Oct 16, 2026
entertainment

Di Balik Perjanjian Darah: Perjalanan Baru Lukman Sardi dan Jerome Kurnia

Di sebuah ruangan yang belum sepenuhnya selesai ditata, dua sosok duduk berhadapan. Yang satu sudah akrab dengan riuh kursi sutradara selama puluhan tahun, yang satu lagi masih menyimpan gemetar kecil...

Di Balik Perjanjian Darah: Perjalanan Baru Lukman Sardi dan Jerome Kurnia

Di sebuah ruangan yang belum sepenuhnya selesai ditata, dua sosok duduk berhadapan. Yang satu sudah akrab dengan riuh kursi sutradara selama puluhan tahun, yang satu lagi masih menyimpan gemetar kecil di ujung jemarinya setiap kali kata "aksi" diucapkan. Lukman Sardi dan Jerome Kurnia kembali dipertemukan dalam sebuah kisah yang melanjutkan perjalanan film Kuasa Gelap—sebuah bab baru yang mereka beri napas lewat judul Kuasa Gelap: Perjanjian Darah.

Bukan sekadar kelanjutan, pertemuan itu terasa seperti reuni dua generasi yang saling menjaga. Lukman, aktor yang telah melewati berbagai era perfilman Indonesia, mengaku menemukan energi berbeda saat beradu peran dengan Jerome. "Ada rasa yang tidak bisa saya jelaskan. Seperti melihat diri saya dua puluh tahun lalu, tapi dengan keberanian yang lebih jujur," ujarnya pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.

Ketika Bayangan Masa Lalu Kembali Mengetuk

Judul Perjanjian Darah bukan sekadar pilihan kata yang dramatis. Ia menyimpan lapisan makna tentang ikatan yang tak selalu terlihat, tetapi mengikat erat—entah itu janji, luka, atau ketakutan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jerome mengisahkan bagaimana ia harus menggali bagian terdalam dirinya untuk memahami karakter yang ia perankan. Ada malam-malam panjang ketika ia pulang ke rumah dengan dada yang terasa penuh, seolah beban tokohnya menempel di kulit.

"Saya sempat duduk diam di mobil selama satu jam sebelum masuk rumah. Saya tidak ingin membawa kegelapan itu ke dalam rumah, ke anak saya, ke istri saya," kenang Jerome, matanya menerawang.

Pengalaman itu bukan hal baru di dunia akting, tetapi tetap saja menyentuh. Lukman, yang menyaksikan proses itu dari dekat, mengaku sering mengingatkan Jerome untuk tidak tenggelam terlalu dalam. "Kita ini cuma pinjam tubuh dan jiwa untuk sebentar. Jangan sampai yang dipinjam malah mengambil yang asli," katanya setengah bercanda, meski nadanya serius.

Ruang Sederhana yang Melahirkan Keajaiban

Di balik layar, suasana syuting ternyata jauh dari kesan megah. Kru dan pemain sering berkumpul di sudut ruangan berukuran tak lebih dari 4x4 meter, berbagi kopi hangat dan cerita ringan sebelum adegan berat dimulai. Di situlah keajaiban kecil terjadi: tawa yang mengurai ketegangan, tatapan yang saling menguatkan, dan doa singkat yang tidak pernah absen.

Seorang penata rias yang sudah bekerja sejak film pertama mengisahkan bagaimana ia melihat perubahan pada Jerome. "Dulu dia masih sering bertanya, sekarang dia sudah bisa menenangkan orang lain. Itu yang bikin saya terharu," tuturnya sambil tersenyum tipis. Momen-momen sederhana seperti itu, kata Lukman, adalah alasan ia masih betah berdiri di depan kamera setelah puluhan tahun.

Perjanjian yang Tak Terucap di Antara Generasi

Bagi banyak orang, film ini mungkin hanya hiburan akhir pekan. Namun di baliknya, ada perjanjian yang tidak tertulis: bahwa setiap generasi aktor berutang pada generasi berikutnya untuk tidak meninggalkan mereka sendirian. Lukman merasakan itu. Ia tidak ingin menjadi sosok senior yang hanya hadir di poster, tetapi benar-benar membuka jalan.

"Saya pernah di posisi Jerome. Saya tahu rasanya takut salah, takut mengecewakan. Kalau bukan kita yang menemani, siapa lagi?" ujarnya, suaranya berat namun hangat.

Jerome pun menutup ceritanya dengan satu kalimat yang menyentuh. "Saya tidak tahu apakah penonton akan suka atau tidak. Tapi saya tahu saya sudah memberikan sebagian dari diri saya. Dan itu cukup."

Di tengah industri yang sering kali sibuk mengejar angka dan tren, kisah di balik Kuasa Gelap: Perjanjian Darah mengingatkan kita pada satu hal yang kerap terlupakan: bahwa di balik setiap adegan, ada manusia yang berjuang, bangkit, dan saling menguatkan. Perjanjian darah itu mungkin bukan tentang kegelapan, melainkan tentang keberanian untuk tetap bersama—di ruang kecil itu, di antara kopi yang mulai dingin, dan di antara mimpi yang tak pernah benar-benar padam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User