Di sebuah sudut kota Solo, Jawa Tengah, aroma bumbu rempah masih mengepul dari dapur kecil sebuah warung makan. Nunung, perempuan paruh baya yang sudah belasan tahun menekuni dunia kuliner, duduk di kursi kayu yang usang. Matanya menatap kosong ke arah deretan meja yang hampir semuanya kosong. Hanya satu-dua pelanggan setia yang datang, itu pun sekadar membeli seporsi nasi bungkus untuk dibawa pulang.
"Dulu mah ramai, Mas. Sampai harus nambah kursi di depan. Sekarang... ya gini ini, sepi banget. Kadang saya cuma bisa duduk, nungguin orang lewat," ujarnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara kipas angin yang berputar lambat. Ada getar haru yang ia coba sembunyikan di balik senyum tipisnya.
Nunung bukan nama baru di dunia kuliner Solo. Ia mengisahkan bagaimana dirinya merintis usaha dari nol, bermodal tabungan hasil berjualan kue keliling. Perjalanan panjang itu penuh lika-liku. Ia pernah bangkit, jatuh, lalu bangkit lagi. Namun belakangan ini, ada semacam kelelahan yang ia rasakan, bukan sekadar soal fisik, melainkan juga batin.
Ketika Sepi Bukan Sekadar Angka
Bagi Nunung, sepinya warung bukan sekadar soal pemasukan yang menurun. Ada luka yang lebih dalam. Ia mengenang masa-masa ketika warungnya menjadi tempat berkumpul warga. Tawa lepas, obrolan ringan, dan pesanan yang terus mengalir menjadi bagian dari denyut nadi kehidupannya. Kini, kesunyian itu terasa seperti kehilangan yang menyayat.
"Saya itu bukan cuma jualan makanan, Mas. Saya jualan cerita, jualan kenangan. Setiap pelanggan yang datang itu seperti keluarga. Kalau mereka nggak datang, rasanya ada yang hilang," tuturnya sambil menyeka sudut matanya yang mulai basah.
Ia mengaku sempat menerima perlakuan yang menyakitkan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ada masa di mana ia merasa seperti dilempar ke tanah kuburan, istilah yang ia pakai untuk menggambarkan betapa hina dan terbuangnya perasaan saat usahanya dianggap remeh. Namun ia memilih tidak larut. "Saya nggak mau menyerah. Saya ingat anak-anak saya. Mereka butuh saya," tambahnya dengan mata yang mulai berbinar.
Mimpi yang Belum Selesai
Di balik kesederhanaan warungnya, Nunung menyimpan mimpi yang besar. Ia ingin suatu hari nanti bisa membuka cabang di pusat kota, tempat yang lebih ramai, agar lebih banyak orang bisa mencicipi masakannya. Namun mimpi itu terasa kian jauh ketika pendapatan terus menurun. Ia bahkan sempat berpikir untuk menutup usaha yang telah ia bangun dengan air mata dan keringat itu.
"Kadang saya mikir, apa saya salah bertahan selama ini? Tapi kalau bukan ini yang saya kerjakan, terus saya mau jadi apa? Ini sudah jadi bagian dari hidup saya," ucapnya sendu. Ada nada pasrah, tapi juga ada api yang masih menyala di dalam dirinya.
Nunung bukan tipe orang yang mudah mengeluh. Ia lebih memilih bangkit dan mencari cara. Beberapa bulan terakhir, ia mulai berjualan secara daring, meski penjualannya belum banyak. Ia juga belajar membuat kemasan yang lebih menarik, meski harus merogoh kocek lebih dalam. Semua ia lakukan demi satu tujuan: mempertahankan warung yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya.
Pelanggan yang Menjadi Sahabat
Di tengah sepinya, masih ada satu-dua pelanggan setia yang selalu datang. Salah satunya Yanti, warga sekitar yang sudah berlangganan sejak sepuluh tahun lalu. Baginya, masakan Nunung bukan sekadar makanan, melainkan obat rindu akan masa lalu.
"Saya datang bukan cuma karena lapar, tapi karena saya sayang sama Bu Nunung. Dia itu orang baik. Saya nggak tega kalau lihat warungnya sepi," ujar Yanti dengan mata berkaca-kaca. "Kalau bisa, saya pengin warung ini ramai lagi. Biar Bu Nunung bahagia."
Kisah Nunung adalah potret kecil dari perjuangan banyak pelaku usaha kuliner di daerah. Di balik setiap piring yang disajikan, ada air mata, doa, dan harapan yang tak pernah padam. Mereka berjuang bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menjaga mimpi agar tetap menyala di tengah zaman yang terus berubah.
Nunung mungkin belum tahu kapan warungnya akan kembali ramai. Namun satu hal yang ia yakini: selama masih ada orang yang menyayanginya, ia akan terus berjuang. "Saya nggak akan berhenti. Saya ingin membuktikan, bahwa dari dapur kecil ini, saya bisa bangkit lagi," pungkasnya dengan senyum yang akhirnya terbit kembali. Di sudut warung yang sederhana itu, harapan masih menemukan tempatnya untuk bersemi.
Comments (0)