Di sebuah kamar penginapan kecil di kawasan dekat Masjidil Haram, seorang perempuan berdiri di depan cermin sederhana. Ia mengenakan busana putih panjang, menatap bayangan dirinya sendiri dengan tatapan yang jarang ia tunjukkan di depan kamera. Mita The Virgin, vokalis yang selama ini dikenal publik sebagai sosok panggung yang penuh energi, menarik napas panjang sebelum merapikan sejumlah perlengkapan ibadah di dalam koper.
Perjalanan ini bukan liburan biasa. Bagi Mita, umrah adalah mimpi yang pernah ia simpan diam-diam di sela jadwal manggung, rekaman, dan kehidupan kota yang selalu bergerak cepat. Di balik layar persona publiknya, ada seorang perempuan yang rindu berdiri tenang di tanah suci, tanpa sorot lampu, tanpa sorakan penonton.
Mimpi yang Tertunda Bertahun-tahun
Kisah perjalanan spiritual ini bermula dari momen sederhana. Suatu malam, sepulang dari aktivitas bermusik, Mita duduk sendiri di ruang tamunya. Ia mengisahkan bahwa malam itu ia merasa kosong, seolah semua pencapaian di dunia hiburan belum benar-benar mengisi bagian terdalam dirinya. Dari keheningan itu, tekad untuk berangkat umrah perlahan terbentuk.
Rencananya sempat tertunda berkali-kali. Jadwal yang padat, urusan pekerjaan, hingga keraguan kecil yang muncul di kepala sempat membuatnya memundurkan keberangkatan. Namun setiap kali mundur, keinginan itu kembali datang dengan cara yang lebih kuat. Ia mulai memahami bahwa perjalanan ini menunggu, bukan untuk ditunda selamanya.
Aku merasa sudah waktunya. Bukan karena apa-apa yang kupunya, tapi karena sesuatu yang selama ini kurasa belum selesai di dalam hati.
Ketika akhirnya tanggal keberangkatan ditetapkan, Mita mengaku perasaannya bercampur. Senang, tegang, sekaligus haru. Ia bahkan sempat menangis ketika menceritakan rencana tersebut kepada orang-orang terdekatnya. Baginya, ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah babak baru dalam kisah hidup yang terus ia tulis.
Momen Mengharukan di Tanah Suci
Hari pertama di tanah suci, langkah Mita terasa ringan sekaligus berat. Ringan karena beban pikiran selama bertahun-tahun seolah perlahan terangkat, berat karena ia sadar betapa besar tanggung jawab yang ia pikul sebagai tamu di tempat penuh berkah itu. Di pelataran Masjidil Haram, ia bercerita sempat berhenti sejenak, membiarkan kerumunan jamaah lewat sambil matanya berkaca-kaca.
Momen paling menyentuh terjadi ketika ia pertama kali menyelesaikan tawaf. Tubuhnya lelah, kakinya pegal, namun ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Air mata mengalir tanpa ia sadari, bukan karena sedih, melainkan karena merasa diterima. Di titik itu, ia mengisahkan bahwa semua perjuangan selama ini terasa terbayar lunas.
Ia juga mengenang momen sederhana ketika berdoa di dekat Kaabah. Waktu itu ia mengunci mata, menyebut nama-nama orang terkasih yang tak bisa ikut berangkat. Untuk keluarga, untuk sahabat, untuk orang-orang yang selama ini menemaninya naik dan turun. Doa-doa itu ia ucapkan pelan, hingga suaranya pun tak kuasa menahan haru.
Pengalaman lain yang ia ceritakan dengan penuh rasa terima kasih adalah saat berjumpa dengan jamaah dari berbagai penjuru. Mereka tak mengenalnya sebagai publik figur. Mita diperlakukan sama seperti yang lain, duduk berdampingan, berbagi ruang, dan berbagi doa. Justru di situlah ia merasa paling bebas dari identitas yang selama ini melekat padanya.
Pulang Membawa Inspirasi untuk Banyak Orang
Saat kembali ke Indonesia, Mita membawa oleh-oleh yang tak bisa dimasukkan ke dalam koper: ketenangan dan cara pandang baru terhadap hidup. Ia mengunggah sejumlah momen perjalanan di media sosialnya, bukan untuk pamer, melainkan untuk berbagi inspirasi kepada siapa pun yang mungkin sedang menunda mimpi serupa.
Banyak warganet yang terharu membaca ceritanya. Sebagian mengaku ikut menangis, sebagian lainnya termotivasi untuk segera menyiapkan keberangkatan sendiri. Bagi Mita, itulah hadiah terindah: mengetahui bahwa kisah sederhananya mampu menyentuh hati orang lain.
Kini, setelah perjalanan itu usai, Mita mengaku tak lagi sama. Ia tetap sibuk bermusik, tetap tampil di depan publik, namun ada bagian dari dirinya yang kini lebih tenang. Ia menyebut perjalanan ini sebagai pengingat bahwa di tengah riuh kehidupan, setiap orang berhak pulang menuju titik paling batininya.
Kisah Mita The Virgin mengajarkan bahwa perjalanan paling panjang terkadang bukan yang menempuh ribuan kilometer, melainkan yang menempuh jarak antara hati dan keyakinan. Dan bagi seorang perempuan yang biasa tampil gagah di panggung, air mata di tanah suci justru menjadi bukti paling jujur bahwa ia akhirnya menemukan rumah yang selama ini ia cari.
Comments (0)