Oct 10, 2026
entertainment

Jennifer Coppen dan Malam Panjang di Ruang Komentar

Di balik layar ponselnya, perempuan bertubuh mungil itu duduk termenung. Ada tiga ribu lebih notifikasi masuk dalam satu malam. Sebagian besar berisi hujatan, sumpah serapah, dan kata-kata yang jarang...

Jennifer Coppen dan Malam Panjang di Ruang Komentar

Di balik layar ponselnya, perempuan bertubuh mungil itu duduk termenung. Ada tiga ribu lebih notifikasi masuk dalam satu malam. Sebagian besar berisi hujatan, sumpah serapah, dan kata-kata yang jarang ia dengar bahkan dari orang asing di jalan. Jennifer Coppen mengisahkan momen itu dengan suara datar, seperti sedang membaca catatan lama dari buku harian yang sudah menguning.

Semuanya bermula dari satu kalimat sarkas yang ia tulis di kolom komentar media sosial. Sebuah cuitan spontan soal performa Timnas Malaysia di ajang sepak bola bergengsi se-Asia Tenggara. Kalimat itu, menurutnya, hanya guyonan kecil. Bagaimana pun, ia tumbuh di lingkungan yang terbiasa menonton pertandingan, mendengar teriakan di ruang tamu, dan merayakan gol dengan pelukan hangat. Tapi kali ini, leluconnya berbuah badai.

Ketika Satu Kalimat Berubah Menjadi Ribuan Hujatan

Jennifer mengaku tidak menyangka reaksi yang datang begitu deras. Dalam hitungan jam, akunnya dibanjiri komentar dari netizen negeri tetangga. Ada yang menyerang fisiknya, ada yang menyinggung mendiang suaminya, ada pula yang mengancamnya. "Aku cuma bilang soal bola, kok bisa jadi seperti ini?" ujarnya mengenang percakapan batin yang berulang kali muncul di kepalanya malam itu.

Ia mengisahkan bahwa dirinya sempat membalas beberapa komentar dengan nada bercanda. Berharap suasana cair. Namun api justru makin membakar. Di titik itu, ia menyadari bahwa ruang komentar bukan lagi tempat berdiskusi, melainkan arena perang tanpa wasit. Perempuan yang dikenal lewat perjalanan karier di dunia hiburan itu memilih menutup ponsel, menenangkan diri, dan duduk di samping putrinya yang masih kecil.

"Dari semua hujatan itu, yang paling menyakitkan bukan soal aku. Tapi ketika mereka menyeret nama orang yang sudah nggak ada. Itu benar-benar di luar batas," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Di Balik Kamera: Ketakutan yang Tak Terlihat

Yang jarang terlihat publik adalah sisi lain dari peristiwa itu. Jennifer bercerita bahwa ia sempat enggan membuka ponsel selama dua hari. Ia takut membaca pesan baru, takut melihat notifikasi, bahkan takut mengunggah foto sederhana bersama anaknya. Rasa aman yang biasanya ia rasakan lewat layar, perlahan berubah menjadi ruang yang mengintimidasi.

Namun dari momen kelam itu, tumbuh pelajaran yang ia pegang sampai kini. Ia mulai belajar bahwa tidak semua orang perlu direspons. Bahwa berhenti berkomentar adalah bentuk keberanian tersendiri. Dan bahwa kata-kata, betapa pun singkatnya, punya daya dobrak yang bisa melukai siapa saja. Ia berjuang untuk bangkit, bukan dengan membalas, melainkan dengan menata ulang batas-batas antara dirinya dan dunia maya.

Beberapa teman dekatnya mengisahkan bahwa Jennifer kembali tersenyum setelah beberapa hari. Ia kembali bermain dengan putrinya, kembali memasak di dapur kecil apartemennya, kembali tertawa lepas tanpa memikirkan ribuan komentar itu. Momen mengharukan terjadi ketika putrinya memeluknya erat dan bertanya, "Mama kenapa sedih?" Pertanyaan sederhana itu, katanya, menjadi titik balik. Ia sadar bahwa hal terpenting bukanlah apa yang orang lain pikirkan tentangnya, melainkan bagaimana ia hadir untuk keluarganya.

Inspirasi Kecil dari Ruang Komentar

Meski begitu, Jennifer tidak sepenuhnya menutup pintu. Ia masih aktif di media sosial, masih membalas komentar warganya dengan ramah. Bedanya, kini ia lebih hati-hati dalam memilih kata. Ia menyebut pengalaman itu sebagai cermin: sebuah pengingat bahwa di ujung setiap layar ada manusia yang sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing.

Kisah Jennifer bukan semata soal sepak bola atau ejekan di dunia maya. Ini adalah perjalanan seorang perempuan yang belajar berdiri kembali setelah diterjang badai kata. Ia mengajarkan satu hal sederhana: diam bukan berarti kalah, dan berhenti membalas bukan tanda menyerah. Terkadang, justru di situ letak kekuatan sejati.

Kini, saat ia mengunggah foto selfie bersama putrinya, kolom komentar tetap ramai. Namun kali ini, lebih banyak doa dan dukungan. Jennifer tersenyum tipis. Ia tahu, hujatan mungkin akan datang lagi kapan saja. Tapi ia juga tahu, hatinya sudah jauh lebih kokoh dari sekadar kata-kata orang di dunia maya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User