Oct 10, 2026
entertainment

Kehangatan Imlek dalam Balutan Foto Daniel Mananta dan Viola

Di sebuah studio foto di kawasan Jakarta Selatan, tawa lepas terdengar di sela-sela bunyi lampu kilat yang berkedip. Daniel Mananta, pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pembawa acara denga...

Kehangatan Imlek dalam Balutan Foto Daniel Mananta dan Viola

Di sebuah studio foto di kawasan Jakarta Selatan, tawa lepas terdengar di sela-sela bunyi lampu kilat yang berkedip. Daniel Mananta, pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pembawa acara dengan senyum khasnya, berdiri di samping istrinya, Viola Maria, yang tampak anggun dalam balutan busana bernuansa merah. Keduanya bukan sedang memandu sebuah acara besar. Malam itu, mereka sedang berpose untuk sesuatu yang jauh lebih personal: merayakan Imlek sebagai sebuah keluarga.

Momen itu terasa sederhana, namun justru kesederhanaannya yang membuatnya menyentuh. Tidak ada panggung megah, tidak ada sorotan kamera televisi yang menuntut profesionalisme. Yang ada hanyalah sepasang suami-istri yang saling menggenggam tangan, sesekali bertukar pandang, lalu tertawa kecil saat fotografer meminta mereka mengubah gaya. Di balik setiap bidikan, ada kehangatan yang sulit dipalsukan.

Perjalanan Sebuah Tradisi yang Dirawat

Bagi Daniel, Imlek bukan sekadar perayaan tahunan yang datang dan pergi. Ia mengisahkan bahwa tradisi ini adalah warisan yang ia rawat sejak kecil, ketika keluarganya masih berkumpul di rumah nenek dengan meja panjang penuh hidangan. Kini, giliran dirinya yang berusaha meneruskan kebiasaan itu kepada keluarganya sendiri. “Aku ingin anak-anak tumbuh dengan kenangan Imlek yang hangat, bukan cuma soal angpao,” ujarnya suatu ketika, dengan mata yang berbinar mengingat masa kecilnya.

Viola, di sisi lain, mengaku awalnya tidak terlalu akrab dengan tradisi Tionghoa. Namun perjalanan hidup bersamanya Daniel membawa ia pada pemahaman baru: bahwa Imlek adalah tentang berkumpul, memaafkan, dan memulai kembali. Air mata haru sempat menetes saat pertama kali ia merayakan Imlek bersama keluarga besar Daniel, bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa diterima yang begitu besar.

Sesi pemotretan yang berlangsung beberapa jam itu bukan tanpa cerita. Di sela-sela jeda, Daniel sempat mengeluh ringan soal pose yang “terlalu kaku”, lalu meminta agar mereka difoto sambil tertawa. Hasilnya, sebuah potret yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga jujur secara perasaan. Momen mengharukan itu kemudian ia bagikan lewat unggahan di media sosial, dan sontak menuai reaksi hangat dari warganet.

Di Balik Lensa, Ada Mimpi yang Sama

Fotografer yang menangani sesi itu mengaku tertantang. Bukan karena Daniel dan Viola sulit diarahkan, justru sebaliknya. “Mereka terlalu natural, sampai aku bingung mau ambil angle mana,” ujarnya sambil tertawa. Namun dari puluhan foto yang dihasilkan, ada satu hal yang konsisten muncul: tatapan penuh kasih di antara keduanya.

Daniel dan Viola memang bukan pasangan yang gemar pamer. Mereka lebih sering tampil apa adanya, dengan cerita-cerita kecil yang mungkin dianggap remeh orang lain, tetapi berarti bagi mereka. Dalam balutan pakaian Imlek yang serba merah dan emas itu, mereka ingin menyampaikan pesan sederhana: bahwa perayaan bukan soal kemewahan, melainkan soal siapa yang ada di samping kita saat momen itu datang.

Bagi banyak orang, potret itu mungkin hanya sekadar foto liburan atau ungkapan tahun baru. Namun bagi Daniel dan Viola, ada makna yang lebih dalam. Mimpi mereka bukanlah panggung besar atau sorotan lampu, melainkan rumah yang selalu bisa mereka pulangi bersama. Dan Imlek, dengan segala lampu lampion dan aroma kue keranjang, menjadi pengingat tahunan akan mimpi itu.

Inspirasi dari Hal-Hal yang Sederhana

Kisah Daniel dan Viola bukan kisah yang penuh drama atau konflik. Justru di situlah letak kekuatannya. Di tengah dunia yang sering mengagungkan pencapaian besar, mereka mengingatkan bahwa inspirasi bisa datang dari hal-hal paling sederhana: tawa bersama, makan malam tanpa gawai, atau foto berdua di ruang tamu yang penuh cahaya.

Bagi mereka yang sempat melihat unggahan itu, pesan yang tersampaikan cukup jelas. Bahwa Imlek, atau perayaan apa pun, adalah momen untuk pulang. Pulang kepada keluarga, kepada tradisi, dan kepada diri sendiri. Air mata kebahagiaan Daniel dan Viola menjadi saksi bahwa cinta bukan soal seberapa lama mereka bersama, tetapi seberapa dalam mereka saling merawat.

Malam itu berakhir dengan pelukan hangat, bukan dengan kata-kata besar. Dan seperti kata Daniel sambil tersenyum, “Imlek yang paling berkesan itu bukan yang paling meriah, tapi yang paling kita rasain.” Itulah potret yang tidak akan pernah bisa ditangkap kamera mana pun: sebuah keluarga yang, dalam diamnya, sedang berjuang untuk saling menjaga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User