Di sebuah ruangan yang dipenuhi cahaya lampu sorot dan deretan mikrofon, Claresta Taufan duduk tenang dengan senyum tipis yang seakan menyimpan banyak cerita. Selasa sore itu, suasana Jakarta yang ramai seolah luruh menjadi latar belakang ketika ia mulai mengisahkan perjalanannya terlibat dalam film Bapak Paling Jujur. Ada getaran halus dalam suaranya, sebuah kejujuran yang tidak dibuat-buat, persis seperti judul film yang ia bintangi.
Media junket yang digelar di Jakarta tersebut bukan sekadar ajang promosi. Bagi Claresta, momen itu menjadi ruang untuk berbagi potongan hatinya. Ia mengaku tidak sekadar membaca naskah, tetapi sempat menaruh sebagian luka dan harapannya ke dalam karakter yang diperankan. "Ada bagian dari diri saya yang saya tinggalkan di film ini," ujarnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, dikutip dari suasana pertemuan itu.
Perjuangan di Balik Layar yang Tak Terlihat
Perjalanan menuju Bapak Paling Jujur ternyata tidak mulus. Claresta mengisahkan bagaimana ia harus melewati proses panjang, mulai dari membaca ulang naskah berkali-kali, berdiskusi dengan sutradara hingga larut malam, sampai melatih emosi yang sering kali menguras tenaga. "Ada hari-hari di mana saya pulang dengan air mata, bukan karena sedih, tapi karena saya terlalu dalam masuk ke perasaan karakter itu," tuturnya.
Ia juga bercerita tentang momen-momen sederhana yang justru paling membekas. Misalnya, saat ia duduk sendiri di sudut ruang latihan, mencoba memahami apa yang dirasakan seorang bapak yang begitu menjunjung kejujuran di tengah dunia yang penuh tekanan. Claresta menyebut proses itu sebagai perjalanan spiritual kecil yang membuatnya bangkit dan melihat hidup dari sudut pandang berbeda.
Ketika Kejujuran Menjadi Cermin Diri
Tema kejujuran dalam film ini rupanya menyentuh sisi personal Claresta. Ia mengaku pernah berada di titik ketika berkata jujur terasa begitu berat, terutama di industri yang menuntut citra tertentu. "Saya belajar bahwa jujur itu bukan soal berani bilang, tapi soal berani menerima konsekuensinya," katanya dengan nada mantap.
Kisah itu membuatnya semakin menghargai sosok-sosok sederhana di sekitarnya, termasuk keluarganya. Ia menyebut momen mengharukan ketika sang ayah menonton cuplikan film dan hanya diam, lalu memeluknya tanpa banyak kata. "Itu pelukan yang paling jujur yang pernah saya rasakan," ujarnya.
Inspirasi yang Ingin Ia Titipkan
Menutup pertemuan, Claresta berharap Bapak Paling Jujur bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga cermin bagi penontonnya. Ia ingin setiap orang yang menonton bisa merasakan keberanian untuk berkata benar, bahkan ketika dunia terasa tidak berpihak.
"Saya cuma ingin orang pulang dari bioskop dan memeluk keluarganya, lalu bilang hal-hal yang selama ini mereka tahan," katanya lirih. Di balik kilau lampu dan riuhnya kamera, kisah Claresta Taufan adalah pengingat bahwa di balik setiap film, selalu ada mimpi, air mata, dan inspirasi yang berjuang untuk sampai ke hati penonton.
Comments (0)