Oct 16, 2026
entertainment

Mimpi yang Tak Selesai: Di Balik Perjanjian Darah Kuasa Gelap 2

Di sebuah ruang pertemuan yang lampunya sengaja diredupkan, Lukman Sardi duduk termenung. Naskah setebal dua ratus halaman tergelar di meja kayu di depannya, namun pandangannya kosong, seperti sedang ...

Mimpi yang Tak Selesai: Di Balik Perjanjian Darah Kuasa Gelap 2

Di sebuah ruang pertemuan yang lampunya sengaja diredupkan, Lukman Sardi duduk termenung. Naskah setebal dua ratus halaman tergelar di meja kayu di depannya, namun pandangannya kosong, seperti sedang menembus sesuatu yang hanya ia sendiri bisa lihat. Beberapa meter darinya, Jerome Kurnia mondar-mandir, mulutnya komat-kamit menghafal dialog. Suasana itu terasa akrab bagi keduanya—sebuah ruang yang pernah mereka tinggali dua tahun lalu, ketika Kuasa Gelap pertama kali dipercaya kepada mereka.

"Saya tidak pernah membayangkan akan kembali ke dunia ini," ujar Lukman pelan, hampir berbisik. "Ada rasa takut, tapi juga rindu. Rindu pada kegelisahan yang membuat saya merasa hidup."

Dua tahun bukan waktu yang singkat. Setelah Kuasa Gelap (2024) mencuri perhatian penonton dan kritikus, banyak yang bertanya-tanya: apa yang bisa diceritakan lagi? Namun bagi tim kreatif, pertanyaan itu justru menjadi bahan bakar. Mereka tak sekadar ingin membuat sekuel yang aman. Mereka ingin menelusuri luka-luka yang belum sembuh.

Cerita yang Menolak Berhenti

Di balik layar, proses kelahiran Kuasa Gelap: Perjanjian Darah berjalan penuh liku. Diskusi demi diskusi berlangsung hingga larut malam, sering kali berujung pada perdebatan panas. Sang sutradara disebut sempat mengurung diri di sebuah vila di kawasan Puncak selama sepekan, hanya untuk menyelami kegelapan yang menjadi tema besar film ini.

"Ada malam-malam ketika saya tidak bisa tidur," kata seorang anggota tim penulis yang enggan disebut namanya. "Bukan karena horor, tapi karena kami sadar, kami sedang membicarakan sesuatu yang nyata. Sesuatu yang mungkin pernah dialami penonton."

Bagi Jerome Kurnia, karakter yang ia perankan kali ini membawa beban emosional yang jauh lebih berat. Ia mengisahkan bagaimana ia harus menjalani ritual kecil sebelum syuting—berdiri di depan cermin, menatap matanya sendiri, dan berbicara pada sosok di bayangan. "Saya harus percaya bahwa dia ada," tuturnya. "Karena kalau saya tidak percaya, penonton juga tidak akan percaya."

"Setiap peran meninggalkan bekas. Ada yang manis, ada yang perih. Peran ini, saya rasa, akan meninggalkan luka yang lama baru sembuh."

Sementara bagi Lukman Sardi, yang telah malang-melintang di industri perfilman Indonesia selama puluhan tahun, Perjanjian Darah menawarkan tantangan yang berbeda. Ia tak ingin sekadar tampil sebagai aktor senior yang datang, berakting, lalu pulang. Ia ingin terlibat lebih dalam—mendengarkan cerita orang-orang di sekitarnya, mengamati gestur kecil yang mungkin luput dari mata orang lain.

Ketika Perjanjian Itu Bernama Kepercayaan

Judul Perjanjian Darah sendiri bukan sekadar pilihan estetika. Bagi tim produksi, frasa itu mengandung makna yang lebih dalam: tentang ikatan, tentang kesetiaan, dan tentang harga yang harus dibayar ketika seseorang berjanji pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

"Ini bukan cerita tentang darah dalam arti harfiah," jelas salah satu produser. "Ini tentang apa yang kita relakan demi orang lain. Kadang kita menyerahkan sebagian diri kita, bahkan tanpa sadar."

Di lokasi syuting, suasana kekeluargaan begitu terasa. Kru yang lelah duduk melingkar sambil berbagi kopi hangat. Jerome terlihat sesekali tertawa lepas, melepas ketegangan setelah adegan-adegan berat. Lukman, yang sering dianggap figur ayah di lokasi, kerap menyemangati para pemain muda dengan cerita-cerita masa lalunya.

"Saya melihat semangat yang sama seperti ketika saya masih muda dulu," ujarnya sambil tersenyum. "Itu yang membuat saya bertahan. Bukan popularitas, bukan pujian. Tapi karena ada orang-orang yang masih percaya pada cerita."

Perjalanan yang Belum Usai

Hingga kini, detail cerita Kuasa Gelap: Perjanjian Darah masih dijaga rapat. Namun satu hal yang pasti: film ini lahir dari mimpi, air mata, dan kerja keras sekelompok orang yang tak ingin sekadar menghibur. Mereka ingin menyentuh sesuatu yang lebih dalam—tentang rasa takut, tentang kehilangan, dan tentang keberanian untuk bangkit.

Di sudut ruangan, Jerome menatap layar ponselnya. Ada pesan singkat dari ibunya: "Jangan lupa makan, nak." Ia tersenyum kecil, lalu meletakkan ponsel itu dengan hati-hati. Malam masih panjang, dan perjalanan ini masih jauh. Namun bagi mereka yang terlibat, setiap detiknya adalah bagian dari kisah yang layak diperjuangkan.

"Saya hanya berharap," ujar Lukman pelan, matanya berkaca-kaca, "penonton bisa merasakan apa yang kami rasakan. Bahwa di balik setiap cerita yang gelap, selalu ada cahaya yang ingin kami bagikan."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User