Di sebuah ruangan wawancara yang tidak terlalu luas, dengan cahaya lampu studio yang hangat, Ju Ji-hoon duduk tenang sambil sesekali tersenyum tipis. Ia baru saja membicarakan peran barunya dalam drama The Remarried Empress — sebuah karakter yang, menurutnya, tidak akan membuat penonton jatuh cinta. Justru sebaliknya. Dan anehnya, ia menantikan momen itu.
"Aku ingin merasakan bagaimana rasanya dibenci," ujarnya singkat, dikutip dari sebuah sesi wawancara eksklusif. Kalimat itu keluar bukan dengan nada menantang, melainkan dengan ketenangan seorang aktor yang sudah lama berkecimpung di dunia akting. Ia mengisahkan bahwa ketertarikan pada karakter antagonis bukan soal mencari sensasi, melainkan soal menguji batas kemampuan sebagai pemain.
Di Balik Pilihan Menjadi Sosok yang Tidak Dicintai
Bagi banyak aktor, popularitas dan citra baik adalah mata uang utama. Namun Ju Ji-hoon memilih jalan yang berbeda. Ia mengaku bahwa karakter jahat atau kontroversial memberinya ruang eksplorasi yang lebih luas. Di sinilah ia bisa menunjukkan sisi manusiawi dari tokoh yang tampak dingin, ambisius, atau bahkan kejam.
"Kalau semua orang mencintai karakterku, itu menyenangkan. Tapi kalau penonton marah, berarti aku berhasil," tuturnya sambil tersenyum kecil. Pernyataan itu sederhana, tetapi menyimpan beban kerja keras yang panjang. Ia mengisahkan bagaimana ia menghabiskan berjam-jam membaca ulang naskah, mencari motif tersembunyi dari setiap dialog, dan membayangkan luka batin yang membuat karakternya bertindak demikian.
Ia juga menyebut bahwa The Remarried Empress memiliki basis penggemar yang besar dan emosional. Mereka sangat terikat dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Karena itu, ia sadar betul bahwa setiap gerak-gerik karakternya akan diperhatikan detail. "Aku tidak ingin membuat penonton kecewa hanya karena aku takut dibenci. Justru aku ingin mereka benar-benar membenci karakternya, bukan aku sebagai pribadi," katanya.
Air Mata di Balik Layar dan Tekanan yang Dihadapi
Di balik layar, proses syuting tidak selalu berjalan mulus. Ju Ji-hoon mengaku pernah mengalami momen mengharukan ketika harus memerankan adegan emosional yang menuntut dirinya menahan air mata. Bukan karena ia tidak bisa menangis, tetapi karena ia harus menahan diri agar tidak berlebihan. "Ada adegan di mana aku harus terlihat kuat di depan orang lain, padahal di dalam hatiku hancur. Itu sulit, tapi menyenangkan," ujarnya.
Ia juga berbicara tentang tekanan dari ekspektasi publik. Banyak penggemar drama Korea yang sangat vokal di media sosial. Mereka bisa memuji dengan tulus, tetapi juga mengkritik dengan tajam. Ju Ji-hoon menyambut itu semua sebagai bagian dari perjalanan. "Aku tidak bisa mengontrol reaksi orang. Yang bisa aku lakukan adalah memberikan yang terbaik di setiap adegan," katanya.
Dalam sesi wawancara itu, ia beberapa kali menyebut kata "berjuang". Baginya, menjadi aktor bukan soal tampil keren di layar, melainkan soal berjuang memahami manusia. "Setiap karakter punya mimpi, punya luka, punya alasan. Tugasku adalah menemukan itu semua," tuturnya.
Inspirasi dari Kebencian yang Diharapkan
Ju Ji-hoon sadar bahwa perannya di The Remarried Empress bisa jadi titik balik dalam kariernya. Bukan karena ia akan dicintai lebih banyak, tetapi karena ia akan diuji lebih dalam. Ia mengisahkan bahwa dirinya pernah berada di titik terendah karier, ketika tawaran peran menipis dan ia merasa kehilangan arah. Dari situ, ia belajar bahwa bangkit bukan soal kembali populer, melainkan soal kembali berani.
"Aku tidak takut dicaci. Aku hanya takut tidak jujur dalam berakting," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca. Kalimat itu menyentuh, karena menunjukkan kerentanan seorang aktor yang telah lama berdiri di bawah sorotan. Ia tidak ingin menjadi sosok yang selalu disukai. Ia ingin menjadi sosok yang diingat.
Bagi penonton, karakter yang ia perankan mungkin akan memicu emosi kuat. Namun di balik layar, ada seorang pria yang bekerja dengan sepenuh hati, membaca naskah hingga larut malam, dan berlatih ekspresi di depan cermin. Ia berjuang untuk membuat penonton marah, karena dari kemarahan itu, ia berharap muncul rasa kagum pada seni peran.
"Kalau nanti ada yang bilang 'aku benci banget sama karakter itu', aku akan tersenyum. Itu artinya aku berhasil," katanya menutup wawancara. Sebuah pengakuan sederhana dari seorang aktor yang memilih jalan sunyi, bukan jalan yang dipenuhi tepuk tangan. Dan dari sana, ia menemukan inspirasi yang jauh lebih dalam daripada sekadar popularitas.
Comments (0)