MEDAN — Suasana siang di kawasan putaran Kantor Pusat Perumda Tirtanadi, Jalan SM Raja, Kota Medan, terasa berbeda. Ratusan warga berdatangan memadati halaman kantor pelat merah pengelola layanan air minum tersebut untuk mengikuti pasar murah yang digelar persis usai Salat Ashar berjamaah di Masjid Ma'ul Hayah. Antrean panjang terlihat dari gerai-gerai yang menjual beras, minyak goreng, gula, hingga telur dengan harga jauh di bawah pasaran.
Bagi warga sekitar, kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial. Harga kebutuhan pokok yang terus melambung membuat dompet mereka kian menjerit, sehingga kehadiran pasar murah disambut dengan tangan terbuka.
Warga Sambut Antusias, Harga Kebutuhan Pokok Jadi Beban
Rian, seorang pengemudi layanan transportasi daring, menjadi salah satu warga yang paling merasa terbantu. Pria yang baru menunaikan Salat Ashar berjamaah di Masjid Ma'ul Hayah Perumda Tirtanadi itu langsung menyambangi lapak beras dengan membawa kantong belanjaan kecil. Ia mengaku harga beras di pasar konvensional sulit ditekan, apalagi ketika permintaan melonjak menjelang akhir pekan.
"Tirtanadi ini sangat peduli sama kami. Di saat harga kebutuhan pokok seperti beras melambung, saya dapat membelinya dengan harga yang terjangkau," ujar Rian.
Perasaan senada diungkapkan sejumlah ibu rumah tangga yang mengantre membeli minyak goreng. Sebagian dari mereka mengaku sengaja datang lebih awal karena stok barang terbatas. Bagi keluarga berpenghasilan pas-pasan, selisih beberapa ribu rupiah per kilogram beras sudah sangat menentukan apakah dapur tetap mengepul setiap hari.
| Aspek | Kondisi Pasar | Pasar Murah Tirtanadi |
|---|---|---|
| Harga beras | Cenderung naik | Subsidi, terjangkau |
| Jangkauan pembeli | Umum | Warga sekitar kantor pusat |
| Tujuan | Profit | Sosial dan kepedulian |
| Ketersediaan | Stabil | Terbatas, antrean panjang |
Manajemen Tirtanadi Sebut Pasar Murah Bagi dari Tanggung Jawab Sosial
Direktur Utama Perumda Tirtanadi, Ardian Surbakti, hadir langsung dalam kegiatan tersebut dan menyerahkan paket beras secara simbolis kepada sejumlah warga. Di hadapan warga, ia menegaskan bahwa pasar murah bukanlah kegiatan bisnis, melainkan wujud kepedulian perusahaan terhadap masyarakat, khususnya warga yang berdomisili di seputar kantor pusat.
"Pasar murah ini adalah wujud kepedulian terhadap warga sekitar yang perekonomiannya kurang beruntung," ujar Ardian Surbakti, Selasa (29/9).
Ardian menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi lebih baik dan dirasakan langsung oleh warga sekitar. Perumda Tirtanadi ingin hadir tidak hanya sebagai penyedia layanan air bersih, tetapi juga sebagai tetangga yang peka terhadap kondisi sosial lingkungannya. Program ini sejalan dengan prinsip perusahaan daerah yang keberadaannya bertumpu pada kepercayaan publik.
Secara terpisah, sejumlah pegawai Tirtanadi terlihat ikut membantu mengatur antrean dan mendistribusikan sembako. Kehadiran mereka memberi sentuhan kemanusiaan yang membuat warga merasa diperlakukan dengan hormat, bukan sekadar penerima bantuan.
Dampak yang Diharapkan Berkelanjutan
Pasar murah semacam ini dinilai penting di tengah tekanan inflasi pangan di Sumatera Utara. Bantuan sekecil apa pun akan terasa berarti bagi keluarga yang hidup di garis kemiskinan. Namun demikian, warga berharap program serupa dapat digelar rutin, bukan hanya pada momen tertentu, agar manfaatnya benar-benar dirasakan berkelanjutan.
Ardian pun menyebutkan bahwa kegiatan seperti ini akan terus dievaluasi agar penyalurannya tepat sasaran dan tidak menimbulkan kerumunan berlebih. Dengan begitu, semangat gotong royong antarwarga dan manajemen Tirtanadi tetap terjaga.
Comments (0)