Evolusi TULOLA: Seni Aksesori yang Bercerita di Kawan Nusantara

Di sudut hall utama acara Kawan Nusantara, puluhan pasang mata terpaku pada deretan aksesori yang tampak seperti lukisan kecil yang bisa dikenakan. Bukan sekadar gelang atau kalung, karya-karya itu se...

Evolusi TULOLA: Seni Aksesori yang Bercerita di Kawan Nusantara

Di sudut hall utama acara Kawan Nusantara, puluhan pasang mata terpaku pada deretan aksesori yang tampak seperti lukisan kecil yang bisa dikenakan. Bukan sekadar gelang atau kalung, karya-karya itu seolah memiliki jiwa sendiri. Inilah TULOLA, jenama artwear yang membawa kisah panjang tentang transformasi budaya ke atas panggung mode kontemporer, melalui koleksi terbarunya bertajuk “EVOLUSI” yang dipamerkan pada 23 dan 24 Juli 2026 di Jakarta.

Koleksi ini bukan sekadar peluncuran produk. Ia adalah perjalanan batin seorang perajin yang merajut benang-benang tradisi dengan imajinasi masa depan. Dalam setiap lekukan logam, anyaman serat alami, dan ornamen yang seakan bergerak, tersimpan narasi tentang bagaimana sebuah warisan bisa berevolusi tanpa kehilangan jati dirinya.

Dari Ritus ke Runway: Jejak yang Tak Putus

TULOLA lahir dari tangan seorang seniman yang menghabiskan masa kecilnya di desa pengrajin tenun di Nusa Tenggara Timur. Ingatan tentang nenek yang menenun dengan gerakan ritmis, diiringi kidung adat, menjadi fondasi bagi setiap kreasinya. Namun, jauh dari sekadar nostalgia, pendiri TULOLA—sebut saja Bunga—memilih untuk membawa kenangan itu melompat ke abad ke-21.

“Saya ingin aksesori bukan hanya mempercantik, tapi juga menjadi medium bercerita. Evolusi adalah kata kuncinya: bagaimana sebuah motif tradisional bisa hidup dalam balutan logam daur ulang, bagaimana teknik ikat bisa diterjemahkan dalam untaian resin transparan,” tuturnya di sela pameran.

Koleksi “EVOLUSI” terdiri dari tiga seri utama: Asa, yang merepresentasikan harapan dengan warna-warna lembut dari pewarna alami; Lentera, simbol pencerahan dengan kilau logam yang dipadukan dengan serat pisang; dan Puncak, puncak transformasi yang berani memadukan kristal sintetis dengan anyaman rotan halus. Setiap seri bukan sekadar aksesori, melainkan babakan kisah yang bisa dikenakan.

Ketika Aksesori Menjadi Ziarah Pribadi

Ada momen mengharukan ketika seorang pengunjung, perempuan paruh baya, berdiri lama di depan etalase seri Asa. Air matanya menetes. Ia kemudian berbisik kepada Bunga, bahwa kalung berbentuk lingkaran dengan tenunan halus itu mengingatkannya pada selendang ibunya yang telah tiada. “Saya seperti dipeluk kembali,” katanya.

Bagi Bunga, momen seperti itu adalah validasi tertinggi. “Karya saya bukan untuk dipajang di balik kaca saja. Ia harus menyentuh, menggetarkan sesuatu di dalam diri orang yang memakainya. Itulah evolusi sesungguhnya: ketika benda mati bisa menghidupkan kenangan dan perasaan,” ujarnya dengan mata berbinar.

TULOLA memang tidak hadir dengan kemewahan yang mencolok. Justru kesederhanaan yang dipilih: kemasan dari kertas daur ulang, tag dari daun lontar kering, dan setiap pembelian disertai catatan kecil tentang siapa pengrajin di baliknya. Sebuah transparansi yang jarang ditemukan di industri mode.

Ruang Baru untuk Artwear Nusantara

Pameran Kawan Nusantara menjadi panggung yang tepat bagi TULOLA untuk membuktikan bahwa artwear Indonesia mampu berdiri sejajar dengan jenama global. Pengunjung tidak hanya datang dari kalangan pecinta mode, tapi juga kolektor seni dan wisatawan mancanegara yang penasaran dengan cerita di balik setiap helai.

“Saya pikir ini hanya aksesori cantik. Ternyata setelah membaca ceritanya, saya seperti diajak berjalan ke masa lalu, lalu meluncur ke masa depan,” kata Markus, seorang turis asal Jerman yang membeli tiga buah bros dari seri Lentera.

Di tengah gempuran produk massal yang kehilangan ruh, TULOLA menawarkan kedalaman. Bunga berharap, evolusi yang ia suarakan bukan hanya tentang teknik atau material, tapi juga cara pandang kita terhadap aksesori. “Aksesori adalah perpanjangan jiwa. Saat Anda memakainya, Anda sedang menyampaikan pesan tentang siapa diri Anda, dan dari mana Anda berasal,” tegasnya.

Koleksi “EVOLUSI” akan terus berlanjut sebagai seri terbatas yang diproduksi hanya berdasarkan pesanan. TULOLA ingin melawan budaya konsumsi cepat. Setiap potong dibuat dengan tangan, dengan waktu yang tidak bisa dikejar mesin. Mungkin itulah alasan mengapa sepasang anting dari seri Puncak membutuhkan waktu hingga dua minggu untuk diselesaikan.

Pameran ditutup dengan sebuah sesi diskusi kecil, tempat Bunga berbagi tentang perjuangannya merintis TULOLA di tengah keterbatasan. Ia bercerita tentang kegagalan pertama saat pewarna alami justru merusak benang, tentang penolakan dari galeri ternama yang menganggap karyanya terlalu etnik, hingga akhirnya ia menemukan komunitas yang merangkul.

“Evolusi tidak selalu mulus. Kadang ia menyakitkan. Tapi dari situlah lahir keindahan,” katanya, menutup obrolan yang disambut tepuk tangan hangat.

EVOLUSI bukan hanya nama koleksi. Ia adalah manifesto bahwa tradisi tidak pernah benar-benar usang, ia hanya berubah bentuk—dan TULOLA ada di garda depan perubahan itu, merajut masa lalu dan masa depan dalam setiap simpul aksesorinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User