Oct 10, 2026
entertainment

Andovi Da Lopez Buka-Bukaan Soal Film Bapak Paling Jujur

Jakarta — di sudut ruangan hotel berbintang di kawasan Sudirman, Andovi Da Lopez duduk menghadap belasan jurnalis yang sudah menunggu sejak pagi. Meja panjangnya penuh botol air mineral dan selembar...

Andovi Da Lopez Buka-Bukaan Soal Film Bapak Paling Jujur

Jakarta — di sudut ruangan hotel berbintang di kawasan Sudirman, Andovi Da Lopez duduk menghadap belasan jurnalis yang sudah menunggu sejak pagi. Meja panjangnya penuh botol air mineral dan selembar-lembar skrip yang sudah terlipat rapi di sudut. Malam sebelumnya, pria 30 tahun itu baru saja mendarat dari Yogyakarta setelah pemutaran perdana film terbarunya, Bapak Paling Jujur. Matanya sedikit layu, tapi senyumnya tetap hangat ketika pertanyaan pertama terlontar.

"Aku capek, tapi bahagia," ujarnya sambil tertawa kecil, mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Film ini seperti anak kedua yang akhirnya lahir juga."

Kalimat sederhana itu seolah merangkum perjalanan panjang yang ia tempuh selama dua tahun terakhir. Andovi, yang dikenal publik lewat konten-konten komedi bersama sang kakak Jovial Da Lopez, kali ini mencoba peran yang jauh dari zona nyamannya. Bapak Paling Jujur mengisahkan seorang ayah tunggal yang berjuang membesarkan tiga anak sekaligus menutupi rahasia besar tentang masa lalunya.

Perjalanan Panjang Menuju Layar Lebar

Di balik layar, proses pengambilan gambar film ini tidak berjalan mulus. Syuting sempat tertunda tiga kali karena perubahan jadwal dan keterbatasan anggaran produksi. Andovi mengisahkan, ada momen ketika tim produksi harus rela memangkas setengah adegan demi menjaga kualitas visual. Ia sendiri memilih tinggal di rumah produksi selama berminggu-minggu demi mendalami karakter.

"Gue sempat mikir, ini mungkin bukan film gue," akunya jujur. "Tapi setiap kali mau mundur, gue inget kenapa gue mau masuk proyek ini."

Alasannya terletak pada sosok ayahnya sendiri. Andovi mengakui bahwa sebagian besar emosi yang ia bawa ke dalam peran berasal dari kenangan masa kecil. Ia teringat bagaimana sang ayah jarang bicara tentang perasaannya, tapi selalu menunjukkan lewat tindakan. Kebiasaan itulah yang kemudian ia bawa ke karakter utama film.

Aku pikir, setiap bapak pasti punya cerita yang belum sempat ia ceritakan ke anaknya.

Kutipan itu terlontar tanpa persiapan, dan membuat beberapa jurnalis di ruangan itu diam sejenak. Andovi sendiri tampak menunduk, seolah sedang menahan air mata yang mendadak muncul di panggung media junket.

Momen Mengharukan Saat Pertama Kali Menonton

Pemutaran pertama film itu dihelat di sebuah bioskos kecil di Yogyakarta. Andovi mengisahkan, ia duduk di barisan paling belakang bersama sang ibu. Ia sengaja memilih posisi itu agar bisa mengamati reaksi penonton tanpa diketahui siapa pun.

"Tiba-tiba ibu gue peluk tangan gue," kenangnya. "Dia bilang, 'Kamu mirip bapak kamu waktu muda.' Itu kalimat paling sederhana yang pernah gue dengar, tapi paling menyentuh."

Ia berhenti bicara beberapa detik. Ruangan kembali hening, lalu beberapa jurnalis tersenyum, memahami momen mengharukan yang baru saja digambarkan. Andovi meneguk air minumnya dan melanjutkan cerita dengan suara yang lebih pelan.

Perjalanan film ini, menurut Andovi, bukan tentang meraih popularitas baru. Ia justru berjuang memastikan bahwa cerita tentang keluarga biasa bisa sampai ke hati penonton Indonesia. Menurutnya, banyak film lokal yang gagal karena terjebak pada formula komedi semata. Ia ingin membuktikan bahwa humor dan kesedihan bisa hidup berdampingan dalam satu naskah.

Mimpi yang Ingin Dicapai Setelah ini

Setelah Bapak Paling Jujur tayang, Andovi mengaku ingin istirahat sejenak dari dunia akting. Bukan karena kelelahan, melainkan karena ia ingin kembali menulis. Ia punya mimpi kecil yang belum terwujud: membuat serial pendek yang menceritakan kisah keluarga-keluarga Indonesia dari berbagai daerah.

"Mimpi gue sederhana, sebenarnya," ujarnya. "Gue mau orang nonton film gue, pulang ke rumah, terus peluk bapaknya. Itu aja."

Kalimat penutup itu menutup sesi junket dengan nuansa yang hangat. Andovi berdiri, menyapa satu per satu jurnalis di ruangan itu, lalu berjalan keluar menuju lift. Di lorong, terdengar ia bercanda dengan tim produksinya soal makan malam yang tertunda.

Kisah Andovi Da Lopez kali ini memang bukan tentang kejeniusan atau keajaiban. Ini tentang seorang anak yang mencoba memahami ayahnya lewat karya, lalu menemukan bahwa perjalanan itu justru membawanya kembali ke rumah. Dan bagi penonton, inspirasi itu mungkin cukup untuk mulai mengobrol lagi dengan orang tua mereka malam ini juga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User