Oct 10, 2026
entertainment

Alfred Young Sugiri dan Undangan Eropa yang Mengubah Segalanya

Di sebuah ruang latihan berukuran tak lebih dari 4x5 meter, Alfred Young Sugiri duduk di depan piano tua yang sebagian tutsnya sudah mulai menguning. Jari-jarinya bergerak perlahan, menyusuri nada dem...

Alfred Young Sugiri dan Undangan Eropa yang Mengubah Segalanya

Di sebuah ruang latihan berukuran tak lebih dari 4x5 meter, Alfred Young Sugiri duduk di depan piano tua yang sebagian tutsnya sudah mulai menguning. Jari-jarinya bergerak perlahan, menyusuri nada demi nada yang sudah ia hafal di luar kepala. Di luar, hujan turun deras. Tapi di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti. Hanya ada Alfred, pianonya, dan mimpi yang ia rawat sejak kecil.

Mimpi itu kini menemukan pijakan barunya. Pianis muda asal Indonesia ini baru saja menerima undangan resmi untuk kembali tampil dalam konser orkestra dan chamber music di panggung Eropa pada tahun depan. Sebuah kabar yang, menurutnya, datang seperti kejutan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

"Saya benar-benar tidak menyangka. Rasanya seperti baru kemarin saya duduk di bangku sekolah musik, bermimpi bisa bermain di sana. Sekarang pintu itu benar-benar terbuka lagi," ujarnya dengan suara bergetar saat mengisahkan momen mengharukan itu.

Perjalanan Panjang dari Kamar Kecil ke Panggung Dunia

Jalan Alfred menuju panggung Eropa bukan jalan yang mulus. Ia mengisahkan bagaimana masa kecilnya dipenuhi jam-jam latihan yang panjang, sementara teman-temannya bermain di luar. Ada masa ketika ia merasa lelah, bahkan sempat ingin berhenti. Namun ada satu momen yang mengubah segalanya.

Ia masih ingat betul saat pertama kali mendengar rekaman konser piano klasik dari seorang maestro. "Saya mendengarnya di sebuah radio tua milik ayah saya. Saat itu saya menangis tanpa tahu kenapa. Sejak malam itu, saya tahu apa yang ingin saya lakukan seumur hidup," kenangnya.

Sejak saat itu, Alfred berjuang tanpa henti. Ia meraih berbagai penghargaan di dalam negeri, lalu memutuskan untuk menimba ilmu lebih jauh ke luar negeri. Di sana, ia belajar bukan hanya tentang teknik, tetapi juga tentang keberanian untuk mengekspresikan diri melalui musik.

"Musik bukan soal menang atau kalah. Musik adalah cara kita bercerita tentang apa yang tidak bisa kita ucapkan dengan kata-kata," tuturnya.

Undangan konser di Eropa tahun depan bukanlah yang pertama bagi Alfred. Sebelumnya, ia pernah tampil di beberapa kota di benua itu. Namun ia mengaku, undangan kali ini terasa berbeda. Ada beban dan harapan baru yang ia pikul, terutama karena ia akan membawa sejumlah karya yang ia susun sendiri.

Di Balik Layar: Air Mata, Keraguan, dan Dukungan yang Tak Pernah Putus

Di balik setiap penampilan yang memukau, ada cerita yang jarang terlihat. Alfred mengaku, ia pernah berada di titik terendah ketika salah satu konsernya harus dibatalkan mendadak karena masalah teknis. Saat itu, ia merasa semua usahanya sia-sia.

"Saya duduk di belakang panggung, menangis. Rasanya seperti seluruh dunia runtuh. Tapi ada satu orang, ibu saya, yang hanya bilang, 'Kamu sudah sampai sejauh ini, Nak. Jangan berhenti'," ujarnya sambil menahan haru.

Dukungan dari keluarga, kata Alfred, adalah bahan bakar yang membuatnya terus bangkit. Ia juga menyebut para guru dan teman sesama musisi yang selalu mengingatkannya untuk tidak melupakan alasan mengapa ia memulai semuanya.

Menjelang konser di Eropa nanti, Alfred tengah mempersiapkan diri dengan disiplin yang ketat. Ia berlatih enam hingga delapan jam sehari, menyempurnakan setiap detail kecil. Namun ia juga menyadari, persiapan terpenting bukanlah soal teknik semata, melainkan soal ketenangan hati.

"Kalau hati saya tenang, jari-jari saya akan mengikuti. Musik itu lahir dari perasaan, bukan dari rasa takut," ujarnya penuh keyakinan.

Inspirasi bagi Generasi Muda Indonesia

Kisah Alfred menjadi inspirasi bagi banyak anak muda di Indonesia yang bermimpi menekuni dunia musik klasik. Ia kerap berbagi pesan sederhana namun menyentuh kepada mereka yang ingin mengikuti jejaknya.

"Jangan takut untuk bermimpi besar. Tapi juga jangan malu untuk memulai dari hal-hal kecil. Latihan satu jam setiap hari jauh lebih baik daripada menunggu kesempatan besar datang tanpa persiapan," pesannya.

Bagi Alfred, panggung Eropa bukan sekadar tempat untuk memamerkan kemampuan. Ia ingin setiap penampilannya menjadi jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia. Ia berharap, apa yang ia lakukan bisa membuka lebih banyak pintu bagi musisi muda Indonesia untuk tampil di kancah internasional.

Saat ditanya tentang mimpi berikutnya setelah konser tahun depan, Alfred hanya tersenyum. "Saya ingin suatu hari nanti membawa orkestra dari Indonesia ke panggung-panggung besar dunia. Itu mimpi yang mungkin terdengar terlalu jauh. Tapi dulu, bermain di Eropa juga terdengar terlalu jauh bagi saya," katanya.

Hujan di luar ruang latihan mulai reda. Alfred kembali menekan tuts piano, memainkan sebuah lagu yang lembut. Di dalam nadanya, ada perjalanan panjang, ada air mata, dan ada harapan yang tak pernah padam. Sebuah kisah yang mengingatkan kita, bahwa mimpi yang dirawat dengan sabar suatu hari akan menemukan panggungnya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User