Oct 11, 2026
entertainment

Di Balik Layar Kontroversi The Assassin(s) di Busan

Di sebuah ruang konferensi pers yang terasa hening, di salah satu sudut gedung Busan International Film Festival (BIFF), seorang juri menunduk sejenak sebelum menjawab pertanyaan. Bukan pertanyaan rin...

Di Balik Layar Kontroversi The Assassin(s) di Busan

Di sebuah ruang konferensi pers yang terasa hening, di salah satu sudut gedung Busan International Film Festival (BIFF), seorang juri menunduk sejenak sebelum menjawab pertanyaan. Bukan pertanyaan ringan, melainkan soal tuduhan yang mengguncang salah satu film yang tengah bersinar di festival tersebut: The Assassin(s). Di ruangan itu, di antara kilat lampu kamera dan suara jurnalis yang saling bersahutan, para juri memilih berdiri di sisi yang jarang terdengar—membela karya yang dianggap kontroversial.

Sebuah Malam yang Tak Pernah Direncanakan

Seharusnya, malam itu menjadi puncak perayaan bagi tim produksi The Assassin(s). Namun, apa daya, ketika sorotan berubah arah, yang tersisa hanyalah bisik-bisik di lorong festival. Ada yang mempertanyakan pilihan narasi, ada yang menyoroti adegan tertentu, dan tak sedikit yang menghubungkannya dengan isu yang lebih besar dari sekadar film. Di balik layar, para pemain dan kru mengisahkan perjalanan panjang mereka—tentang denyut jantung di lokasi syuting, tentang air mata yang jatuh di ruang editing, tentang mimpi sederhana agar cerita mereka sampai ke penonton.

"Kami tidak pernah membayangkan ini akan menjadi badai," ujar salah satu anggota tim produksi yang enggan disebut namanya. "Yang kami tahu, kami hanya ingin bercerita. Sekarang, kami belajar bahwa bercerita pun butuh keberanian."

Ketika Juri Memilih Pasang Badan

Di tengah tekanan publik dan arus opini yang tak terbendung, dewan juri BIFF memutuskan untuk angkat bicara. Mereka bukan sekadar menonton, melainkan menggali makna di balik setiap frame. Bagi mereka, The Assassin(s) adalah potret manusia yang berjuang antara benar dan salah, bukan sekadar provokasi visual. Dalam pernyataannya, para juri menyentuh sisi yang jarang dibahas: bahwa di balik kontroversi, ada kerja keras, ada rasa takut yang harus dilawan, dan ada keberanian untuk bangkit dari kritik.

"Film ini bukan tentang membenarkan tindakan, tetapi tentang memahami luka yang tak terucap," ujar seorang juri dengan suara bergetar. "Kami memilih untuk melihat manusianya, bukan hanya kontroversinya."

Momen itu terasa mengharukan. Bukan karena kata-katanya puitis, tetapi karena kejujurannya. Di balik meja panjang berbalut kain hitam, para juri seperti sedang menuturkan kisah mereka sendiri—tentang perjalanan panjang dunia perfilman yang kerap kali harus berhadapan dengan tembok penolakan.

Kisah yang Tak Selesai di Layar

Sementara itu, di luar ruang konferensi, sejumlah penonton mengaku terbelah. Ada yang merasa terganggu, namun tak sedikit yang justru merasa tersentuh. "Saya pulang dengan pertanyaan di kepala," kata seorang mahasiswa yang menonton pemutaran perdana. "Bukan tentang siapa yang benar, tapi tentang mengapa saya bisa merasa empati pada karakter yang seharusnya saya benci."

Di sisi lain, tim The Assassin(s) memilih untuk tidak tenggelam dalam polemik. Mereka kembali ke rumah produksi, merapikan naskah, dan berusaha memahami bahwa setiap kontroversi menyimpan pelajaran. Ada yang menangis, ada yang tertawa getir, tetapi semua sepakat: mereka akan terus berjuang.

"Kami tidak meminta semua orang setuju," ujar sang sutradara dalam sebuah wawancara terpisah. "Kami hanya meminta satu hal: tontonlah dengan hati yang terbuka. Karena di balik layar, ada manusia yang berjuang untuk didengar."

Pelajaran dari Busan

Kisah The Assassin(s) di BIFF bukan sekadar soal film. Ia adalah cermin bagi industri yang lebih luas—tentang bagaimana sebuah karya bisa memicu perdebatan, dan bagaimana mereka yang berada di dalamnya harus belajar untuk tetap berdiri. Para juri telah berbicara. Tim produksi telah bersuara. Kini, giliran penonton untuk memutuskan: apakah mereka akan melihat kontroversinya, atau mendengar kisah manusianya?

Di lorong-lorong festival yang mulai sepi, seorang kru muda menyeka matanya. Ia tersenyum tipis. "Setidaknya," katanya, "kami sudah berani bercerita. Dan itu adalah mimpi yang tak akan pernah kami sesali."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User