Di sebuah ruang penyuntingan yang remang, Alejandro González Iñárritu menatap layar monitor dengan mata lelah. Bukan karena ia kurang tidur, melainkan karena ia baru saja menonton ulang karyanya sendiri, Digger, dari awal hingga akhir. Ia tidak melihat sebuah mahakarya. Ia melihat sesuatu yang lain: sebuah luka yang sengaja ia biarkan terbuka.
Kepada sejumlah wartawan, sutradara asal Meksiko itu mengisahkan perjalanan panjang pembuatan Digger. Ia tahu betul bahwa film ini tidak akan menyenangkan semua orang. Dan ia menerima kenyataan itu dengan dada yang lapang, bukan dengan amarah atau kekecewaan.
Sebuah Pengakuan yang Lahir dari Kejujuran
"Saya sadar, ini bukan film yang sempurna," ujar Iñárritu, seperti dikutip dari sejumlah pemberitaan. Kalimat itu bukan bentuk kerendahan hati yang dibuat-buat. Ia mengucapkannya seperti seorang ayah yang mengakui bahwa anaknya memiliki kekurangan, namun tetap ia cintai sepenuhnya.
Di balik layar, proses kreatif Digger ternyata penuh gejolak. Iñárritu mengaku sempat berdebat panjang dengan timnya sendiri. Ada malam-malam ketika ia merasa arah cerita ini terlalu berani, terlalu jujur, hingga membuat sebagian orang di ruangan merasa tidak nyaman. Namun justru dari ketidaknyamanan itulah ia menemukan alasan untuk terus melangkah.
"Saya tidak membuat film untuk menyenangkan semua orang. Saya membuat film karena ada sesuatu di dalam dada yang harus keluar."
Menerima Reaksi dengan Hati Terbuka
Baginya, sebuah karya tidak wajib dicintai semua penonton. Ada kalanya film hadir bukan untuk menghibur, melainkan untuk menampar dan membuat kita berpikir ulang. Ia mengisahkan bagaimana ia pernah duduk di kursi belakang sebuah bioskop, mendengarkan bisik-bisik penonton yang kecewa. Ia tidak bangkit untuk membela diri. Ia hanya tersenyum tipis, lalu keluar dari gedung itu dengan langkah tenang.
"Setiap orang punya hak untuk tidak menyukainya. Saya menghormati itu," tuturnya. Momen mengharukan justru datang dari orang-orang terdekatnya. Ada anggota kru yang menangis saat syuting terakhir usai. Bukan karena sedih filmnya berakhir, tetapi karena mereka tahu, mereka baru saja melewati sesuatu yang jujur dan menyentuh, meski tak sempurna.
Di Balik Ketidaksempurnaan, Ada Keberanian
Perjalanan Iñárritu bersama Digger mengajarkan satu hal sederhana: tidak semua mimpi harus berwujud sempurna agar layak diperjuangkan. Ia berjuang, jatuh, bangkit, lalu kembali duduk di belakang kamera. Inspirasi itu ia titipkan kepada siapa pun yang pernah merasa karyanya tidak cukup baik.
"Ketidaksempurnaan bukan akhir dari segalanya. Itu justru awal dari kejujuran," ujarnya penuh haru. Di sudut ruangan kecil tempat ia berbicara, tampak beberapa lembar naskah bertumpuk, coretan pensil merah memenuhi margin. Di sanalah kisah Digger bermula, dan di sanalah ia memutuskan untuk tidak menyesali apa pun.
Comments (0)