Di sebuah ruangan yang dipenuhi awak media di Jakarta, Selasa (6/10/2026), Fajar Nugros duduk tenang di hadapan puluhan mikrofon dan kamera. Bukan suasana yang asing baginya. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda saat ia memperkenalkan film terbarunya, Bapak Paling Jujur. Ada keheningan yang menyentuh, seolah setiap kata yang ia ucapkan membawa beban cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar proyek sinematografi biasa.
Fajar mengisahkan bahwa film ini bukan sekadar karya fiksi. Ia lahir dari kegelisahan panjang tentang sosok ayah yang sering kali luput dari sorotan, tentang kejujuran yang kadang justru menyakitkan, dan tentang perjuangan sebuah keluarga yang bertahan dalam kesederhanaan. "Saya ingin menceritakan sesuatu yang jujur, bahkan ketika kejujuran itu sendiri terasa pahit," ujarnya dengan suara yang berat, seolah setiap kata disaring dari pengalaman pribadinya sendiri.
Perjalanan Panjang Sebuah Naskah
Di balik layar, perjalanan film ini tidaklah singkat. Fajar bercerita bahwa naskah Bapak Paling Jujur sempat tertunda selama bertahun-tahun. Ia beberapa kali merasa ragu, apakah cerita ini cukup kuat untuk diangkat ke layar lebar, atau justru terlalu personal untuk dibagikan kepada publik. Namun, momen mengharukan terjadi ketika ia duduk bersama keluarganya, mendengarkan cerita-cerita sederhana tentang pengorbanan seorang ayah yang tak pernah menuntut balas.
"Ada satu malam, saya mendengar cerita dari seseorang yang sangat dekat. Ia bercerita tentang ayahnya yang selalu berkata jujur, bahkan ketika kebenaran itu membuat mereka harus kehilangan banyak hal. Saya menangis malam itu," kenang Fajar. Air mata yang jatuh malam itu, menurutnya, menjadi titik balik. Ia sadar bahwa cerita ini harus disampaikan, bukan untuk mencari sensasi, melainkan untuk menghadirkan kembali sosok-sosok yang mungkin terlupakan.
"Saya tidak ingin membuat film yang hanya menghibur. Saya ingin membuat film yang membuat penonton pulang dan memeluk ayah mereka."
Menghidupkan Sosok yang Sederhana
Dalam proses produksi, Fajar mengaku sengaja menghindari pendekatan yang berlebihan. Ia tidak ingin membangun narasi yang heroik atau dramatis secara berlebihan. Justru sebaliknya, ia ingin menangkap keindahan dalam hal-hal kecil: bagaimana seorang ayah menyisihkan makanan terakhirnya untuk anaknya, bagaimana ia tersenyum meski hatinya lelah, dan bagaimana kejujuran sederhana bisa menjadi warisan paling berharga.
"Kami banyak berdiskusi dengan para pemain. Saya meminta mereka tidak berakting, tapi mengingat. Mengingat ayah mereka, mengingat momen-momen kecil yang mungkin dulu dianggap biasa," tuturnya. Pendekatan ini, menurut Fajar, membuat suasana di lokasi syuting sering kali dipenuhi haru. Beberapa kru bahkan tak kuasa menahan tangis saat adegan-adegan tertentu diambil.
Ia juga menyoroti bagaimana film ini menjadi ruang refleksi bagi banyak orang di balik layar. Ada yang kemudian menelepon ayahnya setelah syuting, ada pula yang menyesali waktu yang telah terbuang. "Film ini bukan hanya tentang cerita di depan kamera. Ia mengubah kami semua yang terlibat di dalamnya," ujarnya penuh syukur.
Inspirasi yang Bangkit dari Kesederhanaan
Menjelang akhir jumpa pers, Fajar berpesan bahwa Bapak Paling Jujur adalah undangan untuk merenung. Ia berharap penonton tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga merasakan denyut nadi kehidupan yang sering kali terabaikan. "Kita hidup di zaman yang serba cepat. Kita lupa bahwa hal-hal paling berharga justru lahir dari kesederhanaan dan kejujuran," katanya.
Ia lalu bercerita tentang mimpinya sederhana: ingin film ini menjadi jembatan bagi banyak anak dan ayah yang mungkin jarang berbicara dari hati ke hati. "Saya tidak tahu apakah film ini akan sukses secara komersial. Tapi kalau ada satu orang saja yang tergerak untuk memaafkan, memeluk, atau sekadar menelepon ayahnya setelah menonton, itu sudah cukup bagi saya," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Di sudut ruangan, beberapa jurnalis tampak terdiam, tersentuh oleh ketulusan yang terpancar dari pria di depan mereka. Fajar Nugros bukan sekadar sutradara yang mempromosikan film. Ia adalah seorang pencerita yang membawa luka, harapan, dan cinta dalam satu bingkai karya. Bapak Paling Jujur mungkin akan menjadi pengingat bahwa di balik setiap sosok yang tampak biasa, tersimpan kisah luar biasa yang layak untuk didengar.
Comments (0)