Oct 11, 2026
entertainment

Air Mata Jirayut dan Malam Merah Putih di Piala ASEAN

Di sudut ruangan berukuran 4x5 meter itu, sebuah jersey merah tergeletak di atas sofa. Jirayut, penyanyi asal Thailand yang sepuluh tahun terakhir hidup di Indonesia, semula enggan menyentuhnya. Malam...

Air Mata Jirayut dan Malam Merah Putih di Piala ASEAN

Di sudut ruangan berukuran 4x5 meter itu, sebuah jersey merah tergeletak di atas sofa. Jirayut, penyanyi asal Thailand yang sepuluh tahun terakhir hidup di Indonesia, semula enggan menyentuhnya. Malam itu, detik-detik akhir pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026 berlangsung menegangkan. Ia menonton dari kamarnya, ditemani kudapan ringan dan deru jantung yang tak menentu. Ketika peluit akhir ditiupkan dan Indonesia dipastikan juara, tubuh pria itu seakan kehilangan tenaga. Ia menunduk, lalu tertawa lirih. "Saya tidak tahu harus bagaimana," ujarnya mengenang momen mengharukan itu.

Tak butuh waktu lama. Ia lantas bangkit, meraih jersey merah di sofa, dan mengenakannya dengan tangan gemetar. Bukan sekadar selebrasi. Bagi Jirayut, malam itu adalah puncak perjalanan panjang yang menyentuh hati. Ia menyebut dirinya bukan lagi sekadar orang Thailand yang mencari rezeki di negeri orang. Sepuluh tahun ia menyanyikan lagu-lagu Indonesia, menghibur di panggung kampung hingga kota besar, dan perlahan menganggap tanah ini sebagai rumah keduanya.

Sebuah Pertandingan yang Mengubah Cara Pandang

Pria yang fasih berbahasa Jawa dan Betawi itu mengisahkan, sebelum laga dimulai, ia sempat membaca banyak komentar warganet. Sebagian mengingatkannya bahwa dirinya orang asing, "orang Thailand", yang tak seharusnya larut dalam euforia merah putih. Ia mengaku sempat tertegun. Namun, ia memilih mendengarkan hatinya. Ketika Timnas menguasai lapangan, ia melompat, berteriak, bahkan meneteskan air mata tanpa malu.

"Saya sedih kalau hanya dianggap singgah. Indonesia bukan sekadar tempat saya mencari nafkah. Di sini saya belajar jatuh, bangkit, dan menemukan arti keluarga," ujarnya lirih.

Kisah perjalanan Jirayut memang bukan sekadar cerita panggung. Ia mengaku pernah merasakan masa sulit: kontraknya sepi, uang menipis, dan rindu kampung halaman membuncah. Saat itu, tetangga-tetangga di sebuah gang kecil Semarang menyisipkan nasi bungkus di depan pintu kontrakannya. Ada pula ibu-ibu pengajian yang menawarinya makan malam. "Mereka tidak bertanya saya dari mana. Mereka hanya bilang, 'sudah, makan dulu'," kenangnya. Momen-momen sederhana itulah yang mengikat hatinya pada Indonesia, jauh sebelum sepak bola menyeret namanya ke pusat perhatian.

Berdiri di Antara Dua Bendera

Euforia kemenangan malam itu meninggalkan jejak mendalam. Jirayut sengaja membuat video singkat: dirinya mengenakan jersey merah, menyanyikan sepenggal lagu "Indonesia Raya" dengan logat khas Thailand yang kental, lalu menutupnya dengan kalimat, "Thailand is my birthplace, Indonesia is my home." Video itu menyebar cepat. Banyak warganet yang semula mengejek berbalik menuliskan terima kasih. Ada pula yang mengirim pesan pribadi: "Bang, kamu sudah jadi bagian kami."

"Saya girang bukan karena tak jadi diusir dari Indonesia, seperti yang dulu disindir warganet," katanya sembari tertawa. "Saya girang karena saya akhirnya boleh ikut bangga, ikut menang, tanpa perlu menjawab siapa asal saya." Ia menuturkan, sepak bola dan musik punya kekuatan yang sama: menyatukan orang dari latar belakang berbeda. Malam itu, rumah kecilnya di kawasan Jakarta Selatan mendadak dipenuhi tetangga. Beberapa membawa tumpeng, yang lain membawa gitar. Mereka bernyanyi bersama hingga dini hari.

Pelajaran dari Sebuah Jersey Merah

Di balik layar, Jirayut menyimpan satu mimpi: membuat panggung kolaborasi antara musisi Thailand dan Indonesia untuk merayakan persahabatan dua negara. Ia telah menabung sebagian penghasilannya untuk mewujudkan mimpi itu. "Saya ingin menyatakan bahwa menang bukan soal siapa yang mengalahkan siapa, tetapi soal kita merayakannya bersama," paparnya penuh haru.

Baginya, kemenangan Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 More than a trophy. Ia adalah pengingat bahwa sebuah bangsa dibangun dari cerita-cerita manusia yang sederhana, yang berjuang, dan yang memilih untuk pulang meski rumah itu bukan tempat kelahiran. Ia menatap jersey merah di tubuhnya sekali lagi, lalu berbisik pelan, "Terima kasih sudah membiarkan saya menjadi bagian dari cerita ini." Malam pun berlalu, tetapi jejak air mata dan tawa di ruangan 4x5 meter itu akan ia simpan sebagai salah satu momen paling mengharukan dalam perjalanan hidupnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User