Oct 16, 2026
entertainment

Jejak Panjang Sembilan Jam di Ruang Pemeriksaan

Pintu ruang penyidik itu akhirnya terbuka juga. Sembilan jam lebih Betrand Peto berada di dalam sana, duduk berhadapan dengan deretan pertanyaan yang tak henti mengalir. Ketika langkahnya keluar dari ...

Jejak Panjang Sembilan Jam di Ruang Pemeriksaan

Pintu ruang penyidik itu akhirnya terbuka juga. Sembilan jam lebih Betrand Peto berada di dalam sana, duduk berhadapan dengan deretan pertanyaan yang tak henti mengalir. Ketika langkahnya keluar dari gedung penyidik, ia tidak banyak bicara. Wajahnya lelah, tetapi matanya tajam menatap ke depan. Di belakangnya, sejumlah orang yang setia menunggu sejak sore langsung berdiri menyambut.

Sembilan jam bukan waktu yang singkat untuk sebuah pemeriksaan. Di dalam ruangan berukuran sederhana itu, penyidik melemparkan lebih dari lima puluh pertanyaan. Satu per satu dijawabnya tanpa didampingi kuasa hukum, sebuah pilihan yang ia ambil sendiri. "Saya datang ke sini untuk menjelaskan semuanya," ujar Betrand dengan suara pelan namun tegas, seperti dikisahkan kembali oleh orang-orang yang berada di lokasi.

Peristiwa yang menyeret namanya bermula dari sebuah tempat hiburan di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Malam itu, suasana yang semula riuh berubah menjadi persoalan hukum yang panjang. Tudingan yang beredar begitu cepat, menyebar dari layar ponsel ke percakapan sehari-hari, bahkan sebelum ia sempat membuka mulut. Bagi seorang anak muda yang tumbuh di bawah sorotan kamera, situasi itu bukan sekadar ujian hukum, melainkan juga ujian batin.

“Dia bilang, dia ingin membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Dan itu dia lakukan malam ini,” kata seseorang yang menemani proses pemeriksaan, matanya berkaca-kaca.

Menunggu di Balik Pintu yang Tertutup

Di luar ruang pemeriksaan, suasana berjalan lambat. Ada yang duduk di kursi panjang sambil menunduk, ada yang mondar-mandir di koridor. Beberapa kali mereka melihat ke arah pintu, berharap ada kabar. Di sudut ruangan yang sederhana itu, kopi yang disajikan sudah dingin tak tersentuh. Sembilan jam menjadi perjalanan panjang yang menguras tenaga dan perasaan.

Betrand disebut-sebut dicecar berbagai pertanyaan seputar kronologi kejadian, siapa saja yang hadir, hingga percakapan yang terjadi malam itu. Ia menjawab dengan detail. Namun yang paling mengharukan, menurut penuturan orang terdekat, adalah ketika ia ditanya soal perasaannya. Ia hanya diam sejenak, lalu berkata bahwa ia ingin pulang dan bertemu keluarganya.

Bantahan yang Datang Setelah Nama Terseret

Usai pemeriksaan, bantahan itu akhirnya disampaikan. Tidak dengan nada tinggi, tidak pula dengan emosi meluap. Ia memilih bicara pelan, memilih berterima kasih kepada penyidik yang telah mendengarkannya. "Saya tidak melakukan apa yang dituduhkan," katanya singkat.

Perjalanan kasus ini masih panjang. Polisi masih akan mendalami keterangan saksi lain, termasuk pihak-pihak yang berada di lokasi. Namun bagi Betrand, malam itu menjadi salah satu momen paling berat dalam hidupnya. Nama yang selama ini dikenal karena senyum dan lagunya, kini harus melewati jalan berbatu yang tidak ia pilih.

“Dia masih anak-anak di mata kami. Dia hanya ingin berkarya,” ujar salah seorang kerabat dengan suara bergetar. Air mata tampak mengalir di pipi orang-orang yang menunggunya.

Ketika Sorotan Tak Lagi Sekadar Panggung

Di balik panggung hiburan, ada kehidupan yang penuh tekanan. Betrand tumbuh dari anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu sederhana menjadi figur yang selalu diperhatikan. Setiap gerak-geriknya menjadi bahan pembicaraan. Kini, saat badai datang, ia belajar bahwa ketenaran bukan hanya soal tepuk tangan, tetapi juga soal bertahan saat semua mata menuntut jawaban.

Ia sempat menyebut ingin pulang. “Saya capek, tapi saya harus kuat,” ujarnya singkat.

Beberapa pendukung yang menunggu di luar gedung hanya bisa melambaikan tangan. Mereka tidak meneriakkan apa pun, hanya berharap agar proses hukum berjalan jujur dan berimbang. Bagi mereka, kebenaran tidak perlu dibungkus dengan sensasi.

Malam itu, langkah Betrand meninggalkan gedung penyidik terlihat pelan namun mantap. Ia belum tahu apa yang akan terjadi esok. Yang ia tahu, ia sudah mencoba menjelaskan diri dengan cara yang ia percaya. Dan di tengah sorotan yang tak pernah padam, ia mencoba bangkit dengan caranya sendiri—sederhana, jujur, dan manusiawi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User