Oct 10, 2026
entertainment

Di Balik Pintu Toilet Senopati, Sashfir Berjuang Melawan Trauma

Toilet itu terlihat biasa. Cat dindingnya putih, lampunya temaram, dan gagang pintunya seperti yang ada di restoran mana pun di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Namun di balik pintu itu, pada suatu ...

Di Balik Pintu Toilet Senopati, Sashfir Berjuang Melawan Trauma

Toilet itu terlihat biasa. Cat dindingnya putih, lampunya temaram, dan gagang pintunya seperti yang ada di restoran mana pun di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Namun di balik pintu itu, pada suatu sore di bulan April lalu, Sashfir mengalami salah satu momen paling mengguncang dalam hidupnya. Sebuah kamera kecil, yang dipasang diam-diam tanpa sepengetahuannya, merekam setiap gerak tubuhnya.

"Saya enggak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi di tempat yang saya kira aman," ujarnya dengan suara bergetar, mengenang peristiwa yang membuatnya terus waspada selama berbulan-bulan. Bagi Sashfir, momen di toilet restoran itu bukan sekadar insiden. Ia menjadi titik yang mengubah cara pandangnya terhadap rasa aman di ruang publik.

Momen Mengharukan Ketika Keberanian Itu Muncul

Mengisahkan perjalanannya, Sashfir tidak langsung menyadari apa yang terjadi. Ada perasaan aneh, semacam firasat yang membuatnya menoleh ke sudut ruangan berukuran 2x2 meter itu. Matanya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada: sebuah benda mungil yang mengarah tepat ke dirinya.

"Saya sempat membeku. Antara mau teriak, lari, atau pura-pura tidak tahu. Semuanya campur jadi satu," tuturnya. Namun ia memilih untuk tidak diam. Dengan tangan gemetar, Sashfir mengambil gambar barang bukti itu dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak restoran serta orang-orang terdekatnya.

Di balik layar, keputusannya untuk berbicara bukan hal mudah. Rasa malu, takut tidak dipercaya, dan bayang-bayang stigma menghantuinya. Namun ia sadar, jika ia mundur, akan ada perempuan lain yang menjadi korban berikutnya. "Saya enggak mau rasa takut ini diwariskan ke orang lain," tegasnya.

Ketika Ruang Publik Terasa Tak Lagi Aman

Kisah Sashfir menyentuh banyak orang, terutama perempuan yang pernah merasakan hal serupa. Pelecehan seksual berupa voyeurisme memang sering dianggap remeh oleh sebagian orang, padahal dampaknya bisa sangat panjang. Korban kerap dilanda kecemasan, sulit tidur, bahkan kehilangan rasa percaya pada orang asing.

Dewi Novita, seorang psikolog klinis yang menangani kasus serupa, menjelaskan bahwa pemulihan korban voyeurisme membutuhkan waktu. "Trauma karena direkam tanpa izin itu nyata. Ini bukan soal lebay atau tidak, ini soal batas tubuh seseorang yang dilanggar," ungkapnya.

Sashfir sendiri mengaku masih berjuang bangkit hingga kini. Ada hari-hari ketika ia enggan keluar rumah, ada pula hari di mana ia memaksa dirinya tersenyum di depan orang banyak. "Air mata itu sudah saya habiskan. Sekarang saya mau belajar berdiri lagi," katanya pelan.

Mimpi Kecil yang Ingin Ia Perjuangkan

Dari peristiwa pahit itu, Sashfir justru menemukan mimpi baru: mengampanyekan kesadaran tentang pelecehan di ruang publik. Ia ingin tempat-tempat umum seperti kafe, restoran, dan pusat perbelanjaan lebih sigap memeriksa dan memastikan keamanan toilet mereka.

"Saya berharap tidak ada lagi yang harus mengalami ini. Kalau perlu, setiap pintu toilet jadi tempat yang benar-benar aman," ujarnya penuh harap. Inspirasi dari kisahnya kini mengalir ke banyak pesan dukungan dari orang-orang yang mengaku berani bersuara setelah mendengar ceritanya.

Perjalanan Sashfir belum selesai. Namun ia memilih untuk terus melangkah, dengan luka yang perlahan mengering dan keberanian yang tumbuh dari rasa takut yang pernah ia rasakan. Sederhana, tetapi menyentuh: ia hanya ingin pulang dengan rasa aman, seperti semua orang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User