Oct 10, 2026
entertainment

Tepung Bungkus, Manisnya Kenangan di Ujung Lidah

Di sudut dapur berukuran 3x4 meter itu, tangan tua Sumarni bergerak lincah meski usianya telah menginjak 68 tahun. Tepung beras ia ayak perlahan, sementara air pandan mendidih di atas kompor. Aroma ha...

Tepung Bungkus, Manisnya Kenangan di Ujung Lidah

Di sudut dapur berukuran 3x4 meter itu, tangan tua Sumarni bergerak lincah meski usianya telah menginjak 68 tahun. Tepung beras ia ayak perlahan, sementara air pandan mendidih di atas kompor. Aroma harum kelapa muda bercampur gula merah memenuhi ruangan sederhana di rumahnya di kawasan Bantul, Yogyakarta. "Ini bukan sekadar jajanan," ujarnya lirih sambil membentuk adonan pipih di telapak tangannya. "Ini cara saya menjaga ingatan pada ibu."

Bagi Sumarni, tepung bungkus bukan hanya camilan pasar. Ia adalah warisan yang diwariskan turun-temurun, sebuah ritual kecil yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Setiap lipatan adonan yang ia bungkus rapi menyimpan cerita tentang masa kecil yang penuh keterbatasan, namun kaya akan kehangatan keluarga.

Jejak Rasa yang Tak Pernah Hilang

Sumarni mengisahkan, pertama kali belajar membuat tepung bungkus saat usianya baru tujuh tahun. Ibunya, seorang penjual jajanan keliling, selalu mengajaknya bangun sebelum subuh untuk menyiapkan dagangan. "Tangan saya kecil waktu itu, susah sekali membentuk adonan. Tapi ibu sabar mengajari," kenangnya. Ia menirukan gerakan ibunya dulu, memutar adonan hingga tipis, lalu mengisinya dengan parutan kelapa yang telah dimasak bersama gula merah. "Rasa manis legit itu yang membuat saya jatuh cinta. Sampai sekarang, saya belum pernah menemukan rasa yang sama di tempat lain."

Perjalanan hidup Sumarni tidak selalu mulus. Ketika suaminya meninggal sepuluh tahun lalu, ia sempat berhenti berjualan. Air mata mengalir setiap kali ia melihat peralatan dapur peninggalan ibunya. "Rasanya seperti kehilangan arah," akunya. Namun, dorongan anak-anaknya membuatnya bangkit kembali. "Mereka bilang, resep ini harus terus hidup. Bukan karena uangnya, tapi karena kenangannya."

Bertahan di Tengah Gempuran Jajanan Modern

Di era ketika kue-kue instan dan camilan impor membanjiri pasaran, tepung bungkus milik Sumarni tetap punya tempat di hati para pelanggannya. Setiap pagi, ia membuka lapak kecil di depan rumahnya. Pembeli setianya bukan hanya orang tua, tetapi juga anak muda yang penasaran dengan rasa autentik. "Ada mahasiswa yang datang jauh-jauh dari kota, katanya mau belajar bikin. Saya senang sekali," tuturnya dengan mata berbinar.

Menurut Sumarni, kunci kelezatan tepung bungkus terletak pada kesabaran. Adonan harus direbus dengan api sedang, tidak boleh terlalu cepat, dan isian kelapa harus dimasak hingga mengental sempurna. "Kalau terburu-buru, rasanya beda. Tidak ada magisnya," katanya sambil tersenyum. Ia juga tidak pernah menggunakan pengawet atau pewarna buatan. Semua bahan alami, sesuai ajaran ibunya dulu.

Mimpi Kecil untuk Generasi Berikutnya

Meski penghasilan dari berjualan tepung bungkus tidak seberapa, Sumarni tidak pernah mengeluh. Baginya, kebahagiaan sejati datang ketika melihat pelanggan menikmati jajanannya dengan senyum puas. "Saya ingin cucu-cucu saya tahu, bahwa makanan sederhana bisa membawa kebahagiaan besar," ujarnya haru.

Ia berharap, suatu hari nanti ada anggota keluarganya yang mau meneruskan usaha ini. "Saya sudah tua. Tapi selama tangan ini masih bisa bergerak, saya akan terus membuat tepung bungkus. Bukan untuk mencari untung, tapi untuk menjaga mimpi ibu saya tetap hidup," pungkasnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, kisah Sumarni menjadi pengingat bahwa di balik setiap jajanan tradisional, ada perjuangan, air mata, dan cinta yang tak pernah pudar. Tepung bungkus bukan sekadar camilan. Ia adalah potret ketangguhan seorang perempuan sederhana yang berjuang menjaga warisan rasa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User