Di sebuah ruang mediasi yang sunyi, dua perempuan duduk berhadapan dengan jarak meja yang tak lebih dari satu meter. Nur Rohmah, seorang mantan asisten rumah tangga, menggenggam berkas gugatan senilai Rp1 miliar. Di seberangnya, Rien Wartia Trigina—yang lebih dikenal publik sebagai Erin—menatap datar. Tak ada senyum, tak ada jabat tangan yang menghangatkan. Pertemuan yang seharusnya menjadi jembatan penyelesaian itu justru berakhir tanpa titik temu. Pintu ruangan tertutup, dan dua dunia yang pernah terikat dalam hubungan kerja kini terpisah oleh tembok kerasnya ego dan luka.
Kisah ini bukan sekadar sengketa angka. Ia adalah perjalanan seorang perempuan sederhana yang pernah mengabdi di rumah orang lain, lalu memutuskan melawan. Nur Rohmah menuntut ganti rugi yang fantastis—Rp1 miliar—sebuah angka yang bagi banyak orang terdengar seperti mimpi, tetapi baginya adalah simbol keadilan yang selama ini ia rasa diabaikan.
Perempuan di Balik Gugatan
Nur Rohmah bukan sosok yang biasa tampil di layar kaca. Ia menghabiskan hari-harinya dengan pekerjaan yang jarang dilirik: menyapu, mencuci, memasak, dan merawat rumah tangga orang lain. Bertahun-tahun ia mengabdikan tenaga untuk keluarga Erin. Namun, di balik rutinitas itu, ada air mata yang tak terlihat dan beban yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
“Saya hanya ingin keadilan,” ujarnya lirih dalam sebuah kesempatan, seperti dikutip dari dokumen resmi yang beredar. Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan letupan emosi yang mengendap lama. Baginya, bekerja sebagai ART bukan hanya soal upah, melainkan tentang harga diri yang kerap diabaikan.
Ketika ia memutuskan menggugat, banyak yang mencibir. Ada yang menyebutnya nekat, ada pula yang menuduhnya mencari sensasi. Namun, bagi Nur Rohmah, langkah itu adalah kebangkitan dari bertahun-tahun rasa terpinggirkan. Ia ingin membuktikan bahwa suara seorang asisten rumah tangga pun layak didengar di ruang hukum yang megah.
Ketika Mediasi Tak Menemukan Titik Terang
Mediasi yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu sesungguhnya menjadi harapan terakhir. Kedua belah pihak dipertemukan untuk mencari solusi damai. Namun, sejak awal, suasana sudah dingin. Tim kuasa hukum masing-masing duduk kaku, sementara Nur Rohmah dan Erin hanya sesekali bertatapan.
“Mediasi sudah kami lakukan, namun tidak mencapai kesepakatan. Perkara ini akan kami lanjutkan ke persidangan,” ujar Kuasa hukum Nur Rohmah, seperti dikutip dari dokumen resmi yang beredar.
Kalimat itu menandai berakhirnya harapan perdamaian. Tak ada angpao, tak ada permintaan maaf, tak ada pelukan. Yang tersisa hanyalah kekecewaan yang menggantung di udara. Erin sendiri memilih bungkam. Ia bukan tipe yang suka berbicara panjang di depan publik. Namun, sikap diamnya justru menyimpan sejuta tanya: apakah ini soal uang, atau tentang sesuatu yang lebih dalam?
Pihak Erin melalui kuasa hukumnya menyatakan bahwa gugatan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat. Mereka menilai angka Rp1 miliar tidak proporsional dengan pekerjaan yang dilakukan. Namun, bagi Nur Rohmah, angka itu bukan sekadar hitungan matematis. Ia adalah bentuk pengakuan atas waktu, tenaga, dan perasaan yang telah dicurahkan.
Luka yang Tak Terlihat di Balik Dinding Rumah
Kasus ini membuka tabir tentang realitas pekerja rumah tangga di Indonesia. Mereka yang setiap hari menyiapkan makanan, membersihkan rumah, dan merawat anak-anak orang lain, sering kali tak punya perlindungan hukum yang memadai. Upah rendah, jam kerja tak terbatas, dan hubungan yang tidak setara menjadi makanan sehari-hari.
Nur Rohmah mungkin hanya satu dari ribuan ART yang mengalami hal serupa. Namun, keberaniannya menggugat Rp1 miliar—betapapun dianggap berlebihan—telah memantik diskusi tentang hak-hak mereka. Ini bukan tentang siapa yang menang atau kalah. Ini tentang mimpi sederhana: diakui sebagai manusia yang layak.
Erin, yang pernah menjadi figur publik, kini berada di pusat sorotan yang tak ia duga. Di balik layar, ia mungkin memiliki alasan yang tak diketahui publik. Namun, hukum akan tetap berjalan. Persidangan berikutnya dijadwalkan dalam waktu dekat, dan keduanya harus kembali duduk di ruang yang sama—kali ini dengan konsekuensi yang lebih berat.
Sementara itu, Nur Rohmah pulang dengan langkah yang mungkin lelah, tetapi tidak patah. Ia tahu, perjuangannya belum selesai. Di sudut hatinya, ada harapan kecil yang tetap menyala: bahwa suatu hari, keadilan itu bukan lagi barang mewah bagi mereka yang selama ini hanya bisa menunduk. Mediasi boleh buntu, tetapi kisah ini belum berakhir.
Comments (0)