Sep 22, 2026
entertainment

Doa dan Kenangan Terakhir untuk Temon di GPIB Effatha

Di sudut ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin, aroma dupa menguar pelan. Sebuah peti kayu berwarna gelap terbaring di tengah, dikelilingi bunga-bunga putih yang seakan ikut menunduk dalam duka. D...

Doa dan Kenangan Terakhir untuk Temon di GPIB Effatha

Di sudut ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin, aroma dupa menguar pelan. Sebuah peti kayu berwarna gelap terbaring di tengah, dikelilingi bunga-bunga putih yang seakan ikut menunduk dalam duka. Di GPIB Effatha, Senin (13/7), sebuah ibadah pelepasan digelar dalam keheningan yang mengharukan. Bukan hanya keluarga yang hadir, tapi juga sahabat-sahabat yang perjalanannya bersinggungan dengan mendiang Temon. Di antara para pelayat, tampak dua sosok yang mengejutkan banyak orang: Mongol, seniman penuh warna, dan Agum Gumelar, mantan Menteri Pertahanan yang dulu tegas di medan kebijakan. Kehadiran mereka mengisahkan lebih dari sekadar upacara wajib; ia adalah bab terakhir dari sebuah persahabatan yang dibangun di atas mimpi, perjuangan, dan momen-momen sederhana yang kini tinggal kenangan.

Sosok yang Menyatukan Dua Dunia

Temon bukanlah nama yang akrab di telinga publik. Ia bukan selebritas, bukan pula politikus. Namun, di balik layar kehidupan, ia adalah perekat bagi banyak jiwa yang resah. Bagi Mongol, Temon adalah kawan sepermainan sejak masa-masa sulit ketika panggung masih jauh dari gemerlap. “Dia yang pertama kali meminjami saya gitar saat saya kehilangan milik sendiri. Dari situ kami jadi saudara, bukan sekadar teman,” bisik Mongol dengan suara bergetar, matanya menerawang ke peti yang terbaring khusyuk. Sementara itu, Agum Gumelar mengenal Temon dalam suasana yang berbeda: sebuah pameran lukisan amal di mana Temon menjadi kurator. “Dia mengingatkan saya bahwa seni dan perjuangan memiliki ruh yang sama: keberanian untuk menyuarakan yang benar,” kenang Agum. Dua sosok dari dua dunia yang berbeda bersatu dalam kesedihan yang sama, dan gereja tua itu menjadi saksi bisu.

Perjalanan yang Tak Pernah Tercatat

Temon tidak pernah menulis memoar atau memberikan pidato inspirasional. Ia hanya melukis, bermain musik di kafe-kafe kecil, dan mengajar anak-anak jalanan menggambar di sudut kota. Namun, di mata orang-orang yang dicintainya, ia adalah api yang tak pernah padam. “Setiap kali saya hampir menyerah, ada pesan singkat darinya: ‘Bangkit, mimpi kita belum selesai.’ Kalimat itu lebih ampuh dari obat apa pun,” ujar Mongol sambil menyeka sudut matanya. Agum pun mengungkapkan hal serupa. “Di saat saya dilanda keraguan, Temon selalu datang dengan secangkir kopi dan cerita tentang bagaimana warna-warna sederhana bisa mengubah dunia.” Momen mengharukan itu terasa begitu nyata; air mata mengalir tanpa bisa dibendung, bukan karena tragedi, tetapi karena kehilangan sebuah sumber inspirasi yang begitu tulus.

Pesan dari Lilin yang Menyala

Menjelang akhir ibadah, setiap pelayat dipersilakan menyalakan lilin kecil. Mongol mengambil satu dengan tangan gemetar, lalu menyalakannya dari lilin utama yang dijaga petugas gereja. “Ini bukan perpisahan, Bang. Ini hanya sampai jumpa,” bisiknya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar. Agum Gumelar, dengan sikap militernya yang tak sepenuhnya sirna, berdiri tegak dan meletakkan lilinnya tepat di samping foto Temon yang tersenyum lebar—senyum yang selalu berhasil menular kepada siapa pun. Ibadah tutup peti itu bukan hanya prosesi keagamaan, melainkan sebuah pengakuan bahwa hidup yang penuh makna tak selalu diukur dari tepuk tangan, tetapi dari seberapa dalam ia menyentuh hati orang lain. Di luar, hujan mulai turun, seakan langit pun ikut melepas kepergian seorang sosok sederhana yang telah membuktikan bahwa kebaikan kecil mampu menciptakan dampak yang besar.

Hari itu, GPIB Effatha bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah ruang di mana dua manusia dari lintas generasi dan latar belakang—Mongol dan Agum Gumelar—berbagi pelukan dan cerita tentang seorang sahabat yang mengajarkan bahwa cinta dan solidaritas bisa melampaui sekat apa pun. Peti itu kini tertutup, namun kisah Temon tetap hidup dalam lukisan-lukisannya yang tersebar di sudut-sudut kota, dalam lagu-lagu yang akan terus dinyanyikan, dan dalam doa-doa yang mengalir dari mereka yang hadir. Sebuah pelajaran bahwa perjalanan setiap manusia, betapa pun sunyinya, selalu meninggalkan jejak yang abadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User