Oct 16, 2026
entertainment

Casparina, Jejak Cinta Reza Rahadian untuk Sang Nenek di Layar Busan

Di sebuah ruang kerja yang penuh tumpukan naskah dan foto lama, Reza Rahadian duduk termenung. Di hadapannya terhampar lembaran demi lembaran kisah hidup seorang perempuan yang paling ia cintai—nene...

Casparina, Jejak Cinta Reza Rahadian untuk Sang Nenek di Layar Busan

Di sebuah ruang kerja yang penuh tumpukan naskah dan foto lama, Reza Rahadian duduk termenung. Di hadapannya terhampar lembaran demi lembaran kisah hidup seorang perempuan yang paling ia cintai—neneknya, Francisca Casparina Fanggidaej. Bukan sekadar proyek film, Casparina adalah perjalanan batin seorang cucu yang ingin mengenang sosok luar biasa dalam hidupnya. Film panjang keduanya ini kini bahkan menembus panggung internasional, dibawa ke Festival Film Busan, sebuah pencapaian yang bagi Reza terasa seperti hadiah untuk mendiang sang nenek.

Keputusan Reza mengangkat kisah sang nenek bukanlah hal yang muncul tiba-tiba. Bertahun-tahun ia menyimpan cerita-cerita keluarga yang dituturkan dengan sederhana namun menyentuh. Ada momen ketika ia duduk di beranda rumah, mendengar neneknya mengisahkan masa muda yang penuh perjuangan. Dari situ, benih Casparina mulai tumbuh. “Ini bukan sekadar film. Ini cara saya menjaga warisan rasa dari seseorang yang mengajarkan saya arti bertahan hidup,” ujarnya suatu kali dengan mata berkaca-kaca.

Sebuah Perjalanan Panjang Menuju Layar Lebar

Menggarap film kedua bukan tanpa tantangan. Sebagai aktor yang telah malang melintang di dunia perfilman, Reza harus membuktikan bahwa ia juga mampu menyutradarai dengan bahasa visual yang kuat. Proses riset dilakukan berbulan-bulan. Ia menemui kerabat, menelusuri dokumen lama, hingga mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi saksi kehidupan Francisca. Setiap detail diusahakan autentik, dari pakaian hingga dialek yang digunakan.

“Ada saat di mana saya harus berhenti syuting karena terlalu terbawa emosi. Membayangkan apa yang nenek alami membuat saya sadar, film ini lebih besar dari ambisi pribadi,” kenangnya di sela-sela proses produksi. Momen-momen seperti itu justru memperkuat tekadnya untuk menyelesaikan Casparina dengan sepenuh hati.

Perjalanan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Nama Casparina masuk dalam jajaran film yang diputar di Busan, salah satu festival film paling bergengsi di Asia. Kabar ini disambut haru oleh keluarga besar. Bagi Reza, Busan bukan sekadar ajang prestise, melainkan panggung di mana kisah neneknya bisa dikenal lebih luas—melampaui batas keluarga dan negara.

Di Balik Sosok Francisca Casparina

Francisca Casparina Fanggidaej bukanlah perempuan biasa. Hidupnya penuh liku, dari masa-masa sulit hingga momen-momen kebahagiaan sederhana yang ia rawat dengan sabar. Reza mengenang neneknya sebagai perempuan tangguh yang tak pernah mengeluh, meski keadaan tidak selalu berpihak. “Nenek saya mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan soal tidak pernah jatuh, tapi soal selalu bangkit,” tutur Reza.

Dalam Casparina, penonton diajak menyelami kisah personal ini tanpa dibebani narasi heroik yang berlebihan. Justru keindahannya terletak pada kesederhanaan—cara Francisca menyeduh teh di pagi hari, doa-doa kecil yang ia bisikkan, atau tatapan matanya saat menceritakan mimpi-mimpi yang belum tercapai. Reza ingin penonton merasakan kehangatan itu, seolah duduk bersama keluarganya sendiri.

Proses kreatif ini juga menjadi ruang refleksi bagi Reza. Ia mengaku lebih memahami dirinya sendiri setelah mendalami kisah sang nenek. “Ada bagian dari diri saya yang selama ini tidak saya kenali, dan film ini membuka pintu itu,” katanya. Casparina pun menjelma menjadi cermin, bukan hanya bagi Reza, tetapi juga bagi siapa pun yang pernah kehilangan sosok berharga dalam hidupnya.

Mimpi yang Terus Berlanjut

Keberangkatan Casparina ke Busan menjadi momen mengharukan bagi tim produksi. Mereka menyadari bahwa perjuangan panjang ini tidak sia-sia. Ada air mata, tawa, dan kelelahan yang menyatu menjadi satu. Namun di atas semua itu, ada kebanggaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Reza berharap film ini dapat menginspirasi banyak orang untuk menghargai cerita keluarga. Baginya, setiap orang memiliki kisah yang layak untuk diceritakan, sekecil apa pun itu. “Jangan tunggu kehilangan baru ingin mengenang. Ceritakan sekarang, peluk mereka sekarang,” pesannya dengan nada sendu.

Casparina bukan akhir dari perjalanan Reza Rahadian sebagai sutradara. Justru ini menjadi pijakan untuk karya-karya berikutnya. Namun bagi Reza pribadi, film ini adalah persembahan tulus—sebuah cara untuk mengatakan bahwa Francisca Casparina Fanggidaej tidak pernah benar-benar pergi. Sosoknya hidup dalam setiap bingkai, dalam setiap dialog, dan dalam hati seorang cucu yang berjuang mewujudkan mimpinya. Di layar lebar Busan nanti, kisah itu akan bergema, menyentuh siapa saja yang percaya bahwa cinta keluarga adalah kekuatan paling abadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User