Oct 16, 2026
entertainment

Di Balik Layar Kontroversi The Assassin(s): Suara Juri BIFF

Di sebuah ruang pers yang lampunya temaram, suasana Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 malam itu terasa berbeda. Bukan sorak-sorai karpet merah yang terdengar, melainkan bisik-bisik tanya ...

Di Balik Layar Kontroversi The Assassin(s): Suara Juri BIFF

Di sebuah ruang pers yang lampunya temaram, suasana Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 malam itu terasa berbeda. Bukan sorak-sorai karpet merah yang terdengar, melainkan bisik-bisik tanya yang menggantung di udara. Sebuah film berjudul The Assassin(s) tengah menjadi buah bibir—bukan karena keindahan sinematografinya semata, melainkan karena gelombang kontroversi yang menghantamnya dari berbagai arah. Di tengah pusaran itu, dewan juri memilih tidak diam.

Mereka buka suara. Bukan untuk membela buta, melainkan untuk mengembalikan percakapan pada hakikatnya: bahwa film adalah ruang dialog, bukan medan perang opini yang saling meniadakan.

Ketika Sebuah Karya Berdiri di Pusaran Perdebatan

Kontroversi yang membelit The Assassin(s) bukanlah hal baru dalam sejarah perfilman dunia. Setiap generasi punya film-film yang awalnya ditolak, dicurigai, bahkan dimusuhi—sebelum akhirnya dipahami sebagai cermin zamannya. Dewan juri BIFF tahun ini tampaknya memahami betul dinamika itu. Dalam sesi jumpa pers yang berlangsung sederhana, tanpa panggung megah, sejumlah juri mengisahkan bagaimana mereka membaca karya tersebut.

“Kami tidak melihatnya sebagai provokasi. Kami melihatnya sebagai pertanyaan,” ujar salah satu juri, dengan nada tenang namun tegas. Kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia keluar dari seseorang yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya di dunia perfilman, menyaksikan bagaimana sebuah karya bisa diangkat atau dijatuhkan oleh narasi di luar dirinya.

Bagi dewan juri, The Assassin(s) adalah potret perjalanan manusia yang rumit. Ada luka, ada pilihan-pilihan sulit, dan ada konsekuensi yang tidak selalu bisa dijelaskan dalam hitam-putih. Mereka menilai film ini bukan dari sudut sensasi, melainkan dari sisi kemanusiaannya. Sebuah pendekatan yang, di tengah zaman yang serba cepat menghakimi, terasa seperti oase.

Suara dari Balik Meja Juri: Membela Hak untuk Bertanya

Yang menarik, pembelaan dewan juri tidak datang dalam bentuk pernyataan defensif. Tidak ada upaya memaksa penonton untuk setuju. Yang ada justru ajakan untuk duduk bersama, menonton ulang, dan merenung. “Film yang baik tidak memberi jawaban. Ia meninggalkan pertanyaan yang membuat kita tidak bisa tidur,” ujar juri lain, mengutip sebuah pepatah lama yang ia yakini sejak muda.

Di balik layar, proses penjurian berlangsung alot. Ada perdebatan panjang, ada perbedaan selera, ada momen-momen ketika ruangan terasa panas karena argumen yang saling beradu. Namun, seperti kisah-kisah yang mengharukan dari festival mana pun, ujungnya bukan kemenangan ego, melainkan kesepakatan bahwa karya seni layak diberi ruang untuk bernapas.

“Kami di sini bukan untuk menjadi hakim yang menjatuhkan vonis, tetapi untuk menjadi penjaga agar suara-suara yang berbeda tetap bisa didengar.”

Kutipan itu melayang di ruangan, menyentuh banyak hati yang hadir. Sebab, di era ketika opini publik bisa bergerak lebih cepat dari pemahaman, membela hak sebuah karya untuk berbicara adalah tindakan yang penuh keberanian.

Perjalanan Sebuah Karya dan Pelajaran bagi Kita Semua

Kisah The Assassin(s) di BIFF ke-31 sebenarnya bukan hanya tentang satu film. Ia adalah cermin dari cara kita memperlakukan cerita—terutama cerita yang tidak nyaman. Budaya kita sering kali tergoda untuk menyederhanakan segalanya: benar atau salah, baik atau buruk, kawan atau lawan. Padahal, kehidupan nyata bergerak di wilayah abu-abu yang jauh lebih luas.

Dewan juri, dengan segala keterbatasannya, memilih untuk berjalan di wilayah itu. Mereka mengisahkan bahwa di balik kontroversi, ada kerja keras banyak orang: sutradara yang begadang menyusun naskah, aktor yang menaruh seluruh emosinya, hingga tim produksi yang bekerja tanpa sorotan. Air mata, kekecewaan, dan harapan bercampur menjadi satu dalam karya yang kini diperdebatkan.

Bagi penonton, momen mengharukan bisa datang dari tempat tak terduga. Bukan dari adegan paling dramatis, melainkan dari kesadaran bahwa di balik setiap film, ada manusia-manusia sederhana yang berjuang menyampaikan sesuatu. Dan tugas kita, sebagai penonton, adalah memberi mereka kesempatan untuk didengar—bahkan ketika kita tidak setuju.

Ketika festival berakhir dan lampu-lampu ruang pers dimatikan satu per satu, pertanyaan itu masih menggantung: apakah kita cukup berani untuk menonton tanpa menghakimi? Dewan juri BIFF telah memberikan jawabannya melalui sikap mereka. Kini giliran kita, para penonton, untuk menuliskan jawaban kita sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User