Oct 15, 2026
entertainment

Di Balik Sukses Box Office Other Mommy, Kritikus Justru Menyebutnya Gagal Menakut-nakuti

Di sebuah ruang bioskop yang gelap, aroma popcorn bercampur dengan napas tertahan ratusan penonton. Layar lebar menampilkan sosok ibu dengan senyum yang terlalu lebar, terlalu lama. Beberapa penonton ...

Di Balik Sukses Box Office Other Mommy, Kritikus Justru Menyebutnya Gagal Menakut-nakuti

Di sebuah ruang bioskop yang gelap, aroma popcorn bercampur dengan napas tertahan ratusan penonton. Layar lebar menampilkan sosok ibu dengan senyum yang terlalu lebar, terlalu lama. Beberapa penonton memejamkan mata, yang lain justru tertawa kecil. Ketika lampu menyala, tak ada wajah pucat, tak ada tangan gemetar. Hanya gumaman ringan: “Hah, gitu doang?”

Momen itulah yang mungkin paling jujur menggambarkan perjalanan film Other Mommy di hadapan penontonnya. Di satu sisi, film ini mengisahkan angka box office yang membuat para produsen tersenyum. Di sisi lain, ia harus menerima kenyataan pahit: para kritikus merujaknya habis-habisan, bahkan memberi skor hanya 16 persen di situs agregator ulasan ternama.

Antara Lampu Sorot dan Bayangan Kekecewaan

Ada semacam paradoks yang menyentuh di balik kisah ini. Other Mommy lahir dari mimpi sederhana seorang sutradara muda yang ingin menghadirkan teror berbeda—bukan sekadar lonjakan jumpscare, melainkan ketakutan yang merayap perlahan di balik pintu kamar anak. Sang sutradara, dalam sebuah wawancara sebelum rilis, mengisahkan bagaimana ia menghabiskan bertahun-tahun mengamati dinamika keluarga modern: ibu yang lelah, anak yang kesepian, dan kasih sayang yang kadang berubah menjadi obsesi.

“Aku ingin orang pulang ke rumah dan memeluk ibunya, bukan justru merasa takut pada sosok ibu,” ujarnya suatu kali, dengan mata yang berkaca-kaca. Kalimat itu, sayangnya, tidak sampai kepada para kritikus. Banyak dari mereka menilai Other Mommy gagal membangun atmosfer horor yang utuh. Alih-alih mencekam, beberapa adegan justru terasa canggung, bahkan mengundang tawa yang tidak seharusnya ada.

“Film horor yang baik membuat kita takut pada hal yang tidak terlihat. Other Mommy membuat kita takut pada durasi yang tidak kunjung habis,” tulis seorang kritikus dalam ulasannya, dikutip dari berbagai sumber.

Perjuangan di Balik Layar yang Tak Terlihat

Namun, di balik layar, ada perjuangan yang jarang disorot. Tim produksi Other Mommy bekerja dengan anggaran terbatas. Proses syuting dilakukan selama 28 hari di sebuah rumah tua di pinggiran kota, dengan kru yang sering kali harus merangkap peran. Sang penata rias, seorang ibu dua anak, mengaku harus pulang malam-malam setelah seharian merias wajah para pemeran menjadi sosok yang menyeramkan. “Setiap tetes keringat itu untuk sesuatu yang kami yakini,” kenangnya dalam sebuah sesi wawancara. “Mungkin kritikus tidak melihatnya, tapi kami melihat.”

Air mata juga sempat menetes di ruang penyuntingan. Sang editor mengisahkan bagaimana ia harus memangkas puluhan menit adegan demi menjaga tempo. Ia percaya bahwa ketakutan sejati tidak selalu datang dari suara menggelegar, melainkan dari keheningan yang mengganggu. “Aku menangis saat harus membuang adegan favoritku,” ujarnya. “Tapi aku tahu, mimpi besar kadang harus dibayar dengan potongan-potongan kecil dari diri kita sendiri.”

Skor 16 Persen dan Suara Penonton yang Terbelah

Angka 16 persen itu bukan sekadar statistik. Ia adalah pukulan bagi setiap orang yang pernah berjuang di balik layar. Namun, di sisi lain, ada fenomena menarik: penonton umum justru memberi respons berbeda. Di media sosial, banyak yang mengaku menikmati Other Mommy sebagai hiburan kultural—sebuah film yang bisa ditertawakan bersama teman, bukan dihayati sendirian.

Seorang mahasiswa yang menonton film itu dua kali mengaku punya alasan personal. “Ibuku baru meninggal tahun lalu. Film ini, meski jelek menurut kritikus, membuatku merindukan sosok ibu yang protektif. Bagiku, itu mengharukan,” tuturnya dengan suara pelan. Baginya, nilai sebuah film tidak selalu ditentukan oleh skor, melainkan oleh apa yang ia tinggalkan di hati penontonnya.

Kritikus mungkin benar soal eksekusi yang dinilai gagal membangun ketakutan. Tapi kisah Other Mommy mengingatkan kita bahwa di balik setiap karya, ada manusia dengan mimpinya sendiri. Ada sutradara yang ingin memeluk masa kecilnya, ada kru yang bekerja siang-malam demi upah sederhana, dan ada penonton yang menemukan makna tak terduga di antara adegan yang dianggap canggung.

Maka, ketika sebuah film harus berjuang antara sukses komersial dan hujatan kritik, mungkin yang paling menyentuh bukanlah skornya. Melainkan perjalanan panjang mereka yang tetap bangkit, tetap berkarya, dan tetap percaya bahwa suatu hari, ketakutan yang mereka bangun akan menemukan rumah di hati penonton yang tepat. Sebab pada akhirnya, horor sejati bukan soal monster—melainkan soal keberanian untuk terus berkarya meski tahu akan dikritik habis-habisan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User