Di sudut ruangan sebuah kafe kecil di Seoul, Bora terduduk dengan segelas kopi yang mulai mendingin. Lima tahun telah berlalu sejak panggung SISTAR terakhir kalinya menyala, dan sejak itu pula ia jarang membicarakan satu hal yang selalu ia hindari dalam setiap wawancara: cinta. Kamera ponselnya menyala, sesekali ia tersenyum getir, lalu mulai mengisahkan perjalanan hatinya yang selama ini tersimpan rapi di balik senyum ceria seorang idola.
Perempuan kelahiran 1990 itu dikenal sebagai penari yang energetik, satu dari empat bintang yang pernah menguasai tangga lagu musim panas. Tapi malam itu, di hadapan penggemar yang menonton akun media sosialnya, Bora berbicara seperti teman lama—bukan seperti selebritas yang dijaga ketat manajemen. Ia bercerita tentang masa-masa ketika ia begitu sibuk hingga tak sempat mengenal dirinya sendiri, apalagi mengenal cinta.
Bertahun-tahun Menjadi Idola, Bertahun-tahun Menyembunyikan Perasaan
"Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa jatuh cinta itu kemewahan yang tidak boleh aku sentuh," ungkapnya dalam sesi bincang santai itu. Kalimat tersebut keluar perlahan, seolah setiap kata memiliki bobot yang harus ia timbang matang-matang. Bora mengakui bahwa selama aktif di industri hiburan, setiap perasaan yang ia miliki harus dikunci rapat. Bukan karena ia tak ingin dicintai, tetapi karena ia tahu bahwa satu kabar tentang hubungan pribadi bisa menjadi badai bagi kelompok yang telah ia bangun bersama rekan-rekannya.
Di balik gemerlap panggung dan sorotan lampu, Bora menuturkan bahwa ia pernah melewati masa paling sunyi dalam hidupnya. Bukan kesepian karena tak punya siapa-siapa, melainkan kesepian karena harus tampil sempurna setiap hari. "Ada kalanya aku pulang ke rumah, duduk di lantai kamar, dan bertanya-tanya: sebenarnya aku ini siapa di luar panggung?" ujarnya. Momen-momen seperti itu membuatnya belajar menghargai hal-hal sederhana dalam sebuah hubungan—perhatian kecil, sapaan hangat, atau sekadar ditemani tanpa harus bicara.
Kesederhanaan yang Akhirnya Ia Temukan
Seiring bertambahnya usia, pandangan Bora tentang cinta ikut berubah. Jika dahulu ia membayangkan hubungan yang penuh kejutan dan romantisme besar, kini ia justru merindukan sesuatu yang lebih membumi. Ia mengisahkan bagaimana ia mulai memahami bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan bunga dan kejutan, melainkan dengan konsistensi dan rasa aman.
"Aku ingin seseorang yang tetap ada saat aku sedang tidak lucu, tidak cantik, dan tidak menyenangkan," tuturnya. Penggemar yang mendengar kalimat itu langsung membanjiri kolom komentar dengan dukungan. Banyak yang menyebut bahwa pengakuan tersebut terasa sangat manusiawi—jauh dari citra sempurna yang biasanya dilekatkan pada seorang mantan idola. Bora pun mengaku beberapa kali hampir menyerah pada gagasan bahwa ia mungkin akan menghabiskan hidup sendirian, bukan karena tidak ada yang mencintainya, tetapi karena ia terlalu lama menutup pintu bagi dirinya sendiri.
"Aku dulu pikir menjadi kuat berarti tidak butuh siapa pun. Sekarang aku tahu, menjadi kuat justru berarti berani mengakui bahwa aku butuh dicintai."
Kalimat itu menjadi salah satu momen paling mengharukan dalam perbincangan tersebut. Air mata yang sempat tertahan akhirnya jatuh juga, membuat suasana mendadak hening. Bora hanya tersenyum lalu mengusap sudut matanya dengan tawa kecil, seperti biasa—cara ia menyembunyikan kerapuhan di balik keceriaan.
Perjalanan yang Belum Selesai
Bora menegaskan bahwa ia tidak sedang mengumumkan siapa pun atau apa pun. Ia hanya ingin berbicara jujur, sesuatu yang jarang ia lakukan selama belasan tahun berkarier. Menurutnya, berbicara tentang hati bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses bangkit untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.
"Aku masih belajar. Masih sering salah. Tapi setidaknya sekarang aku tidak lagi lari dari perasaanku sendiri," pungkasnya. Kisah Bora mengingatkan bahwa di balik setiap senyum yang tampil di layar, ada manusia yang juga ingin dicintai dan diterima apa adanya. Perjalanan cinta seorang mantan idola mungkin terlihat berbeda, tetapi rasa rindu akan kehangatan adalah hal yang sama bagi semua orang.
Comments (0)