Oct 10, 2026
entertainment

Ketika Deodoran Berpindah Fungsi: Kisah di Balik Tren Kecantikan yang Mengundang Tanya

Di sudut sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di kawasan Depok, Jawa Barat, seorang perempuan bernama Sari duduk di depan cermin lipat. Tangannya menggenggam sebuah deodoran roll-on, tetapi bukan untu...

Ketika Deodoran Berpindah Fungsi: Kisah di Balik Tren Kecantikan yang Mengundang Tanya

Di sudut sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di kawasan Depok, Jawa Barat, seorang perempuan bernama Sari duduk di depan cermin lipat. Tangannya menggenggam sebuah deodoran roll-on, tetapi bukan untuk ketiaknya. Dengan hati-hati, ia mengoleskan benda itu ke dahi dan hidungnya yang mulai berkilau. "Awalnya saya ragu, tapi kata teman-teman di media sosial, ini bisa bikin wajah nggak gampang berminyak," ujarnya lirih, seperti mengisahkan sebuah rahasia kecil yang ia sembunyikan dari ibunya di kampung.

Pemandangan semacam itu rupanya tak tunggal. Di berbagai platform digital, perbincangan soal deodoran yang dialihfungsikan menjadi penyerap minyak wajah terus bermunculan. Ada yang mengaku kulitnya jadi lebih matte sepanjang hari. Ada pula yang justru mengeluh wajahnya perih, memerah, dan berbuntut ruam. Perjalanan Sari pun tak luput dari air mata. Dua minggu mencoba, pipinya yang semula halus justru dipenuhi bintik-bintik kecil yang membuatnya enggan keluar rumah.

Ketika Logika Kimia Berbicara Lain

Di balik tren yang tampak sederhana itu, tersimpan persoalan yang lebih rumit. Seorang dokter spesialis kulit yang enggan disebut namanya menjelaskan bahwa deodoran dirancang untuk area tubuh dengan karakter berbeda. "Ketiak memiliki kelenjar dan ketebalan kulit yang tidak sama dengan wajah. Bahan aktif yang aman di sana belum tentu bersahabat di sini," paparnya.

Produk antiperspiran umumnya mengandung senyawa aluminium yang bekerja menyumbat sementara saluran keringat. Di ketiak, cara kerja itu tergolong efektif. Namun di wajah, menurut sejumlah ahli dermatologi, penyumbatan serupa bisa memicu iritasi, terutama bagi mereka yang memiliki kulit sensitif atau sedang berjerawat. Belum lagi kandungan pewangi dan alkohol yang kerap hadir dalam produk tersebut.

"Kulit wajah itu seperti kertas sutra. Sekali salah bahan, bekasnya bisa lama hilang. Jangan sampai demi tren sesaat, kita mengorbankan sesuatu yang seharusnya dijaga bertahun-tahun."

Ucapan itu seolah mewakili kegelisahan banyak orang. Di grup-grup percakapan ibu muda, kisah seperti Sari menjadi peringatan yang dibagikan berulang kali. Ada yang menyebut dirinya "korban tren", ada yang sekadar menuliskan pesan singkat: hati-hati, jangan sampai nyesel.

Di Balik Layar: Dari Ketiak ke Wajah

Sejarah mencatat, deodoran modern pertama kali dipatenkan pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat, dirancang khusus untuk mengendalikan bau badan. Selama lebih dari seratus tahun, fungsinya tak pernah beranjak dari ketiak. Namun lanskap media sosial mengubah segalanya. Satu unggahan pendek, satu caption berbumbu keyakinan, dan ribuan orang pun berlomba mencoba.

Fenomena serupa pernah terjadi pada pasta gigi yang dipakai untuk jerawat, atau minyak kayu putih yang dioles ke perut untuk meredakan mual. Polanya sama: barang murah, mudah didapat, dan dikemas dalam narasi "trik yang tidak banyak orang tahu". Daya tariknya bukan semata soal produk, melainkan soal harapan bahwa kecantikan bisa diraih dengan cara yang sederhana.

"Saya paham mengapa banyak yang tergoda," ujar Rina, seorang pegawai toko kosmetik di Bandung. "Beberapa pelanggan saya datang, tanya apakah deodoran bisa dipakai di wajah. Saya selalu bilang lebih baik tanya dokter. Tapi kadang mereka tetap beli, karena harganya jauh lebih murah daripada serum penyerap minyak."

Pelajaran yang Datang dari Kulit Sendiri

Setelah tiga minggu berjuang memulihkan kulitnya, Sari akhirnya menemui dokter. Ia diberi salep dan diminta berhenti bereksperimen. Kini, perempuan 24 tahun itu memilih langkah yang jauh lebih membosankan tetapi menenangkan: mencuci muka dua kali sehari dan memakai tabir surya. "Ternyata yang paling sederhana justru yang paling bekerja," katanya, kali ini dengan nada yang lebih tenang.

Kisah Sari mungkin hanya satu dari sekian banyak. Namun dari situ ada pelajaran berharga: tidak semua hal yang viral cocok untuk setiap orang. Tubuh, terutama kulit wajah, memiliki bahasa sendiri yang perlu didengar. Bila ragu, bertanya kepada ahlinya jauh lebih bijak daripada mengikuti arus tanpa berpikir panjang.

Yang paling menyentuh dari perjalanan ini adalah kesadaran bahwa merawat diri tidak harus berarti mengejar setiap tren. Kadang, keberanian untuk berkata tidak pada suatu tren justru menjadi bentuk cinta paling tulus kepada diri sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User