit.
Ia mengaku sudah mencoba berbagai cara untuk menarik kembali pelanggan. Mulai dari menurunkan harga, menambah menu, hingga berkeliling kampung untuk promosi dari mulut ke mulut. Tapi hasilnya belum sesuai harapan. "Saya bukan orang yang gampang menyerah. Tapi saat melihat kursi-kursi ini kosong, rasanya ada yang menusuk di dada," kata Nunung, matanya berkaca-kaca.
"Saya bukan orang yang gampang menyerah. Tapi saat melihat kursi-kursi ini kosong, rasanya ada yang menusuk di dada."
Kisah yang Tak Banyak Diketahui Orang
Di balik layar kehidupan panggungnya yang penuh tawa, Nunung menyimpan cerita yang jarang ia bagi ke publik. Ia mengaku sempat menjadi korban perbuatan orang yang tak bertanggung jawab, termasuk pengalaman pahit yang membuatnya harus berurusan dengan hal-hal yang jauh dari dunia hiburan. "Ada orang yang tega memperlakukan saya dengan cara yang nggak pantas. Saya sempat dilempar tanah kuburan. Itu bukan lelucon," ujarnya dengan nada serius, menunjukkan sisi rapuh yang jarang terlihat.
Meski begitu, ia memilih untuk tidak larut dalam kemarahan. Baginya, air mata yang jatuh justru menjadi bahan bakar untuk bangkit kembali. "Saya menangis bukan karena lemah. Saya menangis karena saya masih manusia," ucapnya penuh makna. Ia pun bertekad untuk terus membangun usahanya, meski harus merangkak dari awal.
Mimpi Kecil yang Tak Pernah Padam
Di kedainya, ada beberapa karyawan yang setia membantu. Mereka adalah alasan Nunung tetap bertahan. "Kalau saya menyerah, mereka mau makan apa? Mereka sudah seperti keluarga," katanya. Ia bercerita bahwa setiap pagi ia masih menyempatkan diri datang lebih awal, menyiapkan bumbu, dan memastikan semua hidangan layak disajikan. Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatannya.
Ia berharap suatu hari nanti kedainya kembali ramai seperti dulu. "Saya ingin melihat orang-orang tertawa lagi di sini. Saya ingin dengar suara sendok dan garpu beradu, itu musik paling indah buat saya," ujarnya sambil tersenyum tipis. Nunung menyadari bahwa perjalanan kuliner ini bukan hanya soal untung rugi, tetapi tentang inspirasi dan mimpi yang ia titipkan pada setiap piring yang disajikan.
Kisah Nunung adalah potret kecil dari banyak pelaku usaha di negeri ini yang berjuang dalam sunyi. Mereka tak selalu tampil di layar kaca, tapi keberanian mereka untuk terus melangkah meski sepi adalah bentuk kepahlawanan sehari-hari yang layak kita hargai. Dan di sudut kota Solo itu, di antara meja-meja kayu yang menunggu tamu, Nunung masih berdiri tegak, percaya bahwa badai pasti berlalu.
Comments (0)