Oct 16, 2026
entertainment

Ketika Suara Bocelli Bergema di Petra, Sebuah Kota Menolak Lupa

Di sudut sebuah kedai kopi kecil di Wadi Musa, beberapa kilometer dari gerbang menuju Petra, Abu Khalil duduk termenung. Tangan tuanya menggenggam cangkir teh yang mulai dingin. Matanya kosong menatap...

Ketika Suara Bocelli Bergema di Petra, Sebuah Kota Menolak Lupa

Di sudut sebuah kedai kopi kecil di Wadi Musa, beberapa kilometer dari gerbang menuju Petra, Abu Khalil duduk termenung. Tangan tuanya menggenggam cangkir teh yang mulai dingin. Matanya kosong menatap poster konser yang tertempel di dinding: wajah penyanyi tenor legendaris Andrea Bocelli, dengan latar kemegahan Al-Khazneh, bangunan pahat batu berusia lebih dari dua ribu tahun. "Aku tumbuh dengan suara Bocelli," ujarnya pelan, hampir berbisik. "Tapi malam ini, suara itu terasa asing di telingaku."

Konser yang dijadwalkan berlangsung di jantung kota kuno Petra, Yordania, itu kini berada di pusaran badai. Bukan karena kualitas musik, bukan karena tiket yang mahal, melainkan karena jejak politik yang melekat pada sang penyanyi. Sebuah gerakan boikot yang digalang oleh pihak-pihak yang menamakan diri pendukung BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) Yordania menyerukan agar masyarakat tidak menghadiri pertunjukan megah tersebut. Isu ini bukan sekadar tentang panggung, tetapi tentang luka, memori, dan pilihan berdiri di mana.

Ketika Musik Tak Lagi Netral

Malam itu, di sebuah ruang pertemuan sederhana di Amman, puluhan anak muda berkumpul. Mereka bukan penikmat musik klasik, bukan pula aktivis politik berpengalaman. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, seniman jalanan, dan pekerja kreatif yang tumbuh dengan playlist Barat. Namun, percakapan mereka malam itu berat. "Kami tidak memboikot musik," ujar Lina, seorang pelukis muda berusia 24 tahun, dengan suara bergetar. "Kami hanya bertanya: bolehkah kita menikmati keindahan sementara darah mengalir di tempat lain?"

"Kami tidak menentang seni. Kami menentang diam yang dibeli dengan gemerlap panggung." — Lina, seniman muda Amman

Mereka mengisahkan bagaimana perdebatan ini telah memecah keluarga, persahabatan, bahkan komunitas musik lokal. Ada yang berargumen bahwa seni seharusnya bebas dari politik. Namun, bagi mereka yang mendukung gerakan boikot, netralitas adalah kemewahan yang tidak dimiliki oleh mereka yang kehilangan rumah, tanah, dan kerabat. Di balik layar, panitia konser berulang kali menegaskan bahwa acara ini murni budaya dan pariwisata. Namun, bagi warga seperti Abu Khalil, argumen itu terasa begitu jauh dari realitas.

Mimpi yang Terbelah di Kota Batu

Petra memang bukan sekadar lokasi. Ia adalah simbol. Berdiri di antara tebing-tebing batu pasir yang berubah warna dari merah muda menjadi keemasan saat matahari terbenam, Petra adalah saksi bisu dari peradaban yang pernah berjaya dan runtuh. Membawa konser kelas dunia ke tempat ini adalah mimpi banyak orang Yordania yang ingin negaranya dikenal bukan karena konflik, melainkan karena keindahan. Namun, mimpi itu kini terbelah.

Di sisi lain kota, seorang pemandu wisata bernama Omar mengaku bingung. Ia telah menyiapkan tur khusus untuk wisatawan asing yang datang menyaksikan konser. "Aku butuh pekerjaan," katanya datar. "Aku punya tiga anak. Boikot ini membuat perut mereka ikut memboikot makanan." Kisah Omar adalah potret dilema yang menyentuh: antara solidaritas ideologis dan kebutuhan untuk bertahan hidup. Tidak ada yang benar-benar salah, tetapi semua merasakan getirnya.

Air Mata di Bawah Bintang Petra

Malam konser semakin dekat. Beberapa tiket akhirnya dikembalikan. Sebagian wisatawan lokal memilih tidak hadir, meski telah membeli tiket jauh-jauh hari. Di sebuah sudut kota, seorang perempuan paruh baya menangis. Ia tidak bisa mengungkapkan seluruh isi hatinya, tetapi ia mengisahkan bagaimana ia dulu mendengarkan lagu-lagu Bocelli bersama mendiang suaminya. "Aku ingin mendengar suara itu satu kali lagi, di tempat paling indah di dunia," ujarnya, air mata mengalir di pipi yang keriput. "Tapi aku tidak bisa. Hatiku terlalu berat."

Di balik layar panggung megah yang sedang dibangun, para pekerja tetap bekerja. Mereka memasang lampu, menyusun kursi, dan mengatur panggung. Mereka tidak berbicara banyak. Namun, mata mereka menyimpan ribuan pertanyaan yang tidak pernah mereka ucapkan. Apakah keindahan suara bisa menutupi luka? Apakah panggung megah ini akan menjadi jembatan atau justru dinding yang memisahkan?

"Keindahan Petra tidak butuh suara siapa pun untuk bersinar. Kami hanya ingin dunia melihat kami sebagai manusia, bukan sebagai latar belakang." — Abu Khalil, warga Wadi Musa

Hingga berita ini ditulis, belum ada keputusan resmi mengenai pembatalan konser. Namun, satu hal yang pasti: Petra tetap berdiri. Ia akan tetap memantulkan cahaya matahari, tetap menyimpan bisikan-bisikan doa dari mereka yang berjuang. Konser mungkin akan berlangsung, atau mungkin batal. Tetapi kisah tentang sebuah kota, tentang air mata di bawah bintang, dan tentang keberanian untuk berkata tidak — itulah yang akan tinggal lebih lama dari gemuruh tepuk tangan. Sebab di atas batu-batu merah Petra, ada mimpi yang tidak bisa dibeli oleh tiket termahal sekalipun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User