Di sebuah studio kecil di kawasan kampus Bandung, sekelompok mahasiswa duduk melingkar mengelilingi satu monitor laptop. Malam itu mereka menonton ulang adegan terakhir film pendek mereka untuk kesekian kalinya. Tidak ada yang bicara. Hanya suara desahan napas dan sesekali tawa kecil ketika adegan kucing tokoh utamanya muncul di layar. Momen sederhana itu, menurut mereka, adalah momen mengharukan yang mengingatkan mengapa perjalanan panjang ini dimulai.
Film berjudul Meong! itu kini membawa kabar yang membanggakan. Karya produksi Lembaga Film Mahasiswa (LFM) Institut Teknologi Bandung tersebut resmi menjuarai festival film internasional, NextScene Kids and Youth Film Festival 2026. Pengakuan datang dari panggung yang jauh lebih luas daripada layar laptop mahasiswa biasa, dan kabar itu pun merambat cepat dari satu asrama ke asrama lain.
Berawal dari Ide Sederhana di Meja Redup
Di balik layar, kisah film ini bermula dari obrolan santai yang tidak pernah direncanakan akan menjadi sesuatu yang besar. Tim produksi mengisahkan bahwa ide awalnya lahir dari kebiasaan mereka melihat kucing-kucing kampus yang berkeliaran di sela-sela jadwal kuliah. Kucing-kucing itu datang dan pergi tanpa pamrih, kadang tidur di atas tas yang tertinggal, kadang mengikuti mahasiswa dari satu gedung ke gedung lain.
Dari pengamatan itu tumbuh sebuah cerita tentang persahabatan, kehilangan, dan keberanian untuk pulang. Para mahasiswa menulis naskah berulang kali, membuang adegan yang dianggap terlalu rumit, lalu menyusun ulang dengan bahasa visual yang lebih hangat dan jujur. Prosesnya tidak selalu mulus. Ada malam-malam ketika dialog terasa datar, ada pula hari ketika jadwal ujian membuat mereka harus menunda syuting hingga berminggu-minggu.
Satu anggota tim mengisahkan bahwa yang membuat mereka bertahan adalah rasa memiliki terhadap cerita itu. "Kami tidak sedang berjuang untuk membuat film yang sempurna," katanya, "kami hanya ingin cerita kecil ini sampai kepada orang lain."
Proses produksi berjalan dengan peralatan seadanya. Kamera dipinjam, lampu disusun dari perangkat sederhana, dan lokasi dipilih dari sudut-sudut kampus yang akrab bagi mereka. Persis di ruangan berukuran tiga kali empat meter itulah adegan-adegan penting disunting, dari potongan pertama hingga akhirnya menjadi karya utuh yang layak dikirim ke festival.
Ketika Kucing Kampus Jadi Cerita Dunia
Yang membuat Meong! istimewa bukan hanya jalan ceritanya, melainkan cara film itu memperlakukan karakter utamanya. Sang kucing tidak digambarkan sebagai sekadar pelengkap lucu. Ia menjadi cerminan dari perasaan yang sering dialami anak muda: rasa ingin diterima, kegelisahan ketika harus berpisah, dan harapan untuk menemukan tempat kembali.
Tim menyusun visual dengan nuansa lembut, membiarkan jeda percakapan mengalir natural, dan membiarkan suara lingkungan kampus ikut bercerita. Hasilnya adalah karya yang terasa dekat bagi siapa pun yang pernah hidup di lingkungan kampus, sekaligus mudah dipahami penonton dari latar budaya berbeda. Di sanalah letak kekuatan film ini, kisah yang sederhana justru menembus batas.
Keberhasilan di NextScene Kids and Youth Film Festival 2026 menjadi semacam jawaban atas keraguan yang pernah muncul di awal. Beberapa di antara mereka sempat bertanya-tanya apakah film buatan mahasiswa bisa bersaing di tingkat internasional. Jawabannya kini terpampang jelas, dan kabar itu pun disambut dengan air mata bahagia saat pertama kali diumumkan.
Momen Mengharukan Saat Nama Mereka Disebut
Para personel menceritakan momen ketika nama film mereka disebut dalam pengumuman pemenang. Reaksi pertama bukan teriakan, melainkan hening sejenak, seolah otak mereka butuh waktu untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Baru setelah itu ruangan itu meledak dalam pelukan dan tawa.
Di layar ponsel masing-masing, pesan dari keluarga dan teman berdatangan. Ada yang menulis singkat, ada yang menceritakan betapa bangganya mereka menyaksikan perjalanan anak mereka dari bangku kuliah hingga ke panggung festival luar negeri. Momen mengharukan itu, menurut tim, lebih berkesan daripada piala apa pun.
Kemenangan ini juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain yang masih ragu mengirim karya ke festival. Pesan yang ingin mereka sampaikan sederhana: cerita tumbuh dari hal-hal kecil di sekitar kita, dan tidak ada kisah yang terlalu sederhana untuk diceritakan.
Lampu Kampus yang Terus Menyala
Kini, setelah piala diletakkan di ruang sekretariat lembaga, para mahasiswa itu kembali ke rutinitas kuliah mereka. Namun sesuatu telah berubah. Mereka membawa bukti bahwa perjuangan panjang, sunyi, dan penuh kompromi bisa menghasilkan sesuatu yang menyentuh banyak orang.
Kisah Meong! mengingatkan kita bahwa inspirasi tidak selalu datang dari tempat megah. Kadang ia datang dari seekor kucing yang menyeberang halaman kampus, dari teman yang bertahan di ruang edit tengah malam, dan dari mimpi sederhana untuk membuat orang lain tersenyum lewat layar.
Di sudut studio yang kini kembali sunyi, monitor masih menyala. Di sudut itu, perjalanan berikutnya mungkin sudah menunggu untuk dimulai.
Comments (0)