Oct 11, 2026
entertainment

Syahrini Enggan Kembali ke Politik, Pilih Ceritakan Gong dan Kenangan Panggung

Lampu sorot panggung Pestapora 2026 menyorot sosok yang sudah lama tak muncul di hadapan publik. Syahrini berdiri di tengah kerumunan penonton yang sejak sore menunggu. Namun malam itu, ia bukan datan...

Syahrini Enggan Kembali ke Politik, Pilih Ceritakan Gong dan Kenangan Panggung

Lampu sorot panggung Pestapora 2026 menyorot sosok yang sudah lama tak muncul di hadapan publik. Syahrini berdiri di tengah kerumunan penonton yang sejak sore menunggu. Namun malam itu, ia bukan datang sebagai penyanyi dengan gaun berkilau seperti yang biasa dikenal. Ia tampil dengan cara yang jauh lebih sederhana: membawa gong kecil, properti komedi, dan cerita-cerita yang membuat penonton tertawa sekaligus haru.

Di balik gemerlap panggung festival, ada kisah yang mengalir begitu saja dari mulutnya. Ia mengisahkan bagaimana gong, sebuah benda yang selama ini identik dengan ritual pembukaan acara atau simbol kehormatan, justru menjadi bagian dari gimik komedi yang ia tampilkan sepanjang rangkaian comeback-nya. "Awalnya saya hanya iseng bawa gong ke latihan," ujarnya sambil tersenyum, seperti dikutip dari panggung. "Tapi ternyata teman-teman tertawa, dan saya pikir, kenapa tidak sekalian saja dibawa ke panggung?"

Perjalanan Sebuah Gimik Sederhana

Keputusan membawa gong ke panggung Pestapora bukan hal yang direncanakan matang. Syahrini mengaku, ia ingin tampil berbeda dari identitasnya yang selama ini melekat: penyanyi dengan penampilan mewah dan lagu-lagu bernuansa romantis. Dalam perjalanan comeback-nya, ia merasa perlu sesuatu yang lebih jujur, lebih dekat dengan penonton, dan tidak terlalu serius.

Gong itu kemudian menjadi semacam penanda. Setiap kali ia memukulnya, penonton langsung bersorak. Ada momen ketika ia sengaja memukul gong terlalu keras hingga suaranya menggelegar, lalu ia menutup telinga dengan ekspresi kocak. Penonton tertawa. Di momen lain, ia memukul gong dengan lembut, seolah sedang membangunkan sesuatu yang tertidur. "Saya ingin penonton merasa bahwa saya juga bisa bercanda, bisa salah, bisa lucu," ujarnya.

Di balik layar, tim kreatifnya mengaku sempat ragu. Gong dianggap terlalu tradisional untuk festival musik pop seperti Pestapora. Namun Syahrini bersikeras. Baginya, gong adalah simbol kebangkitan. "Saya bilang, ini bukan soal alat musiknya. Ini soal bagaimana saya bangkit dari masa yang panjang, dan gong itu seperti tanda bahwa saya siap memulai lagi," kisahnya.

Partai Baru yang Tak Pernah Benar-benar Ada

Selain gong, Syahrini juga menceritakan soal "partai baru" yang sempat menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Ia menegaskan, istilah itu bukanlah partai politik, melainkan nama candaan untuk lingkaran kecil teman-temannya yang kerap berkumpul sebelum tampil. "Kami menyebutnya partai karena setiap kali kumpul, kami selalu rapat, selalu bikin keputusan, dan selalu ada saja yang jadi ketua," tuturnya, disambut tawa penonton.

Ia mengisahkan, partai itu lahir dari kebiasaan sederhana: makan bersama di ruang rias, membahas hal-hal ringan, dan saling menguatkan sebelum naik panggung. Di dalamnya ada penata rias, penata busana, pemain musik, dan beberapa sahabat lama. "Tidak ada AD/ART, tidak ada kartu anggota. Tapi kalau ada yang sedih, kami semua datang," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Momen mengharukan terjadi ketika ia menyebut satu per satu nama orang-orang di balik layar yang telah menemaninya sejak masa sulit. Ia menyebut mereka sebagai alasan mengapa ia masih ingin tampil. "Saya pernah berpikir untuk berhenti. Tapi mereka bilang, sekali lagi saja. Dan ternyata 'sekali lagi' itu membawa saya ke sini," ujarnya pelan.

Antara Komedi dan Air Mata

Penampilan Syahrini di Pestapora 2026 memang dirancang sebagai ruang untuk bernostalgia, tetapi juga untuk tertawa. Ia memadukan lagu-lagu lamanya dengan segmen komedi yang tidak biasa. Salah satu yang paling diingat penonton adalah saat ia berpura-pura membacakan "pidato" partai barunya, lengkap dengan mimik serius yang justru mengundang gelak tawa.

Meski begitu, di balik tawa, ada cerita tentang perjuangan. Ia mengaku sempat kehilangan arah setelah sekian lama absen dari panggung besar. Ada ketakutan tidak lagi diterima, ada keraguan apakah penonton masih ingin mendengarnya. "Saya sempat menangis di kamar mandi sebelum naik. Tapi begitu gong itu dipukul, semuanya hilang," kenangnya.

Kisah Syahrini malam itu bukan sekadar tentang comeback seorang artis. Ia adalah cerita tentang keberanian untuk tampil apa adanya, tentang persahabatan sederhana yang menjadi penopang, dan tentang bagaimana sebuah gong kecil bisa menjadi simbol kebangkitan. Di sudut panggung, setelah acara selesai, ia sempat memeluk satu per satu anggota "partai"-nya. Tidak ada kamera yang merekam momen itu. Hanya tawa kecil, isak tertahan, dan janji untuk kembali lagi.

"Saya tidak tahu kapan akan tampil lagi. Tapi malam ini cukup untuk membuat saya percaya bahwa saya masih punya tempat," katanya sebelum melangkah turun dari panggung, meninggalkan gong yang masih tergeletak di atas lantai, seolah menunggu untuk dipukul lagi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User