Di sebuah ruangan studio yang lampunya mulai redup, Muhammad Irfan Hadari duduk termenung di hadapan mikrofon yang sudah setia menemaninya selama hampir dua dekade. Pria yang akrab disapa Ifan itu menarik napas panjang, lalu mengumumkan sesuatu yang berat: ia resmi mengundurkan diri dari Govinda, band yang membesarkan namanya selama hampir 18 tahun.
Pengumuman itu bukan sekadar kabar perpisahan biasa. Ia adalah akhir dari sebuah perjalanan panjang yang penuh liku, tawa, dan air mata. Ifan mengisahkan bahwa keputusan ini bukanlah hal yang ia ambil dalam semalam. Ada pergulatan batin, ada momen-momen hening yang ia habiskan sendirian, dan ada keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Bertemu di Titik Nol
Perjalanan Ifan bersama Govinda dimulai dari hal-hal sederhana. Ia mengingat bagaimana awalnya ia hanya seorang pemuda yang gemar bernyanyi, lalu bergabung dengan sekelompok musisi yang punya mimpi sama: membuat karya yang bisa menyentuh hati orang lain. Dari panggung kecil di kafe pinggir kota, mereka perlahan membangun nama.
"Saya tidak pernah membayangkan bisa bertahan selama ini," ujar Ifan dengan suara bergetar. "Setiap lagu yang kami ciptakan selalu ada bagian dari diri saya. Govinda bukan cuma tempat saya berkarya, tapi rumah tempat saya tumbuh."
Selama hampir 18 tahun, suara khas Ifan menjadi identitas Govinda. Lagu-lagu mereka menemani pendengar melewati masa senang dan susah. Banyak penggemar yang mengaku bahwa musik Govinda menjadi teman setia di saat mereka patah hati atau kehilangan arah.
Air Mata di Balik Keputusan
Keputusan mundur ini jelas bukan hal mudah. Ifan mengaku sempat menunda pengumuman selama berbulan-bulan karena takut menyakiti orang-orang yang telah mendukungnya. Ia bahkan menyimpan perasaan itu dari rekan-rekannya sampai akhirnya tak lagi bisa dibendung.
"Ada malam-malam saya menangis sendiri, membayangkan harus bilang ini ke mereka. Tapi saya sadar, kalau saya terus diam, saya justru tidak jujur pada perjalanan yang sudah kami bangun bersama," tuturnya.
Ifan menyebutkan bahwa keputusan ini bukan karena konflik atau perselisihan. Ia menegaskan hubungannya dengan personel lain tetap baik. Baginya, ini momen untuk menata ulang arah hidup dan memberi ruang bagi dirinya maupun Govinda untuk bertumbuh dengan cara masing-masing.
"Kadang mencintai sesuatu berarti tahu kapan harus melepas. Saya ingin Govinda tetap hidup, tetap berkarya, meski tanpa saya," ujarnya sambil tersenyum tipis.
Warisan yang Tak Akan Hilang
Meski akan pergi, jejak Ifan di Govinda tidak akan mudah dilupakan. Lagu-lagu yang pernah ia nyanyikan akan terus diputar, dikenang, dan menjadi bagian dari kenangan banyak orang. Ia berharap penggemar tidak berhenti mendukung Govinda, sekaligus memberi ruang untuk perjalanan barunya.
"Untuk teman-teman yang selalu menyanyikan lagu kami di karaoke, yang menangis di konser, terima kasih. Kalian bagian dari kisah ini," kata Ifan dengan mata berkaca-kaca.
Perpisahan ini memang menyentuh, tetapi ia juga mengajarkan sesuatu tentang keberanian. Bahwa pada titik tertentu, seseorang perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang, lalu melangkah ke arah yang baru. Ifan memilih bangkit dengan cara yang berbeda, sementara Govinda terus berjalan dengan cerita yang baru pula.
Di akhir pengumumannya, Ifan berpesan sederhana: "Jangan pernah takut memulai lagi. Mimpi bisa berubah bentuk, tapi semangatnya tidak harus hilang."
Sang vokalis pun pamit, bukan dengan perpisahan yang pahit, melainkan dengan rasa syukur atas hampir 18 tahun yang tak akan pernah tergantikan.
Comments (0)