Oct 11, 2026
entertainment

Denira Wiraguna dan Luka Tersembunyi di Balik Tarian Arwah

Di sebuah ruang latihan yang pengap, lampu temaram menyorot sosok Denira Wiraguna. Ia berdiri diam, mata terpejam, sebelum tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama gamelan yang mengalun pelan. Setiap g...

Denira Wiraguna dan Luka Tersembunyi di Balik Tarian Arwah

Di sebuah ruang latihan yang pengap, lampu temaram menyorot sosok Denira Wiraguna. Ia berdiri diam, mata terpejam, sebelum tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama gamelan yang mengalun pelan. Setiap gerakan tangan, setiap putaran tubuh, bukan sekadar koreografi. Ada sesuatu yang ia bawa dari tempat yang jauh lebih gelap—sebuah luka psikis yang harus ia hidupkan kembali demi sebuah peran.

Aktris muda itu mengisahkan perjalanannya membintangi film horor terbaru berjudul Dendam Arwah Penari. Bagi Denira, ini bukan proyek biasa. Ia dituntut untuk menyelami kondisi kejiwaan seorang penari yang terpuruk, sekaligus mempelajari tarian tradisional dari nol. Dua hal yang, menurutnya, sama-sama menguras energi batin.

Ketika Tarian Menjadi Bahasa Luka

Denira mengaku sempat ragu ketika pertama kali membaca naskah. Karakternya bukan sekadar hantu penari yang menakutkan. Ada kedalaman emosi yang membuatnya harus turun ke titik terendah manusia. "Aku harus memahami apa yang dirasakan seseorang yang kehilangan semua yang ia cintai, lalu bangkit dengan cara yang salah," ujarnya mengenang momen diskusi dengan sutradara.

Ia menghabiskan berpekan-pekan berbincang dengan psikolog untuk memahami trauma yang dialami karakternya. Proses itu membawa Denira pada kesadaran yang mengharukan: banyak orang di sekitarnya ternyata menyimpan luka serupa tanpa pernah bercerita. "Ada malam aku pulang syuting, lalu menangis sendiri di mobil. Bukan karena capek, tapi karena aku merasa terlalu dekat dengan rasa sakit itu," tuturnya.

"Aku belajar bahwa luka paling dalam sering kali tidak terlihat. Ia hanya menari di dalam kepala, tanpa ada yang menonton." — Denira Wiraguna

Belajar Menari dari Nol di Usia Dewasa

Tantangan lain datang dari sisi fisik. Denira sama sekali bukan penari. Ia harus mempelajari gerak dasar tarian tradisional yang penuh makna filosofis. Latihan berlangsung empat jam sehari, sering kali hingga lututnya bengkak dan telapak kakinya lecet.

"Guru tariku bilang, tarian ini bukan tentang cantik, tapi tentang rasa. Kalau kamu tidak merasakannya, penonton akan tahu," kenangnya sambil tersenyum. Butuh tiga bulan baginya untuk benar-benar larut dalam setiap gerakan. Ada satu momen mengharukan ketika ia akhirnya bisa menari utuh di depan sang guru, dan gurunya menangis karena terharu.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Dalam beberapa adegan, Denira tampil tanpa body double untuk tarian kunci. Ia ingin penonton merasakan keaslian emosinya, bukan sekadar efek visual.

Di Balik Layar: Air Mata dan Kebangkitan

Proses syuting membawa Denira pada pengalaman batin yang tak terlupakan. Salah satu adegan paling berat adalah ketika karakternya harus menari di tengah reruntuhan rumah dengan tubuh penuh luka. Adegan itu diambil belasan kali, dan setiap kali kamera berhenti, Denira masih menangis.

"Sutradara bilang, jangan tahan. Keluarkan saja. Jadi aku benar-benar menangis sampai hidungku bengkak," ujarnya. Kru produksi pun terdiam, tersentuh oleh totalitasnya. Bagi Denira, film ini bukan sekadar tontonan horor. Ia berharap penonton melihat sisi manusiawi di balik sosok arwah yang membalas dendam.

Ia ingin pesan tentang kesehatan mental sampai ke hati penonton. "Kalau ada yang menonton dan kemudian sadar bahwa orang di dekatnya sedang berjuang, itu sudah cukup bagiku," katanya lirih.

Perjalanan Denira dalam Dendam Arwah Penari adalah kisah tentang keberanian menyentuh luka sendiri. Dari ruang latihan yang sunyi hingga lokasi syuting yang mencekam, ia membuktikan bahwa akting sejati lahir dari keberanian untuk rapuh. Dan lewat tarian yang ia pelajari dengan susah payah, Denira mengajarkan bahwa di balik setiap gerakan indah, selalu ada kisah yang menyentuh untuk diceritakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User