Gemerlap TRANS TV Festival Vol. 5 di Lapangan Sunburst BSD

Minggu pagi di Tangerang Selatan terasa berbeda. Di Lapangan Sunburst BSD, tenda-tenda warna-warni berdiri tegak, panggung besar menjulang, dan alunan musik mengalun lembut menyambut ribuan langkah ya...

Gemerlap TRANS TV Festival Vol. 5 di Lapangan Sunburst BSD

Minggu pagi di Tangerang Selatan terasa berbeda. Di Lapangan Sunburst BSD, tenda-tenda warna-warni berdiri tegak, panggung besar menjulang, dan alunan musik mengalun lembut menyambut ribuan langkah yang mulai berdatangan. TRANS TV Festival Vol. 5 resmi dibuka pada 26 Juli, menghadirkan perayaan yang bukan sekadar hiburan, melainkan ruang temu yang merangkul semua orang tanpa sekat tiket masuk. Suasana kekeluargaan langsung terasa sejak gerbang dibuka; anak-anak berlarian riang, para orang tua tersenyum, dan remaja sibuk mengabadikan momen di setiap sudut festival.

Festival tahunan ini seolah menjadi oase di tengah kesibukan kota. Tidak perlu merogoh kocek, masyarakat cukup datang dan menikmati seluruh rangkaian acara yang telah disiapkan. Dari panggung utama hingga pojok kreativitas, setiap meter persegi lahan dipenuhi energi positif yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Panggung Megah yang Menyala Sepanjang Hari

Jantung festival terletak pada panggung utama yang berdiri gagah di tengah lapangan. Di sinilah bintang-bintang yang akrab di layar kaca Trans TV tampil bergantian, menyuguhkan musik, lawakan, dan pertunjukan interaktif. Teriakan histeris penonton pecah saat penyanyi favorit membawakan lagu hits, disusul gelak tawa ketika komedian melempar banyolan segar yang mengocok perut. Bukan hanya penampilan artis, panggung itu juga menjadi wadah bagi komunitas lokal untuk unjuk bakat. Sebuah pengingat bahwa hiburan berkualitas bisa menjadi milik semua orang.

Salah satu momen paling mengharukan terjadi ketika seorang ibu naik ke panggung dalam sesi karaoke dadakan, menyanyikan lagu kenangan untuk almarhum suaminya. Ribuan pasang mata terpaku, beberapa menitikkan air mata. “Ini sebuah kejutan yang tidak pernah saya bayangkan,” ujarnya lirih seusai bernyanyi. Momen itu seketika mengubah riuh rendah menjadi sunyi penuh haru.

Bukan Sekadar Tontonan, Tapi Juga Permainan

Berjalan menjauh dari panggung, pengunjung disambut deretan stan permainan yang membangkitkan nostalgia. Ada balap karung, tarik tambang, hingga lomba mewarnai untuk anak-anak. Di sini, tawa lepas menggema. Dari balik meja pendaftaran, seorang relawan bercerita, “Ini hari pertama saya jadi relawan, dan saya terharu melihat bagaimana hal sederhana bisa menyatukan orang-orang yang tidak saling kenal.”

Bagi keluarga muda, zona ini adalah magnet utama. Aldo (41) yang datang bersama istri dan dua putrinya mengaku sengaja berangkat lebih awal dari Ciputat. “Ini seperti rekreasi impian,” katanya sambil membantu si bungsu menyelesaikan puzzle raksasa. “Murah meriah, anak-anak senang, kami juga jadi bisa bernostalgia. Di era serba digital seperti sekarang, festival begini mengajari anak tentang kebersamaan yang nyata.”

Tak ketinggalan, sudut kuliner menyajikan puluhan pilihan makanan dan minuman khas Nusantara. Aroma sate, bakso, dan jagung bakar berpadu, menciptakan selera yang sulit ditolak. Ibu-ibu PKK setempat turut menjajakan keripik dan kue kering buatan sendiri—bentuk ekonomi kerakyatan yang tumbuh di bawah payung festival.

Ruang Kreatif dan Ekonomi Kreatif

TRANS TV Festival tak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga memberdayakan. Di deretan tenda putih, puluhan pelaku UMKM memamerkan produk unggulan: kerajinan tangan, fesyen, hingga tanaman hias. Pemilik usaha lokal memanfaatkan momen ini sebagai etalase hidup. Ayu (27), perajin aksesoris dari Serpong, mengaku omzetnya naik tiga kali lipat hanya dalam beberapa jam. “Ini berkah yang tidak disangka-sangka. Saya bisa memperkenalkan karya ke lebih banyak orang tanpa sewa lapak mahal,” ucapnya.

Semangat kolaborasi juga terlihat dari hadirnya sejumlah lembaga dan komunitas yang membuka ruang diskusi sambil bermain. Sebuah lembaga amal menggelar donasi buku bekas yang bisa ditukar tanaman. Seorang bapak paruh baya yang telah pensiun, Pak Herman (62), menyumbangkan dua dus buku koleksinya. “Saya ingin buku ini terus hidup di tangan anak-anak,” katanya.

Lebih dari Sekadar Festival

Menjelang petang, langit jingga memayungi lapangan. Rangkaian acara belum usai, namun banyak pengunjung yang memilih duduk di rumput sambil menikmati sisa hari. Di kejauhan, sorot lampu panggung mulai menyala lebih terang. Beberapa remaja berbagi earphone, mendengarkan lagu sambil bersandar di bahu teman. Suasana hangat itu seperti menegaskan bahwa festival ini lebih dari sekadar hiburan—ia adalah perayaan kemanusiaan, tempat siapa pun boleh berbagi tawa, cerita, dan harapan.

Bagi penyelenggara, TRANS TV Festival Vol. 5 merupakan komitmen untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. “Kami ingin menunjukkan bahwa televisi itu tidak hanya ada di kotak kaca, tetapi juga hadir di tengah kehidupan nyata,” ujar salah satu perwakilan manajemen di sela acara. Kalimat itu bukan retorika kosong; ia terbukti dari ribuan wajah yang meninggalkan lapangan dengan senyum puas.

Seorang ibu bernama Sari (39) menyimpulkan perasaannya, “Hari ini saya merasa seperti kembali ke masa kecil, saat semua orang berkumpul tanpa gawai, hanya tertawa dan bercerita. Ternyata kebahagiaan sederhana itu masih ada.” Kalimat sederhana itu mungkin mewakili ribuan pengunjung yang membawa pulang bukan hanya suvenir, melainkan jejak kenangan hangat yang akan tinggal lama di hati.

TRANS TV Festival telah menjadi bukti bahwa di tengah dunia yang bergerak cepat, ruang publik yang inklusif dan gratis masih bisa menjadi wadah kebahagiaan kolektif. Di BSD, pada sebuah Minggu yang cerah, orang-orang menemukan kembali arti kebersamaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User