Oct 16, 2026
entertainment

Ketika Syahrini Bercerita soal Gong dan Partai Baru di Atas Panggung

Di balik gemerlap lampu panggung Pestapora, seorang perempuan berbalut kostum berkilau berdiri di balik tirai, menggenggam palu kecil. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup, melainkan karena t...

Ketika Syahrini Bercerita soal Gong dan Partai Baru di Atas Panggung

Di balik gemerlap lampu panggung Pestapora, seorang perempuan berbalut kostum berkilau berdiri di balik tirai, menggenggam palu kecil. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup, melainkan karena tawa yang ia tahan sejak tadi. Ketika tirai terbuka, ia melangkah ke tengah panggung dan memukul sebuah gong raksasa yang dibawa khusus dari luar kota. Bunyinya bukan merdu — justru lucu, sengaja dibuat begitu. Penonton tertawa. Syahrini pun tersenyum puas. Momen sederhana itu menjadi pembuka dari rangkaian penampilan comeback-nya yang penuh kejutan.

Gong yang Bukan Sekadar Properti

Bagi sebagian orang, gong hanyalah benda perkusi tradisional. Namun bagi Syahrini, gong itu punya cerita panjang. Ia mengisahkan bagaimana ide itu muncul secara tak sengaja saat dirinya dan tim kreatif duduk melingkar di ruang latihan berukuran tak lebih dari 4x5 meter. “Awalnya kami cuma bercanda, kalau gong bisa jadi tanda dimulainya sesuatu yang baru. Ternyata malah jadi ikon di panggung,” tuturnya sambil tertawa kecil. Ia menyebut gong itu sebagai simbol kebangkitan — bukan hanya bagi karier bermusiknya, tetapi juga bagi keberaniannya untuk tampil apa adanya, tanpa beban citra yang selama ini melekat.

Di balik layar, tim produksi sempat ragu. Ukuran gong yang besar dinilai merepotkan secara teknis. Namun Syahrini bersikeras. “Saya bilang, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ini panggung yang saya tunggu lama,” kenangnya. Air mata sempat menetes saat gladi resik terakhir, ketika ia sadar bahwa penampilan ini bukan sekadar hiburan, melainkan perjalanan pulang ke dunianya sendiri.

Partai Baru dan Humor yang Menyentuh

Salah satu segmen yang paling menuai tawa adalah ketika Syahrini mendeklarasikan “partai baru” di atas panggung. Bukan partai politik, melainkan sebuah lelucon yang ia bangun dari obrolan ringan bersama kru. Ia berdiri di podium mini, memakai kacamata hitam, lalu berpidato dengan gaya seorang orator. “Ini partai untuk semua orang yang pernah ditertawakan, tapi tetap bangkit,” ujarnya, disambut tepuk tangan riuh. Penonton yang awalnya mengira ini sekadar gimmick justru terhanyut dalam pesan tersirat di baliknya.

Menurut Syahrini, humor adalah cara paling jujur untuk menyampaikan hal-hal berat. Ia mengaku sempat merasa terpuruk ketika namanya jarang terdengar di panggung musik. “Tapi saya belajar, kadang kita harus bisa menertawakan diri sendiri dulu sebelum orang lain menertawakan kita,” ucapnya lirih. Kalimat itu sederhana, namun menyentuh banyak hati yang hadir malam itu. Ia lalu menambahkan bahwa dirinya tidak ingin tampil sebagai sosok yang sempurna, melainkan sebagai manusia yang pernah jatuh dan memilih untuk bangkit dengan senyum.

Mimpi yang Tak Pernah Padam

Di sudut belakang panggung, setelah semua lampu redup, Syahrini duduk di bangku kayu. Ia memandangi gong yang tadi ia pukul. “Benda ini murah, tapi artinya mahal buat saya,” katanya. Ia mengisahkan bahwa selama bertahun-tahun ia menyimpan mimpi untuk kembali menyapa penggemar dengan cara yang berbeda. Bukan dengan balutan kemewahan, melainkan dengan kisah yang bisa dipeluk siapa saja. Malam itu, ia membuktikan bahwa panggung tidak selalu soal penampilan, tetapi soal keberanian untuk jujur.

Penampilan di Pestapora 2026 itu menjadi penanda babak baru. Bagi Syahrini, gong dan “partai” hanyalah alat. Yang ia bagikan sesungguhnya adalah inspirasi bahwa setiap orang berhak memulai ulang, sekalipun dengan cara yang terlihat lucu dan sederhana. Penonton pulang membawa tawa, tetapi juga membawa satu pesan: bangkit itu tidak harus selalu serius. Kadang, cukup dengan memukul gong, lalu tertawa bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User