Oct 12, 2026
entertainment

Di Balik Tawa Nunung Srimulat yang Tak Pernah Padam

Di sebuah panggung kecil di Surabaya, akhir tahun 1980-an, seorang perempuan muda berdiri dengan gaun sederhana yang warnanya sudah pudar. Ia menggenggam mikrofon dengan tangan sedikit gemetar. Di dep...

Di Balik Tawa Nunung Srimulat yang Tak Pernah Padam

Di sebuah panggung kecil di Surabaya, akhir tahun 1980-an, seorang perempuan muda berdiri dengan gaun sederhana yang warnanya sudah pudar. Ia menggenggam mikrofon dengan tangan sedikit gemetar. Di depannya, kursi-kursi kayu yang sebagian kosong. Namun begitu ia membuka mulut dan melontarkan lelucon pertama, tawa pecah memenuhi ruangan. Malam itu, tak seorang pun menyangka bahwa perempuan bernama Nunung itu akan menjadi salah satu ikon komedi Indonesia yang bertahan lebih dari tiga dekade.

Nunung Srimulat, begitu nama yang melekat pada dirinya, bukan sekadar pelawak. Ia adalah fenomena. Di balik tawa yang ia bagikan setiap minggu melalui layar kaca, tersimpan perjalanan panjang yang penuh liku, air mata, dan mimpi yang tak pernah padam. Ia mengisahkan bagaimana masa kecilnya di sebuah kampung di Jawa Timur tidak pernah membayangkan dirinya berdiri di bawah sorotan lampu studio. "Saya dulu cuma anak yang suka ngobrol sama tetangga. Nggak pernah mimpi jadi artis," ujarnya suatu ketika, dengan logat khas yang membuat siapa pun tersenyum.

Dari Kampung ke Panggung Srimulat

Perjalanan Nunung menuju dunia hiburan dimulai dari hal-hal sederhana. Ia bergabung dengan grup Srimulat, sebuah kelompok lawak legendaris yang menjadi kawah candradimuka bagi banyak komedian besar. Di sana, ia tidak hanya belajar melawak, tetapi juga belajar bertahan hidup. Jadwal pentas yang padat, honor yang pas-pasan, dan persaingan yang ketat menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, semangatnya tidak pernah surut.

"Setiap kali saya naik panggung, saya ingat ibu saya. Dia bilang, kalau kamu bisa bikin orang ketawa, itu rezeki," kenangnya dalam sebuah wawancara. Kalimat itu menjadi pegangan hidupnya. Nunung menyadari bahwa tawa bukan sekadar tontonan, melainkan obat bagi banyak orang yang sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing.

Kepiawaiannya dalam memerankan karakter-karakter lucu, terutama sebagai perempuan desa yang ceplas-ceplos, membuat namanya melambung. Ia tidak perlu tampil cantik atau sempurna. Justru kekonyolan dan kejujuran ekspresinya yang membuat orang jatuh cinta. Di era 1990-an, wajahnya hampir selalu hadir di layar televisi, dari acara komedi hingga sinetron.

Air Mata di Balik Tawa

Namun, di balik senyum yang selalu ia tampilkan, Nunung menyimpan luka yang dalam. Kehidupan pribadinya tidak selalu seindah penampilannya di atas panggung. Ia pernah mengalami masa-masa sulit, baik dalam rumah tangga maupun ekonomi. Ada saat-saat di mana ia harus menelan pil pahit, bangkit dari keterpurukan, dan kembali berdiri meski kakinya terasa lemah.

"Saya pernah nangis di kamar mandi sebelum manggung. Tapi begitu lampu sorot nyala, saya harus tersenyum. Karena penonton datang untuk bahagia, bukan untuk melihat saya sedih," tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Momen mengharukan itu ia ceritakan bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk menunjukkan bahwa di balik setiap tawa, ada perjuangan yang tidak terlihat.

Kisah Nunung menjadi cermin bagi banyak orang bahwa kebahagiaan sering kali lahir dari kesedihan yang berhasil diolah. Ia tidak pernah mengeluh di depan publik. Ia memilih untuk terus berkarya, menghibur, dan menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin menekuni dunia komedi.

Warisan Tawa yang Tak Lekang

Kini, usia Nunung tidak lagi muda. Namun semangatnya tidak pernah pudar. Ia masih sesekali muncul di televisi, di kanal YouTube, atau di panggung-panggung kecil. Baginya, melawak bukan pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Ia ingin terus membuat orang tertawa selama ia masih bisa berdiri.

"Saya nggak tahu sampai kapan bisa begini. Tapi selama masih ada yang mau nonton, saya akan terus melawak," ujarnya sederhana. Kalimat itu bukan sekadar janji, melainkan bukti cinta pada dunia yang telah membesarkannya.

Nunung Srimulat adalah simbol ketangguhan. Ia mengajarkan bahwa tawa bisa menjadi jembatan antara kesulitan dan harapan. Di tengah dunia yang semakin keras, sosoknya adalah pengingat bahwa kebahagiaan sederhana bisa lahir dari kejujuran dan keberanian untuk terus melangkah. Anak-anak muda yang ingin mengikuti jejaknya tidak hanya belajar teknik melawak, tetapi juga belajar tentang ketekunan, kesabaran, dan cinta pada apa yang dikerjakan.

Perjalanan hidup Nunung bukan sekadar kisah seorang pelawak. Ia adalah kisah tentang mimpi yang tumbuh dari kampung kecil, tentang air mata yang berubah menjadi tawa, dan tentang seorang perempuan yang memilih untuk tidak pernah menyerah. Di setiap senyum yang ia bagikan, tersimpan pesan bahwa hidup, seberat apa pun, selalu punya alasan untuk ditertawakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User