Oct 11, 2026
entertainment

Nada Persahabatan Dewa 19: Kisah Panjang Menjaga Mimpi Musik Sejak 1986

Di sebuah sudut ruangan beralas semen di Surabaya pada pertengahan dekade delapan puluhan, petikan gitar elektrik sederhana beradu dengan ketukan drum yang belum sepenuhnya presisi. Udara pesisir sore...

Nada Persahabatan Dewa 19: Kisah Panjang Menjaga Mimpi Musik Sejak 1986

Di sebuah sudut ruangan beralas semen di Surabaya pada pertengahan dekade delapan puluhan, petikan gitar elektrik sederhana beradu dengan ketukan drum yang belum sepenuhnya presisi. Udara pesisir sore itu terasa gerah dan lembap, namun empat sekawan belia tak sedikit pun memedulikan peluh yang membasahi kaus oblong mereka. Jari-jemari yang masih canggung itu terus menekan senar baja, berjuang melahirkan harmoni baru dari rasa penasaran yang meluap-luap. Di ruang latihan yang bersahaja itulah, jauh sebelum gemerlap lampu sorot stadion megah menyilaukan pandangan, sebuah ikatan persaudaraan bernama Dewa pertama kali berdenyut pada tahun 1986.

Kisah ini bermula bukan dari ambisi mengejar kemewahan panggung hiburan, melainkan dari sebuah ruang pertemanan yang hangat dan polos. Berawal dari bangku SMP Negeri 6 Surabaya, empat remaja yang terdiri atas Dhani Ahmad, Erwin Prasetya, Wawan Juniarso, dan Andra Ramadhan merajut impian bersama. Mereka menyatukan inisial nama masing-masing hingga terciptalah sebuah nama yang kelak mengukir sejarah panjang dalam belantika musik tanah air: D.E.W.A. Setiap pulang sekolah, waktu mereka dihabiskan bukan untuk sekadar berkelakar, melainkan membedah pita kaset musisi rock idola hingga pita hitamnya nyaris aus terputar.

Bermula dari Garasi Sederhana di Kota Pahlawan

Masa-masa awal tersebut dipenuhi dengan keterbatasan yang justru mempererat rasa kekeluargaan mereka. Membeli satu instrumen musik saja menuntut pengorbanan menyisihkan uang saku selama berbulan-bulan. Garasi rumah kerap menjadi saksi bisu tawa, perdebatan kreatif, hingga suara omelan tetangga yang merasa terganggu oleh bisingnya distorsi suara gitar. Namun, di balik dinding rumah sederhana itu, ada bara semangat yang tak pernah padam.

Dukungan orang tua yang tulus, meski kadang disertai kekhawatiran akan masa depan sekolah anak-anak mereka, menjadi bahan bakar penting. Segelas teh manis hangat dan sepiring pisang goreng buatan sang ibu di sela latihan kerap menjadi penawar lelah terbaik. Mereka belajar mengasah kepekaan rasa bukan hanya lewat teknik bermusik, melainkan lewat empati terhadap satu sama lain saat salah satu kawan tengah menghadapi hari yang berat.

"Waktu itu kami tidak pernah membayangkan ribuan penonton akan bernyanyi bersama kami. Kami hanyalah sekumpulan anak sekolahan yang begitu mencintai musik dan ingin kejujuran rasa kami didengarkan," kenang salah seorang kerabat dekat yang menemani langkah awal mereka.

Mengadu Nasib di Ibu Kota Berbekal Tekad dan Pengorbanan

Memasuki dekade sembilan puluhan, keberanian menuntun langkah mereka untuk melompat lebih jauh. Bersama kehadiran vokalis bersuara melankolis dan berkarakter, Ari Lasso, mereka membulatkan tekad untuk merantau ke Jakarta. Meninggalkan kehangatan rumah di Surabaya demi mengadu nasib di rimba ibu kota bukanlah perkara mudah. Mereka menyewa kontrakan sempit di mana ruang tidur dan dapur hanya berjarak beberapa jengkal saja.

Berbekal kaset rekaman demo yang dibungkus amplop cokelat, mereka berjalan kaki menyusuri jalanan Jakarta yang terik, mengetuk satu demi satu pintu perusahaan rekaman. Penolakan demi penolakan menjadi santapan sehari-hari yang harus ditelan dengan lapang dada. Ada malam-malam penuh keheningan ketika sepiring nasi bungkus harus dibagi bersama untuk menahan lapar, sembari menahan air mata rindu pada pelukan keluarga di kampung halaman. Namun, kepedihan itu tak pernah sanggup mematahkan keyakinan mereka.

Ketika kesempatan rekaman album perdana akhirnya terbuka pada tahun 1992, setiap tetes keringat dan keprihatinan masa lalu seolah terbayar lunas. Nada-nada yang tercipta sarat akan muatan emosional; lirik-lirik puitis yang mereka tulis mencerminkan keresahan jiwa anak muda yang tengah mencari jati diri. Karya mereka langsung menyentuh relung hati para pendengar dan menandai awal dari ledakan fenomena baru di industri musik Indonesia.

Terpaan Badai, Kehilangan, dan Kekuatan untuk Bangkit

Namun, jalan menuju puncak tak pernah lurus tanpa rintangan. Popularitas luar biasa yang datang bertubi-tubi perlahan menuntut harga yang teramat mahal. Terpaan badai kehidupan, gesekan ego personal, hingga pergantian personel sempat mengguncang fondasi yang telah dibangun bertahun-tahun. Masa-masa kelam itu menjadi ujian terberat bagi ketahanan batin masing-masing individu di balik layar panggung.

Kehilangan sosok sahabat seperjuangan, mendiang Erwin Prasetya yang berpulang mendahului mereka, menyisakan duka yang teramat dalam. Kematian sang pembetot bas pertama menyadarkan mereka bahwa waktu terus berjalan tanpa kompromi, dan persahabatan sejati adalah harta yang paling berharga. Di tengah berbagai perbedaan pandangan hidup dan perpisahan jalan karier, ada satu benang merah tak kasat mata yang selalu menyatukan mereka kembali: rasa saling menghargai sejarah yang pernah dilalui bersama.

"Kami pernah jatuh, saling terluka, dan merasa lelah. Namun, musik yang kami lahirkan bersama selalu memiliki cara ajaib untuk menyembuhkan luka dan memanggil kami pulang," tutur salah satu musisi senior itu dalam sebuah momen mengharukan di belakang panggung.

Melodi Abadi yang Menembus Lintas Generasi

Kini, hampir empat dekade telah berlalu sejak getaran nada pertama dimainkan di garasi Surabaya pada tahun 1986. Kelompok musik ini telah bermetamorfosis menjadi bagian dari sejarah dan memori kolektif bangsa. Karya-karya mereka bukan lagi sekadar susunan tangga nada, melainkan telah menjadi catatan harian bagi jutaan orang—menemani langkah mereka saat pertama kali jatuh cinta, merawat kesedihan kala patah hati, hingga memberi energi untuk bangkit dari titik terendah kehidupan.

Pemandangan di bangku penonton hari ini begitu menyentuh hati. Terlihat seorang ayah paruh baya bernyanyi lantang sambil merangkul pundak anak remajanya, keduanya larut menghafal bait demi bait lirik yang sama persis. Di bawah pendar ribuan cahaya lampu ponsel yang menyerupai taburan bintang di langit malam, batas antargenerasi seketika lebur dalam kehangatan harmoni.

Perjalanan panjang ini adalah bukti nyata tentang keajaiban sebuah keteguhan hati. Jauh di balik aransemen orkestrasi yang megah dan panggung-panggung raksasa, jiwa dari karya-karya abadi tersebut sesungguhnya tetaplah sama: sebuah mimpi sederhana dari empat anak sekolah di Surabaya yang percaya bahwa ketulusan nada akan mampu melintasi batas waktu dan menyentuh hati manusia selamanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User