Oct 11, 2026
entertainment

Empat Abad Jejak Syekh Yusuf dan Warisan Perjuangan yang Tak Padam

Di sebuah ruangan yang dipenuhi undangan berpakaian adat, suasana hening sejenak ketika nama Syekh Yusuf Al-Makassari disebut. Beberapa pasang mata tampak berkaca-kaca. Bukan karena duka, melainkan ka...

Empat Abad Jejak Syekh Yusuf dan Warisan Perjuangan yang Tak Padam

Di sebuah ruangan yang dipenuhi undangan berpakaian adat, suasana hening sejenak ketika nama Syekh Yusuf Al-Makassari disebut. Beberapa pasang mata tampak berkaca-kaca. Bukan karena duka, melainkan karena kebanggaan yang mengalir begitu saja mengenang sosok yang empat abad lalu meninggalkan jejak begitu dalam bagi peradaban dunia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon berdiri di depan forum itu. Dengan suara yang mantap namun sarat haru, ia mengisahkan perjalanan hidup seorang ulama, pejuang, dan diplomat dari tanah Makassar yang namanya kini diabadikan di berbagai penjuru dunia. "Syekh Yusuf bukan sekadar milik kita. Ia milik dunia," ujarnya, dikutip dari peringatan empat abad tokoh besar tersebut.

Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi momen mengharukan bagi banyak pihak. Bukan hanya seremoni tahunan, tetapi sebuah refleksi panjang tentang bagaimana seorang putra Nusantara mampu menembus batas geografi, budaya, dan generasi. Dari Makassar, ia melanglang ke Banten, Ceylon, hingga Afrika Selatan, membawa pesan damai dan ilmu yang terus hidup hingga kini.

Perjalanan Seorang Pejuang yang Tak Pernah Menyerah

Mengisahkan sosok Syekh Yusuf tak akan pernah cukup dalam satu paragraf. Ia lahir di Gowa pada 1626, di tengah gejolak politik dan perjuangan melawan penjajah. Namun di balik gelar pejuang yang melekat, ada sisi lain yang jauh lebih menyentuh: seorang guru yang mengajar dengan sabar, seorang penulis yang produktif, dan seorang diplomat yang mampu menjalin persahabatan lintas benua.

Fadli Zon menekankan bahwa kontribusi Syekh Yusuf terhadap peradaban dunia begitu besar. Di balik layar sejarah kelam penjajahan, ia justru menanamkan benih-benih toleransi dan ilmu pengetahuan. "Warisan beliau adalah bukti bahwa Indonesia telah lama menjadi bagian dari peradaban global," tuturnya.

"Syekh Yusuf mengajarkan kita bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengangkat senjata, tetapi juga tentang mengangkat martabat manusia dengan ilmu dan akhlak."

Kutipan itu menggema di ruangan, mengingatkan banyak orang bahwa perjuangan tak selalu berakhir di medan laga. Syekh Yusuf, yang diasingkan ke Afrika Selatan, justru menjadi inspirasi bagi masyarakat di sana. Namanya diabadikan sebagai salah satu tokoh yang menyebarkan Islam di Tanjung Harapan. Bahkan, pemerintah Afrika Selatan menetapkannya sebagai pahlawan nasional.

Di Balik Layar Diplomasi Budaya yang Menembus Zaman

Bagi Fadli Zon, peringatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia melihatnya sebagai pijakan untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional. "Kita punya tokoh sekaliber Syekh Yusuf. Sudah sepatutnya kita bangga dan menjadikannya inspirasi dalam membangun peradaban hari ini," ujar mantan Wakil Ketua DPR itu.

Di sudut lain ruangan, beberapa akademisi dan budayawan tampak berdiskusi hangat. Mereka sepakat bahwa kisah Syekh Yusuf perlu terus diceritakan, terutama kepada generasi muda. Bukan dengan bahasa kaku yang membosankan, tetapi dengan sentuhan humanis yang mampu menyentuh hati.

Momen mengharukan terjadi ketika seorang mahasiswa asal Makassar diminta membacakan puisi tentang Syekh Yusuf. Dengan suara bergetar, ia melantunkan bait demi bait yang menggambarkan perjalanan panjang sang ulama. Air mata pun tak terhindarkan. "Saya merasa seperti sedang berbicara langsung dengan beliau," ujarnya usai membacakan puisi.

Inspirasi yang Terus Hidup dari Generasi ke Generasi

Empat abad bukan waktu yang singkat. Namun bagi Indonesia, warisan Syekh Yusuf tetap relevan. Nilai-nilai perjuangan, keteladanan, dan cinta ilmu yang ia tanamkan menjadi inspirasi bagi banyak orang hingga hari ini. Fadli Zon berharap peringatan ini tidak berhenti sebagai acara seremonial belaka.

"Mari kita jadikan semangat Syekh Yusuf sebagai energi untuk bangkit, untuk berkarya, dan untuk membawa nama Indonesia harum di mata dunia," ajaknya.

Di akhir acara, sebuah doa dipanjatkan. Suasana kembali hening. Namun kali ini, keheningan itu bukan tentang kehilangan, melainkan tentang rasa syukur dan tekad. Sebab dari seorang yang sederhana, lahir kisah besar yang menyentuh peradaban dunia. Syekh Yusuf mungkin telah tiada, tetapi jejaknya tak akan pernah padam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User