Di sebuah sudut ruangan yang penuh dengan pernak-pernik kenangan perjalanan kariernya, Arie Kriting duduk termenung di depan layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak pelan, tetapi ada getaran amarah yang tertahan di setiap ketikan. Malam itu, bukan panggung komedi yang ia hadapi, melainkan sebuah kegelisahan yang sudah lama mengendap—tentang bagaimana dunia film Indonesia memandang mereka yang datang dari timur.
Komika sekaligus sineas asal Manokwari itu akhirnya memutuskan untuk bersuara. Melalui unggahan di media sosial, ia melayangkan kritik terbuka kepada Festival Film Indonesia (FFI). Bukan sekadar protes tanpa arah, melainkan sebuah renungan panjang tentang nasib sineas dari daerah yang terus merasa menjadi warga kelas dua di rumah sendiri.
Ketika Panggung Bergengsi Terasa Asing di Hati
Arie mengisahkan pengalaman pahitnya menyaksikan bagaimana nominasi FFI kerap didominasi oleh nama-nama besar dari Jakarta. Baginya, festival seharusnya menjadi rumah bersama, tempat setiap cerita dari Sabang sampai Merauke punya kesempatan yang sama untuk bersinar. Namun kenyataan berkata lain. Ia melihat ada jarak yang tak terjelaskan antara industri film ibu kota dan para pembuat film dari pelosok.
"Saya tidak sedang meminta belas kasihan. Saya hanya ingin festival ini benar-benar merangkul kami yang berjuang dari tempat yang jauh," ujarnya dalam unggahan yang menyentuh hati banyak orang.
Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah suara dari sekian banyak sineas yang selama ini bekerja dalam sunyi, tanpa akses distribusi yang layak, tanpa sorotan media, tetapi tetap berjuang menghidupkan cerita-cerita lokal yang kaya.
Perjalanan Panjang Anak Timur di Dunia Film
Perjalanan Arie sendiri bukan jalan yang mulus. Dari panggung stand-up comedy yang keras di Jakarta, ia pelan-pelan menancapkan kukunya di dunia perfilman. Film-filmnya selalu membawa nuansa timur yang kental, sebuah keberanian yang jarang ditemui di industri hiburan nasional. Ia menolak menanggalkan identitasnya demi diterima di lingkaran elit.
Di balik layar, ia bercerita tentang malam-malam panjang menulis skenario di kamar sederhana, tentang air mata saat proyeknya ditolak sana-sini, dan tentang mimpi yang tak pernah padam. Semua itu ia lakukan bukan untuk piala, melainkan untuk membuktikan bahwa cerita dari timur layak didengar.
Kritiknya kepada FFI pun bukan bentuk permusuhan, melainkan wujud cinta. Ia ingin festival tertinggi di negeri ini tumbuh lebih adil, lebih terbuka, dan lebih manusiawi. Ia berharap dewan juri mau menelusuri lebih dalam, melihat karya-karya yang mungkin tak viral tetapi sarat makna, dan memberi ruang bagi mereka yang selama ini hanya bisa menonton dari kejauhan.
Harapan yang Tak Ingin Padam
Meski kecewa, Arie tetap memilih bangkit dan mengajak. Ia menawarkan saran, bukan sekadar hujatan. Baginya, FFI bisa berubah jika mau mendengar. Ada banyak kisah dari Papua, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi yang menunggu untuk diakui, cerita-cerita yang menyimpan keindahan dan luka yang sama nyatanya dengan film-film ibu kota.
"Saya percaya, suatu hari nanti, anak-anak di kampung saya akan melihat film mereka sendiri berdiri sejajar di panggung itu," tuturnya penuh harap.
Kritik Arie Kriting adalah cermin bagi industri film Indonesia. Ia mengingatkan bahwa di balik gemerlap karpet merah, masih ada suara-suara kecil yang berjuang untuk didengar. Dan mungkin, dari kegelisahan seorang anak Manokwari inilah, pintu menuju perubahan itu mulai terbuka.
Comments (0)