Di sebuah ruang latihan berukuran tak lebih dari 4x5 meter, dengan piano grand hitam yang nyaris memenuhi separuh ruangan, Alfred Young Sugiri duduk termenung. Jemarinya masih menyimpan getar terakhir dari sonata Beethoven yang baru saja ia mainkan. Di dinding, terpampang jadwal latihan yang penuh coretan, tanda bahwa setiap nada di ruangan itu diperjuangkan, bukan sekadar dimainkan. Hari itu, ia menerima kabar yang mengubah arah perjalanan musiknya: undangan untuk tampil kembali di panggung Eropa pada tahun mendatang.
Bagi Alfred, ini bukan sekadar pencapaian karier. Ini adalah pengakuan atas perjalanan panjang yang berliku, penuh momen mengharukan, dan air mata yang tak pernah ia ceritakan di atas panggung. "Saya tidak pernah membayangkan bisa kembali ke sana. Yang saya tahu, saya harus terus berlatih, terus bermimpi. Kadang saya menangis sendiri di ruangan ini karena lelah, tapi saya bangkit lagi," kisahnya dengan suara pelan, seolah setiap kata adalah bagian dari melodi yang ia bangun bertahun-tahun.
Meniti Nada dari Ruang Sederhana
Alfred bukanlah pianis yang tumbuh di lingkungan serba mewah. Ia belajar piano pertama kali dari sebuah alat musik tua di gereja kecil dekat rumahnya. "Saya ingat, tuts pianonya ada yang bunyinya sumbang. Tapi dari situ saya belajar bahwa keindahan tidak selalu lahir dari kesempurnaan," tuturnya, tersenyum tipis. Perjalanan itu membawanya ke berbagai kompetisi, hingga akhirnya berkesempatan menimba ilmu di Eropa beberapa tahun lalu.
Namun, perjalanan di benua itu tidak selalu indah. Ia sempat merasa asing, kesepian, dan meragukan kemampuannya. "Ada masa saya merasa suara saya tidak berarti di antara musisi-musisi hebat di sana. Saya sempat ingin pulang. Tapi guru saya berkata, 'Suaramu sebagai orang Indonesia adalah warna yang tidak dimiliki siapa pun.' Kata-kata itu yang membuat saya bertahan," kenangnya.
Di Balik Panggung yang Tak Terlihat
Undangan konser orkestra dan chamber music di Eropa tahun depan adalah buah dari kerja keras yang jarang dilihat orang. Setiap hari, Alfred melatih teknik, mendalami repertoar, dan menjaga kondisi fisiknya. Ia mengisahkan bagaimana jemarinya pernah cedera karena latihan berlebihan. "Dokter bilang saya harus berhenti berlatih hampir sebulan. Itu seperti kehilangan separuh jiwa saya. Saya hanya bisa mendengarkan musik dan menangis, berharap bisa segera menyentuh tuts lagi," katanya.
Momen bangkit itu datang ketika ia mendapat dukungan dari keluarga dan sahabat-sahabatnya. Mereka mengingatkannya bahwa musik bukan soal kesempurnaan teknis, melainkan soal menyentuh hati. "Saya sadar, yang paling penting bukan berapa banyak penonton yang bertepuk tangan, tapi apakah ada satu orang saja yang hatinya tersentuh oleh permainan saya," ujarnya.
Mimpi yang Terus Dinyanyikan
Kini, dengan undangan di tangan, Alfred tidak ingin berhenti. Ia berharap bisa menjadi inspirasi bagi musisi muda Indonesia, terutama mereka yang berasal dari kota kecil. "Jangan takut bermimpi besar hanya karena tempat tinggal kita sederhana. Saya dulu hanya anak yang berlatih di gereja dengan piano tua. Kalau saya bisa, kalian juga bisa," pesannya penuh semangat.
Menghadapi konser di Eropa tahun depan, ia menyiapkan sebuah karya yang menggabungkan sentuhan Indonesia. "Saya ingin orang-orang di sana mendengar ada sesuatu yang berbeda dari Indonesia. Bukan hanya indah, tapi juga punya cerita," ucapnya dengan mata berbinar.
Di ruang latihan kecil itu, Alfred kembali duduk di depan pianonya. Ia menutup mata, menarik napas, dan mulai memainkan sebuah melodi. Bukan untuk panggung atau penonton, tapi untuk dirinya sendiri—pengingat bahwa setiap nada adalah bagian dari kisah perjuangan yang tak pernah berhenti berbunyi.
Dari ruang sederhana itu, mimpi Alfred terus mengalun, membawa suara Indonesia ke panggung dunia.
Comments (0)