Oct 11, 2026
entertainment

Di Balik Layar Kontroversi The Assassin(s), Juri BIFF Angkat Bicara

Di sebuah ruangan tertutup di kawasan Haeundae, Busan, suasana pertemuan dewan juri Busan International Film Festival ke-31 berlangsung hening. Beberapa anggota juri tampak saling bertukar pandang seb...

Di Balik Layar Kontroversi The Assassin(s), Juri BIFF Angkat Bicara

Di sebuah ruangan tertutup di kawasan Haeundae, Busan, suasana pertemuan dewan juri Busan International Film Festival ke-31 berlangsung hening. Beberapa anggota juri tampak saling bertukar pandang sebelum akhirnya satu per satu angkat suara. Mereka tahu, keputusan yang mereka ambil akan mengguncang banyak pihak. Film The Assassin(s) yang mereka pilih sebagai salah satu karya yang diperhitungkan tengah berada di pusat badai kontroversi.

“Kami tidak pernah sekalipun menutup mata terhadap perdebatan yang muncul,” ujar salah satu juri dengan suara tenang, seperti dikutip dari keterangan resmi dewan juri. “Tapi bagi kami, film ini adalah sebuah perjalanan manusia yang jujur, dan itu yang membuat kami bertahan pada pendirian.”

Momen Mengharukan di Ruang Sidang Juri

Mengisahkan proses seleksi yang berlangsung berhari-hari, sumber di internal dewan juri bercerita bahwa perdebatan soal The Assassin(s) bukanlah perkara singkat. Ada momen ketika dua juri berbeda pendapat cukup tajam, hingga forum diskusi sempat memanas. Namun, menurut cerita yang beredar, justru dari perbedaan itulah mereka menemukan titik terang.

“Semua orang di ruangan itu mencintai film. Jadi ketika kami berdebat, itu bukan soal menang atau kalah,” kata juri lainnya. “Itu soal bagaimana kami menghormati proses kreatif seorang sineas yang berjuang bertahun-tahun.”

Bagi mereka, karya ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah cermin dari kegelisahan, luka, dan mimpi yang ingin disampaikan pembuatnya kepada dunia. The Assassin(s) menyentuh persoalan yang dianggap sensitif oleh sebagian kalangan, tetapi dewan juri menilai pendekatan yang dipilih justru membuka ruang dialog, bukan menutupnya.

“Film yang baik tidak selalu membuat kita nyaman. Kadang ia justru membuat kita bertanya pada diri sendiri,” ujar sang juri dengan mata berkaca-kaca.

Perjuangan di Balik Pilihan yang Tidak Populer

Memilih karya yang tengah diperdebatkan bukanlah keputusan mudah. Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari kritik di media sosial hingga surat terbuka yang mempertanyakan standar penilaian festival. Namun dewan juri memilih berdiri di atas prinsip artistik dan kebebasan berekspresi.

“Kami sadar keputusan ini akan menuai pro dan kontra. Tapi kalau kami mundur hanya karena takut, apa artinya festival ini bagi para pembuat film yang berjuang keras menyuarakan kisahnya?” tutur seorang juri.

Di balik layar, proses penjurian memang bukan sekadar menonton dan memberi nilai. Ada air mata, ada diskusi panjang hingga larut malam, dan ada keyakinan bahwa setiap karya layak didengar. Salah satu anggota juri bahkan mengaku sempat tidak bisa tidur selama dua malam karena memikirkan dampak dari keputusan tersebut.

Inspirasi bagi Sineas Muda

Terlepas dari kontroversi, kisah ini menjadi inspirasi tersendiri bagi banyak sineas muda. Mereka melihat bagaimana sebuah festival sekelas BIFF tetap konsisten menjunjung tinggi keberanian berkarya, meski harus berhadapan dengan arus pendapat yang berseberangan.

“Pesan yang ingin kami sampaikan sederhana: teruslah bercerita. Jangan biarkan ketakutan menghentikan mimpi,” ujar dewan juri menutup pernyataannya.

Di sudut kota Busan yang mulai gelap, layar-layar bioskop masih menyala. Dan di dalamnya, kisah-kisah seperti The Assassin(s) terus bergema, mengingatkan bahwa di balik setiap kontroversi, selalu ada manusia dengan ceritanya sendiri yang menunggu untuk didengar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User