Oct 11, 2026
entertainment

Anggun dan Malam Pertama di Panggung GBK yang Tak Terlupakan

Di balik gemerlap lampu panggung yang menyorot wajahnya, Anggun C. Sasmi sempat terdiam beberapa detik. Bukan karena lupa lirik, bukan pula karena gugup. Perempuan kelahiran Jakarta itu tengah menepis...

Anggun dan Malam Pertama di Panggung GBK yang Tak Terlupakan

Di balik gemerlap lampu panggung yang menyorot wajahnya, Anggun C. Sasmi sempat terdiam beberapa detik. Bukan karena lupa lirik, bukan pula karena gugup. Perempuan kelahiran Jakarta itu tengah menepis ingatan yang tiba-tiba menyeruak—tentang malam pertama ia menginjakkan kaki di Stadion Utama Gelora Bung Karno, puluhan tahun silam, ketika namanya masih belum sebesar sekarang.

"Saya masih ingat betul bagaimana rasanya berdiri di sana untuk pertama kalinya," kenangnya dengan mata yang tampak berkaca, seperti dikutip dari perbincangan menjelang penampilannya di closing ceremony FIFA ASEAN Cup 2026. "Waktu itu saya masih sangat muda, dan GBK terasa begitu besar, begitu megah, sampai-sampai saya bertanya dalam hati, apakah suara saya akan terdengar sampai ke tribun paling atas."

Ketika GBK Menjadi Saksi Perjalanan Panjang

Bagi Anggun, Gelora Bung Karno bukan sekadar stadion. Ia adalah saksi bisu dari perjalanan panjang seorang musisi yang pernah merantau ke Prancis, menembus pasar internasional, lalu kembali pulang dengan membawa nama Indonesia di panggung-panggung dunia. Setiap sudut stadion itu, katanya, menyimpan lapisan memori yang berbeda—dari masa-masa penuh keraguan hingga momen ketika ia mulai dipercaya tampil di hadapan puluhan ribu orang.

"Ada kalanya saya merasa kecil, merasa tidak layak berdiri di panggung sebesar itu," ujarnya lirih. "Tapi setiap kali saya melihat bendera Merah Putih berkibar di sana, ada kekuatan yang entah dari mana datangnya. Rasanya seperti seluruh penonton sedang berkata, 'Ayo, kamu bisa.'"

Momen itu, kata Anggun, menjadi semacam jangkar emosional dalam kariernya. Ketika ia merilis lagu-lagu yang kemudian dikenal luas di mancanegara, bayangan GBK selalu menjadi titik pulang. Bukan sekadar tempat manggung, melainkan rumah—tempat di mana ia pertama kali belajar bahwa suara seorang perempuan asal Jakarta bisa menggema jauh melampaui batas kota kelahirannya.

Air Mata di Balik Persiapan Closing Ceremony

Menghadapi penampilan di penutupan FIFA ASEAN Cup 2026, Anggun mengaku tidak ingin sekadar menyanyikan lagu. Ia ingin membawa sesuatu yang lebih personal, sesuatu yang bisa menyentuh penonton dari Sabang sampai Merauke yang menyaksikan dari layar kaca.

"Kami berlatih keras, tapi ada satu momen saat gladi resik ketika saya tiba-tiba berhenti di tengah lagu," tuturnya sambil tersenyum tipis. "Saya melihat ke arah tribun yang kosong, membayangkan besok akan penuh dengan orang-orang. Tiba-tiba saja air mata saya jatuh. Saya tidak sedang sedih. Saya hanya… terharu. Perjalanan ini sungguh panjang."

Di balik layar, tim produksi menyiapkan tata panggung yang megah, dengan permainan cahaya yang menyesuaikan lirik-lirik lagu. Namun bagi Anggun, kemegahan itu bukan yang utama. Ia lebih ingin merayakan kebersamaan, semangat bangkit setelah pandemi, dan kebanggaan menjadi tuan rumah pesta sepak bola Asia Tenggara yang begitu dinanti.

"Sepak bola dan musik itu sama," ucapnya. "Keduanya menyatukan orang-orang dari latar belakang berbeda, membuat mereka bersorak bersama, menangis bersama. Malam nanti, saya ingin Indonesia merasa bangga, bukan hanya karena turnamennya, tapi karena kita bisa bersatu."

Mimpi yang Belum Selesai

Meski sudah puluhan tahun berkarya, Anggun mengaku masih punya mimpi yang belum tergenapi. Salah satunya adalah menggelar konser tunggal di GBK—bukan sebagai bagian dari acara besar, melainkan malam miliknya sendiri, untuk orang-orang yang telah setia menemani perjalanannya dari dulu.

"Suatu hari nanti, saya ingin berdiri di sana dan berkata, 'Ini malam kita. Terima kasih sudah menunggu'," katanya dengan mata yang berbinar. "Mungkin terdengar sederhana, tapi bagi saya itu impian besar. Karena GBK adalah tempat saya pertama kali bermimpi, dan saya ingin kembali ke sana untuk merayakan mimpi itu."

Kisah Anggun di atas panggung GBK bukan hanya tentang seorang penyanyi. Ia adalah cermin dari perjalanan panjang seorang anak bangsa yang berani bermimpi, terjatuh, lalu bangkit lagi. Dan ketika closing ceremony nanti usai, ketika lampu mulai meredup dan kembang api menghiasi langit Jakarta, ia berharap satu hal: agar setiap orang yang menonton merasa bahwa mimpi mereka juga layak diperjuangkan.

"Jangan pernah meremehkan mimpi yang tumbuh di tempat sederhana," tutupnya dengan suara bergetar. "Saya dulu hanya gadis yang bernyanyi di ruang kecil. Sekarang saya di sini, di panggung yang sama, dengan cerita yang jauh lebih panjang. Itu bukan karena saya hebat, tapi karena saya tidak pernah berhenti percaya."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User