Di sudut ruang ganti sementara Stadion Utama Gelora Bung Karno, Prince Poetiray berdiri membelakangi cermin besar. Tangannya yang biasanya luwes memegang mikrofon kini terasa dingin, basah oleh keringat yang tak ia duga sebelumnya. Malam itu, Senin (5/10), panggung penutupan final FIFA ASEAN Cup 2026 menunggu, dan ia harus tampil di depan puluhan ribu pasang mata.
Seorang rekan yang mendampinginya menggambarkan keadaan sang penyanyi dengan satu kalimat sederhana: tubuhnya tenang, tapi jantungnya berpacu seperti sedang berlari maraton. Prince Poetiray merasa sangat gugup jelang nyanyi di upacara penutupan final FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK pada Senin (5/10) malam.
Bagi seorang entertainer yang telah melanglang buana, momen semacam ini seharusnya bukan hal baru. Namun suasana stadion yang menggema, ditambah bobot acara sekelas final turnamen internasional, membuat dadanya terasa sesak. Ia mengaku sempat berpikir dua kali ketika undangan tampil pertama kali masuk.
"Aku sudah banyak manggung, tapi ini beda. Suasananya berat, rasanya seperti ada ribuan orang yang menunggu satu kesalahan kecil dariku."
Kalimat itu ia ucapkan sambil tersenyum tipis, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Gugup di Balik Layar
Menjelang jam tampil, Prince Poetiray menghabiskan waktu dengan berjalan bolak-balik di koridor sempit di bawah tribune. Beberapa kali ia berhenti, memejamkan mata, lalu menghembuskan napas panjang. Ia mencoba menenangkan diri dengan membayangkan momen-momen paling sederhana dalam perjalanannya bermusik, ketika ia tampil di ruang kecil dengan penonton yang bisa dihitung dengan jari.
Perjalanan menuju panggung sebesar itu ternyata tidak pernah terasa mudah. Di balik layar, banyak yang tidak tahu bahwa ia sempat menolak sarapan karena perutnya terlalu gugup untuk makan. Ia juga menolak tawaran untuk melihat langsung ribuan penonton dari sisi lapangan sebelum acara dimulai, karena takut keberaniannya runtuh lebih awal.
"Kalau aku lihat orangnya banyak sekarang, nanti kakiku gemetar duluan. Aku pilih untuk tidak tahu dulu seberapa penuh stadionnya."
Kru produksi sempat khawatir, namun mereka belajar memahami cara Prince menyiapkan diri. Ada yang mengantarkan teh hangat, ada pula yang hanya duduk diam di sampingnya, memberi ruang tanpa banyak bicara. Bagi Prince, kehadiran orang-orang yang tenang di sekitarnya justru menjadi penyeimbang.
Perjalanan Menuju Panggung Besar
Kisah Prince Poetiray tidak lahir dari kemudahan. Ia mengisahkan perjalanan panjang yang penuh penolakan, audisi yang gagal, dan malam-malam panjang ketika mimpi terasa terlalu jauh untuk dikejar. Dari panggung-panggung kecil, ia belajar membaca wajah penonton, menangkap energi ruangan, dan menemukan cara menyapa orang asing lewat lagu.
Berjuang di industri musik membuat ia terbiasa dengan rasa takut. Namun kali ini rasa itu datang dalam bentuk yang berbeda: bukan takut tidak ada yang datang, melainkan takut mengecewakan terlalu banyak orang sekaligus.
Sebelum naik panggung, ia mengirim pesan singkat kepada sang ibu. Isinya singkat, hanya beberapa baris, namun menyimpan emosi yang ia tahan sepanjang hari. Ibunya membalas dengan doa pendek yang membuat matanya berkaca-kaca. Momen mengharukan itu terjadi justru beberapa menit sebelum namanya dipanggil.
Saat Nada Pertama Akhirnya Bergema
Ketika lampu panggup menyorotnya, dunia di luar stadion seolah berhenti. Nada pertama keluar dengan sedikit gementar, hampir tidak terdengar oleh penonton, tetapi jelas bagi telinganya sendiri. Ia sempat berhenti sepersekian detik, lalu menatap tribune yang menggunung di depannya.
Di titik itulah segalanya berubah. Ia menyadari bahwa ribuan orang di hadapannya bukan penilai, melainkan saksi perjalanan yang sama panjangnya dengan miliknya. Suaranya perlahan menemukan kekuatan, nadanya menguat, dan kegugupan berubah menjadi energi panggung yang mengalir.
"Waktu nada pertama keluar, aku sempat mau mundur. Tapi ada satu suara di kepala yang bilang, ini mimpi yang kamu minta bertahun-tahun."
Sebuah penampilan yang tidak sempurna menurut standar teknis, namun penuh jiwa. Banyak penonton yang kemudian menyebut bagian itu sebagai salah satu momen paling menyentuh sepanjang malam final.
Pelajaran di Balik Keringat Dingin
Setelah panggung usai, Prince Poetiray kembali ke ruang ganti dengan senyum lebar. Keringat dingin masih menyelimuti punggungnya, tetapi beban di dadanya telah hilang. Ia duduk lama di kursi plastik, menatap mikrofon yang baru saja ia letakkan, seolah belum percaya bahwa semuanya benar-benar terjadi.
Baginya, rasa gugup bukanlah kelemahan. Ia justru menganggapnya sebagai tanda bahwa sesuatu yang berarti sedang dipertaruhkan. Tanpa rasa takut, kata ia, panggung akan terasa datar dan lagu kehilangan makna.
Kisah malam itu kemudian menjadi inspirasi tersendiri bagi banyak orang, terutama mereka yang sedang berjuang mengejar mimpi di bidang yang penuh ketidakpastian. Pesannya sederhana: gugup itu manusiawi, yang penting tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik kerlap-kelip stadion dan riuhnya sorak penonton, tersimpan kisah sederhana tentang seseorang yang memilih tetap berdiri meski seluruh tubuhnya meminta mundur. Dan bagi Prince Poetiray, malam di Gelora Bung Karno itu akan selalu ia kenang sebagai bukti bahwa mimpi terasa paling nyata ketika kita berani menghadapinya.
Comments (0)